Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Makasih ya, Sayang!


__ADS_3

Perlahan Nisa membuka matanya. Pengaruh obat bius sudah selesai. Melihat sang istrinya membuka matanya, Abi terlihat bahagia. Dia langsung menghampiri sang istri yang terlihat masih lemas. Abi langsung menggenggam tangan sang istri.


Saat itu, Azzura dan Azzam sedang tertidur pulas. Untungnya, mereka pintar. Tak rewel sama sekali.


"Mas, gimana anak kita? Apa dia selamat?" Tanya Nisa kepada sang suami. Suaranya masih terdengar lemas.


"Alhamdulillah, selamat dan sehat. Dia sangat cantik dan ganteng. Makasih ya sayang, kamu sudah rela berjuang mempertaruhkan nyawa kamu demi kedua buah hati kita," ujar Abi dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya. Abi melabuhkan kecupan di pucuk kepala sang istri.


"Nisa, makasih ya sudah memberikan mama dan papa cucu yang sehat. Azzura dan Azzam sangat cantik dan ganteng," ucap sang ibu mertua.


"Azzura dan Azzam?" Tanya Nisa. Menunjukkan wajah bingung.

__ADS_1


"Azzura dan Azzam itu, nama kedua adik bayi. Aku yang memberikan nama mereka. Kata Papa, nenek, dan kakek nama itu cocok untuk kedua adik aku. Gimana, bunda setuju enggak?" Ujar Khanza yang ikut bicara.


Nisa pun akhirnya setuju dengan nama yang diberikan Khanza untuk kedua anaknya yang baru lahir ke dunia. Bagi Nisa, nama itu bagus.


Azzura dan Azzam, tampak merengek. Sepertinya dia ingin menyambut sang bunda yang baru saja siuman. Dia sudah tak sabar ingin menyusu dengan sang bunda.


Ibunya Abi langsung menggendong Azzam, dan Abi menggendong Azzura. Meskipun masih terlihat kaku, tetapi Abi berusaha untuk menjadi papa siaga untuk kedua buah hatinya yang baru lahir. Abi pun sudah berjanji dalam hati, kalau sikap dia tak akan berubah kepada Khanza. Dia akan tetap menyayangi Khanza, meskipun bukan anak kandungnya.


"Mas, Azzura sangat mirip ya sama kamu? Dia kamu banget," ujar Nisa. Raut bahagia terpancar di wajah Nisa, dia terlihat bahagia saat memandang wajah Azzura. Anak yang dia nanti selama sembilan bulan.


Ibunya Abi juga meletakkan Azzam di sebelah kanan Nisa. Mereka terlihat nyaman diletakkan di dekat sang bunda. Nisa terlihat bahagia juga, saat memandang wajah Azzam yang wajahnya sangat mirip dengannya. Hidung mancung Azzam persis dirinya.

__ADS_1


Sang perawat datang ke ruang rawat Nisa, untuk memantau apakah Nisa sudah siuman apa belum, dan ternyata Nisa sudah siuman.


"Permisi ibu. Ada keluhannya tidak? Sudah coba miring ke kiri dan ke kanan belum? Si dede dua-duanya coba disusui ya, Bu! Asinya sudah keluar belum?" Tanya sang suster.


"Belum dicoba miring ke kiri ke kanannya. Keduanya belum nyusu, Sus. Dari tadi tidur. Saya juga baru saja siuman. Tapi, ini payu*daranya sakit. Sepertinya perlu di massage, Sus. Kalau keluhan, masih terasa nyeri di bekas sayatan," jelas Nisa.


Suster meminta papanya Abi dan Abi keluar, karena sang perawat ingin massage payu*dara Nisa. Agar ASInya keluar. Akhirnya Abi dan sang papa keluar menuruti permintaan sang suster. Azzam dan Azzura dipindahkan ke dalam box, agar sang suster bisa membantu Nisa untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku.


Nisa mencoba menikmati rasa sakit yang dia rasakan, semua sudah terganti dengan melihat Azzura dan Azzam terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat tanpa kurang satupun. Dia juga bisa memberikan kebahagiaan untuk suami dan kedua mertuanya. Sebagai seorang wanita, dia merasa bangga karena bisa merasakan hamil, melahirkan, dan dia berniat menyusui Azzura dan Azzam selama dua tahun. Dia juga ingin selalu menjadi bunda yang baik untuk ketiga anaknya.


Dia tampak meringis kesakitan, tetapi dia terus berjuang untuk bisa segera normal, dan menyusui kedua buah hatinya agar selalu sehat.

__ADS_1



__ADS_2