Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Jatuh Miskin


__ADS_3

Sambil menunggu info dari Sis Feni dan sambil menawarkan ke yang lain, Mama Ratih memutuskan untuk ke kantor polisi untuk menemui sang anak dan meminta waktu penundaan sang anak sampai dirinya mendapatkan uang untuk mengeluarkan sang anak dari penjara.


Mama Ratih baru saja sampai di kantor polisi, dia pergi dengan menggunakan ojek online. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Mama Ratih sampai juga di kantor polisi. Dia langsung bergegas masuk ke dalam.


"Permisi Pak, saya ingin bertemu Reynaldi," ucap Mama Ratih.


"Ibu silahkan tunggu di ruang tunggu ya!" titah sang polisi. Mama Ratih langsung berjalan menuju ruang tunggu, sesuai arahan sang polisi. Menunggu sang anak datang menemui dirinya.


Mama Ratih merasa sedih, saat melihat sang anak datang menghampiri dirinya. Reynaldi tampak berantakan, wajahnya terlihat kusut, tak bersemangat. Reynaldi juga terlihat lebih kurus, dan terdapat gurat hitam di bawah matanya.


"Mama sendiri? Mama kemana saja si? Kok enggak pernah kesini? Gimana nasib Rey ma?" tanya Reynaldi.


"Iya, mama sendiri. Papanya Viona meninggal. Sejak kemarin dia pergi, Viona belum juga kembali ke rumah. Maafkan mama, Rey. Sejak kemarin mama keliling mencari pinjaman untuk mengeluarkan kamu dari penjara. Tapi, sampai saat ini Mama belum juga mendapatkan uang untuk mengeluarkan kamu," sahut Mama Ratih.


"Terus, bagaimana nasib Rey? Apa Rey harus mendekam di penjara bertahun-tahun?" tanya Rey, terlihat kesedihan di wajahnya. Membuat sang mama merasa semakin tak tega.


Mama Ratih menceritakan kepada sang anak, tentang rencana dia menjual rumah yang saat ini mereka tempati.


"Ya Allah Ma, maafkan Rey ya Ma. Gara-gara Rey, mama jadi keikutan susah. Sampai-sampai harus menjual rumah mama," ucap Rey sambil menciumi tangan sang mama.


"Habis mau gimana lagi Rey? Tak ada pilihan lain. Mama sudah berusaha mencari pinjaman kesana kemari, tetapi tak ada satupun yang membantu kita. Termasuk bude dan bulik. Ya sudahlah, biarkan saja. Cukup tahu saja. Punya saudara kaya, tetap saja tak ada artinya. Mama kesal, karena akhirnya mereka malah belain mantan istri kamu. Sudah jelas-jelas dia yang buat kita hidup sengsara," cerocos Mama Ratih.

__ADS_1


"Si Viona juga sama, tak bisa menolong kamu. Ayahnya meninggal, dan katanya usaha suami kakaknya bangkrut atau gimana gitu," jelas Mama Ratih.


Reynaldi tampak menyesal, karena telah membuat mama dan istrinya susah. Reynaldi benar-benar telah melupakan Nisa dan juga Khanza. Padahal, kebersamaan mereka sangat lama. Tetapi, dengan mudahnya Reynaldi melupakan mereka berdua.


"Ya sudah, Mama coba bicara sama polisi yang mengurus kasus kamu dulu. Semoga masalah kamu bisa segera selesai, dan kamu bisa segera dibebaskan," ucap Mama Ratih, dan Reynaldi mengiyakan.


Reynaldi kembali ke sel tahanan lagi. Jam kunjung untuknya sudah habis. Sedangkan Mama Ratih kini sudah menghadap ke polisi yang mengurus kasus Reynaldi.


"Saya mohon Pak, tolong beri saya waktu untuk mencari uang dulu! Saya sedang berusaha dengan menjual rumah saya, tetapi sampai saat ini belum laku juga rumah saya," ungkap Mama Ratih.


