
Setelah melahirkan, Mamanya Abi ataupun Abi tak mengizinkan Nisa memasak atau pun melakukan apapun. Nisa hanya diperbolehkan mengurus Azzura dan Azzam yang Nisa lakukan. Mulai dari memandikan, menjemur keduanya saat ada matahari, menyusui, dan juga mengganti popok jika buang air kecil ataupun buang air besar.
Untuk sekarang ini, orang tua Abi masih membantu Nisa mengurus Azzura dan Azzam, saat Abi bekerja. Setiap senin sampai dengan jumat, Abi bertugas mengantar dan menjemput Khanza sekolah. Kecuali, jika dia tak sempat. Barulah sang ART yang akan menjemputnya dengan naik ojek online.
Setiap pagi, Mamanya Abi selalu membantu sang ART untuk memasak. Menyiapkan makanan untuk mereka matang. Untuk makan malam, Abi selalu membeli makanan di luar. Sang mama juga yang selalu direpotkan belanja ke pasar, dan keperluan lainnya. Abi pun selalu menjadi suami siaga, jika sang istri membutuhkan bantuannya.
"Papa berangkat kerja dulu ya! Azzam dan Azzura jangan rewel ya! Kasihan Bunda Nisa," ucap Abi kepada kedua buah hatinya yang begitu menggemaskan. Membuat Abi menjadi bertambah semangat mencari nafkah. Karena ada empat orang yang harus dia nafkahi.
"Kakak, berangkat sekolah dulu ya, Dek! Nanti, kita main lagi ya kalau kakak pulang," ucap Khanza kepada sang adik. Khanza mencium kedua pipi sang adik dengan gemas, membuat kedua adiknya terusik dari tidurnya.
"Hayoloh, adiknya pada bangun. Kakak si, adiknya di ciumi. Jadi bangun deh," protes sang bunda.
"Hehehe, maaf Bun. Habisnya aku gemes banget, Bun. Malahan aku ingin cubit pipinya," sahut Khanza sambil menunjukkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Sudah yuk berangkat, nanti papa kesiangan!" Ajak Abi.
Abi langsung mencium kening sang istri, dan Nisa mencium tangan sang suami.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Khanza sambil mencium tangan sang bunda.
Abi mencium tangan kedua orang tuanya.
"Nek, Khanza sekolah dulu ya. Assalamualaikum." Khanza pamit kepada sang nenek sambil mencium tangan sang nenek. Dia pun melakukan hal yang sama kepada sang kakek.
Kini Khanza dan Abi sudah di lift menuju basement. Abi memilih menggunakan motor sportnya mengantarkan Khanza ke sekolah, kemudian langsung ke rumah sakit untuk bekerja.
Abi dan Khanza terlihat akrab, asyik mengobrol. Tak terasa mereka sudah sampai di basement. Mereka langsung berjalan mencari motor, kemudian mereka langsung naik ke motor.
"Pegangan Kak yang kuat!" Perintah Abi. Abi langsung melajukan motornya menuju sekolah Khanza. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai. Abi menurunkan Khanza di depan gerbang. Khanza mencium tangan sang papa.
Sebenarnya, apartemen yang mereka tempati saat ini sangat strategis. Dekat rumah sakit Abi kerja, dekat sekolah Khanza, dekat Mall, dan tak jauh juga ke pasar.
Abi baru saja sampai di rumah sakit, dia langsung memarkirkan motornya di parkiran dokter-dokter rumah sakit. Setelah itu dia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam, menuju poli.
