
Nisa sudah berdandan cantik, dia sedikit memoles wajahnya dengan riasan natural. Agar wajahnya terlihat lebih cerah, menunjang penampilannya. Dia terlihat anggun dengan balutan busana syar'i, hasil rancangannya sendiri. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, Nisa pergi menuju kantor tempat wawancara akan berlangsung. Nisa sudah mahir menyetir mobil, di sudah terbiasa pergi kemanapun sendiri menggunakan mobil.
Mobil yang Nisa kendarai, sudah memasuki parkiran mobil kantor APINDO cabang Yogyakarta. Setelah memarkirkan mobil, Nisa berjalan ke dalam kantor tersebut.
"Permisi Mba, saya ingin bertemu Bapak Amril atau Ibu Astri. Saya Annisa, sudah berjanji dengan beliau untuk melakukan sesi wawancara," jelas Nisa.
"Oh, ya Bu. Ibu sudah di tunggu di dalam oleh Bapak Amril dan Ibu Astri. Mari ikut saya Bu," ucap sang resepsionis.
Nisa langsung diantarkan ke dalam bertemu mereka, dan langsung di sambut baik oleh mereka.
"Mari Ibu Annisa, silahkan duduk! Sebentar saya panggilkan Bapak pimpinan ya Bu, beliau ingin bertemu Ibu," ucap Amril.
Amril langsung memanggil Ketua pimpinan Asosiasi Pengusaha Indonesia cabang Yogyakarta, sedangkan Nisa di temani oleh Astri.
"Assalamualaikum." sapa sang ketua asosiasi.
"Waalaikumsalam, Bapak," sahut Nisa.
"Bagaimana Bu kabarnya? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat, Bapak."
__ADS_1
Mereka melakukan perbincangan, sambil menunggu tim wartawan dari surat kabar dan juga wartawan berita untuk televisi. Nisa terlihat sedang mempelajari pertanyaan-pertanyaan apa yang akan ditanyakan pada sesi wawancara.
Untungnya, acara wawancara bukan acara langsung yang di tayangkan di televisi. Nisa merasa gugup, karena ini adalah hal pertama kali dalam hidupnya. Suatu kebanggaan baginya.
Acara wawancara akan di mulai. Tim wartawan dan fotografer sudah berkumpul. Mereka sempat melakukan pemotretan pada Nisa.
"Ibu cantik sekali, pasti setelah ini akan banyak tawaran endorse busana muslim atau kosmetik. Ibu bisa jadi model iklan atau mungkin bermain film, kalau ibu minat," puji sang makeup artis. Nisa di rias terlebih dahulu sebelum melakukan sesi wawancara.
"Mba bisa saja. Saya tak mahir berakting Mba. Saya juga tak minat jadi artis, saya lebih senang jadi seorang pengusaha dan designer," sahut Nisa sambil tersenyum.
"Percuma saja Mba, Mba memuji saya. Buktinya mantan suami saya selingkuh dengan wanita lain, dan dia rela kehilangan saya. Untungnya Allah sayang sama saya, memberikan saya suami yang lebih baik dari mantan suami saya," ucap Nisa dalam hati.
Nisa sudah terlihat cantik dan begitu memukau, dia begitu bersinar seperti sebuah bintang yang menerangi di kala malam. Aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Nisa terus tersenyum, ketika melakukan sesi wawancara.
"Motivasi saya saat pertama kali berniat membuka usaha yaitu tentu saja untuk bisa bertahan hidup dan membahagiakan anak semata wayang saya. Kebetulan saya dulu sempat berpisah dari suami saya yang dulu, dan saya harus berjuang untuk membesarkan anak saya sendiri. Tentu saja hal yang tak mudah bagi saya, untuk menjadi seorang single parent. Disitulah saya bertekad untuk maju, mengangkat derajat saya. Agar saya bisa menyekolahkan dan membesarkan anak saya. Kebetulan juga almarhumah ibu saya seorang penjahit, saya pun sedikit-dikit mengerti tentang pekerjaan designer. Alhamdulillahnya, sahabat saya mau menolong saya, dengan memberikan saya pinjaman uang untuk modal usaha. Saya mencoba merintis usaha dari 0 dengan membuka konveksi home industri. Saya mengontrak sebuah rumah untuk dijadikan tempat tinggal, sekaligus tempat usaha. Saya berjuang keras, hingga akhirnya saya bisa menikmati hasil jeri payah saya dulu saat sekarang, dan berbuah sangat manis. Jujur, saya tak pernah menyangka bisa mendapatkan gelar sebagai pengusaha wanita terbaik. Karena bagi saya, banyak di luaran sana yang lebih hebat dari saya," ungkap Nisa.
