Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Tak Menghargai


__ADS_3

Mama Risma dan sang ART baru saja sampai di rumah Melani, Reynaldi langsung menggendong sang Mama dari mobil, dan membawanya ke kamar sang Mama. Dia meletakkan sang Mama ke ranjang, dengan penuh hati-hati.


"Melani ke mana, Rey? Mengapa Mama tak melihatnya? Apa dia di kamar? Mengapa dia tak keluar menemui Mama? Apa dia tak suka, Mama di sini?" Tanya Mama Ratih kepada sang anak. Tentu saja Rey tak akan menceritakan perasaan kecewanya kepada sang istri.


"Melani lagi ada pertemuan penting, Ma. Dia sedang tak ada di rumah. Enggak kok, Ma! Melanin tak masalah Mama di sini, justru dia yang menyuruh aku membawanya. Hanya saja dia memang sedang sibuk." Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada sang Mama.


"Apa, Melani pergi? Pertemuan apa? Mengapa dia tak mengajak kamu? Kamu itu 'kan suaminya! Apalagi, kalian baru saja menikah. Namanya pengantin baru, pasti maunya nempel terus seperti perangko," ucap sang Mama. Dia merasa ada yang tak beres di rumah tangga anaknya. Terlebih, saat dia melihat wajah Reynaldi yang tak cerah. Seperti orang yang sedang ada masalah.


"Iya, seperti yang aku bilang tadi. Pertemuan ini sangat penting, dan mungkin tentang masalah bisnis. Ya sudah, Ma! Biarkan saja! Aku pun tak ingin ambil pusing! Yang penting bagiku, rumah tangga kami berjalan lancar sampai hari ini," ucap Reynaldi.

__ADS_1


"Syukurlah, jika seperti itu! Mama merasa senang dan tenang mendengar rumah tangga kamu berjalan lancar. Mama doakan, semoga kebahagiaan menyertai rumah tangga kalian. Kalian juga bisa diberikan momongan, sebagai pelengkap di rumah tangga kalian!" ucap Mama Ratih dan diaminkan oleh Reynaldi.


Yang terpenting bagi Reynaldi sekarang, sang Mama Bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Fasilitas di rumah Melani, tentu saja terjamin.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Melani belum juga pulang. Namun, Reynaldi tak mungkin menghubungi istrinya itu duluan. Dia tak ingin Melani merasa kesal, karena dirinya mengganggunya. Hingga akhirnya, dia memilih untuk tidur duluan.


Dia memilih untuk tidak membangunkan suaminya. Dia memilih langsung mandi, membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia langsung memakai lingerie. Dia terlihat begitu seksi. Melani memang selalu seperti itu, setiap harinya. Sejak sebelum dia menikah dengan Reynaldi.


Mendengar ada pergerakan, dan juga langkah kaki. Reynaldi pun perlahan membuka matanya. Tidurnya menjadi terusik. Melani langsung beranjak naik ke ranjang, dan tidur di sebelah sang suami. Membuat Reynaldi berkali-kali menelan salivanya. Melihat tubuh istrinya yang begitu seksi. Tetapi, dia tak mungkin memintanya duluan. Padahal saat itu, miliknya pun sudah menegang.

__ADS_1


"Hei, kok kamu bangun? Keganggu, gara-gara aku ya? Ya sudah, tidur lagi! Aku pun ingin tidur. Tubuh aku terasa lelah, seharian pergi," ucap Melani dengan cueknya. Lagi-lagi tak ada permintaan maaf keluar dari bibirnya. Seakan dirinya tak salah, meskipun pulang terlambat. Bahkan dia tak memberikan kabar kepada suaminya, kalau dia pulang terlambat.


"Iya, kaget aku. Ternyata, kamu. Ya sudah, istirahat! Besok pagi kita 'kan kerja," ucap Reynaldi dan Melani mengiyakan.


Melani sudah memejamkan matanya, dan kini justru Reynaldi yang masih terjaga. Dia menjadi tak mengantuk lagi, dan sekarang dia justru memandang wajah istrinya yang sudah tertidur nyenyak.


"Kamu memang cantik, kaya, dan tubuhmu juga seksi. Tapi sayangnya, aku tak berani meraih kamu. Kecuali, kamu yang memulainya," ucap Reynaldi.


__ADS_1


__ADS_2