"Dokter Abi," panggil Reynaldi. Membuat Abi menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Mau apalagi kamu memanggil saya? Saya benar-benar kecewa sama kamu. Diam-diam ternyata kamu berniat untuk merebut Nisa dari saya? Dasar laki-laki tak tahu diri! Kau ini sadar enggak si, apa yang telah kamu lakukan kepada Nisa dulu? Kamu juga sadar enggak si, dengan apa yang kamu ucapkan kemarin kepada Nisa? Nisa itu bukan milik kamu lagi! Dia telah menjadi milik saya, dan bahkan dia baru saja melahirkan buah hati kami. Sampai kapanpun saya tak akan pernah melepas dia. Jangan pernah bermimpi mendapatkan dia lagi! Karena dia hanya mencintai saya, dan bahkan anak kandungmu sendiri saja tak mau memaafkan kesalahan kamu. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi! Saya benar-benar kecewa sama kamu. Saya pikir, kamu sudah menyadarinya. Kalau Nisa telah menjadi milik saya. Tetapi nyatanya, kamu mencoba merebutnya dari saya. Karena mantan istri kamu sudah tak ada 'kan? Makanya, kamu merasa kesepian. Saya peringatkan sama kamu, jangan pernah sekalipun merayu Nisa, dan bahkan merebutnya dari saya! Jika kamu masih berani melakukannya, saya tak akan segan-segan membuat kamu semakin menderita," ucap Abi panjang lebar.
Abi langsung pergi meninggalkan Reynaldi begitu saja. Dia tak butuh penjelasan dari Reynaldi. Reynaldi hanya terdiam lemas.
"Apa yang dikatakan dokter Abi itu benar. Harusnya kamu sadar, kalau kamu sama Nisa tak akan pernah bisa bersama lagi! Nisa telah hidup bahagia dengan Dokter Abi, dan bahkan mereka telah memiliki dua orang anak. Cinta keduanya juga sangat kuat, dan dari segi kehidupan pastinya Nisa tak akan mau hidup dengan orang susah seperti aku," ucap Reynaldi dalam hati.
Kini hanya tinggal penyesalan, Reynaldi tampak melamun. Tatapannya terlihat kosong. Tadi, Abi terlihat begitu marah kepada Reynaldi. Padahal, Abi adalah tipe orang yang sabar. Namun, jika miliknya di usik. Pastinya dia tak akan terima.
Abi berusaha bekerja dengan baik, dia sudah memulai memeriksa pasiennya satu persatu. Sedangkan Nisa saat ini sedang menjemur Azzam dan Azzura di balkon. Nisa sengaja menelanjangi mereka, agar lebih terkena sinar matahari. Nisa begitu sabar mengurus kedua buah hatinya, dia juga selalu bersabar menaham rasa sakit di luka sayatan.
"Nis, sepertinya, kamu tetap harus mencari ART lagi. Kamu pasti repot mengurus Azzam dan Azzura sendirian," ujar Mamanya Abi. Karena kedua orang Abi tak mungkin bisa terus menerus di Jakarta. Setelah acara Aqiqah Azzura dan juga Azzam, kedua orang tua Abi akan kembali ke Yogyakarta.
"Iya, Ma. Mas Abi semalam juga bilang gitu. Dia juga ingin mencari rumah. Tinggal di apartemen, tak cukup tempatnya. Seperti sekarang ini, Harus ada yang tidur di luar. Apalagi nanti kalau ada dua orang ART," ujar Nisa saat menjemur Azzam dan juga Azzura.
"Iya, sih. Mama juga setuju dengan rencana Abi. Paling enggak cari yang tiga kamar atau empat kamar. Biar Khanza ada kamar sendiri," ujar Mamanya Abi.
Setelah selesai berjemur. Kembar di diamkan begitu saja dulu, hanya di tutupi selimut. Tak baik jika langsung mandi. Setiap hari sang ART nyang menyiapkan air pagi sore. Meletakkan ember di atas kursi, agara posisi Nisa tak berjongkok, dan tinggi. Nisa memakai kursi mandi, memudahkan dia untuk mandiin.
__ADS_1
Azzura dan Azzam sudah selesai mandi. Nisa langsung memakaikan pakaian yang sudah dia siapkan. Nisa memakaikan pakaian Azzura, dan Mamanya Abi memakaikan pakaian Azzam.