"Bagaimana kehidupan Ibu saat ini? Pastinya sangat tak mudah bagi Ibu melewati semuanya, hingga kini Ibu berhasil mencapai puncak tertinggi di dalam usaha ibu?" tanya sang wartawan lainnya.
Nisa menjelaskan, kalau dia merasa bersyukur, karena kehidupan dia saat ini tentu saja sangat berbeda. Dia bisa memiliki segalanya, tak lagi kekurangan dalam hal ekonomi. Nisa menceritakan juga, kalau dia bersyukur telah mendapatkan pendamping hidup kembali, dan mengatakan kalau saat ini dia sedang mengandung anak kembar. Kebahagiaan yang tak terkira di hidupnya, setelah pengkhianatan dan penderitaan yang dia rasakan sebelumnya. Nisa juga memuji sang suami, dia merasa beruntung mendapatkan suami yang luar biasa.
Para wartawan juga bertanya tentang usaha yang Nisa jalankan saat ini. Nisa menceritakan kalau saat ini dia memiliki sebuah pabrik garment dan juga usaha konveksi home industri. Produk usahanya kini sudah tersebar hingga ke tingkat Internasional. Dia juga mendapatkan pesanan dari luar negeri. Hal ini atas bantuan sahabatnya yang bernama Fina.
__ADS_1
"Terima kasih ya Ibu Annisa atas waktunya, sudah memberi kesempatan kepada kami untuk melakukan sesi wawancara. Semoga usaha Anda semakin sukses dalam mempromosikan produk dalam negeri hingga ke Internasional," ucap Ketua APINDO.
Pihak wartawan dan fotografer dari stasiun TV mengabadikan foto Nisa saat menerima penghargaan sebagai penguasa wanita terbaik.
"Dua hari lagi berita ini akan di tayangkan di stasiun TV, pukul 12.00 siang," ucap Amril dan Nisa mengiyakan.
"Ini bingkisan untuk Ibu Annisa, semoga bermanfaat untuk pengembangan usaha Ibu Annisa. Mohon di terima, meskipun nominalnya tak seberapa. Ini piagam penghargaan untuk Ibu Annisa," ucap sang Ketua Asosiasi sambil memberikan amplop berisi uang dan juga sebuah sertifikat.
Setelah acara pertemuan selesai, Nisa langsung pamit pulang. Nisa sudah berada di mobilnya, dan hendak menghidupkan mesin mobilnya. Namun, ponselnya berdering. Dia langsung mencari keberadaan ponselnya di dalam tasnya.
"Mas Abi?" gumam Nisa, saat melihat nama suaminya yang terpampang di layar ponselnya. Nisa langsung mengangkat panggilan telepon dari suaminya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas," sahut Nisa.
"Kamu dimana? Bagaimana wawancaranya? Lancar? Maaf aku baru sempat menghubungi kamu, tadi sibuk banget. Aku baru selesai tugas di poli," ujar Abi.
"Iya Mas enggak apa-apa aku mengerti. Aku baru mau pulang, ini sudah di mobil. Alhamdulillah wawancaranya berjalan lancar, dan alhamdulillah juga aku dapat uang sepuluh juta dari pihak APINDO. Lumayan buat nambah-nambah modal usaha. Sebenarnya, sudah mendapatkan penghargaan saja aku sudah bersyukur banget. Eh Allah menambahkan nikmat lagi untuk aku. Untuk tayangan di TV, dua hari lagi insyaallah di tayangkan di stasiun TV 1, Berita di liputan, dan juga seputar Indonesia jam 12.00 siang," sahut Nisa.
"Wah hebat dong, istri aku jadi artis. Mas yakin mantan suami kamu dan mantan mertua kamu pasti sangat menyesal, kalau melihat wanita yang dia hina dan buang. Kini menjadi orang yang sukses. Tapi Mas bersyukur si, kalau dia enggak seperti itu, Mas enggak akan bisa menikah sama kamu," ujar Abi di akhiri dengan terkekeh.
__ADS_1