"Tidak bisa, Bu! Ini sudah menjadi ketentuan dari pihak kepolisian dan juga pengadilan. Ibu hanya memiliki waktu sampai malam ini. Jika tidak, terpaksa kasus anak ibu kami lempar ke pengadilan," jelas sang polisi. Membuat Mama Ratih terlihat bingung. Tak ada pilihan lagi, dia harus segera menjual rumah itu.


Kini Mama Ratih sudah berada di rumah Sis Feni, sudah berhadapan dengan Sis Feni.


"Bagaimana Sis? Saya butuh uang itu secepatnya," ucap Mama Ratih to the point. Dia mencoba membuang perasaan malunya.


"Gimana ya Sis? Sebenarnya, saya tak butuh-butuh banget rumah Sis. Saya juga sudah bicara dengan suami. Ini, kalau Sis mau ya? Palingan, saya hanya bisa membeli rumah itu seharga 600 juta. Sekarang saya serahkan kepada sis, mau atau tidaknya. Saya tak akan memaksa," ujar Sis Feni.


"Ya ampun, Sis. Masa segitu si? Ini 'kan Saya jual sama perabotannya juga. Saya hanya bawa barang seperlunya saja. Tolong tambahkan Sis! Saya mohon," ucap Mama Ratih penuh iba. Baru kali ini dia memohon seperti ini kepada orang.


Tak ada pilihan lagi, Sis Feni tak mau menambahkan lagi. Karena dia hanya ingin membeli rumahnya saja. Untuk perabotannya, Sis Feni tak butuh. Dia mempersilahkan Mama Ratih jika ingin membawa semuanya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Mama Ratih memutuskan untuk menjualnya. Karena dia sangat membutuh uang itu, untuk menolong sang anak. Mama Ratih benar-benar sudah jatuh miskin. Bahkan untuk membeli rumah yang kecil saja dia tak mampu. Harus terpaksa mengontrak, hidup di kontrakan.


Air mata Mama Ratih tampak menetes satu persatu. Bertahun-tahun dia hidup bergelimang harta, dan tak pernah merasa kekurangan. Namun, pada akhirnya dia harus merasakan di fase paling terendah. Selama ini, mereka masih bisa bertahan. Tetapi, tidak untuk saat ini.


"Maafkan Mama, Pa. Mama terpaksa harus menjual rumah ini, agar Rey bisa bebas dari penjara," ucap Mama Ratih lirih.


Besok pagi dia akan membebaskan sang anak, dan besok pula dia harus membereskan barang-barangnya untuk pergi meninggalkan rumah itu.


Rencananya, Mama Ratih akan mencari rumah kontrakan untuk sementara dia tempati. Sampai Reynaldi mampu membelikan rumah untuknya. Untuk saat ini yang terpenting sang anak bisa dibebaskan dari penjara.


Berbeda halnya dengan Mama Ratih yang sedang bersedih. Nisa dan Abi justru sedang menikmati masa pengantin baru. Saat ini mereka masih menikmati udara malam hari di Malioboro, mereka tengah menikmati angkringan. Menikmati masa pacaran. Mereka terlihat sangat mesra. Nisa berharap, dirinya bisa segera memberikan anak untuk sang suami.


Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya. Tawa riang menemani kebersamaan mereka. Abi mampu mengobati luka yang Nisa rasakan selama ini. Dia sudah melupakan kenangan buruknya bersama Reynaldi. Nisa yakin kalau Abi adalah suami yang baik untuknya.


"Ayo kita pulang! Sudah larut malam, tak bagus angin malam untuk kamu! Oh ya, Khanza sama Bunda belikan makanan," ujar Abi.


"Sepertinya Bunda dan Khanza sudah tidur deh jam segini Mas. Lebih baik kita tak usah beli apa-apa," sahut Nisa.


Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah. Nisa turun lebih dulu, memasuki rumah. Sedangkan Abi harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah mobil selesai terparkir, barulah Abi menyusul sang istri masuk


__ADS_1


__ADS_2