Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kepindahan Nisa Ke Jakarta


__ADS_3

Hari ini Abi, Nisa, dan juga Khanza akan berkunjung ke rumah orang tua Abi. Untuk membicarakan masalah kepindahan Abi ke Jakarta. Sebenarnya Abi merasa berat jauh dari orang tuanya, inilah pertama kalinya dia meninggalkan kota Yogyakarta, kota kelahirannya.


"Assalamualaikum." Nisa mengucap salam. Abi pun ikut turun untuk membuka pintu pagar agar sang istri dan anaknya bisa masuk. Abi sudah memarkirkan mobilnya di depan pagar panjang rumahnya.


Sang ART keluar untuk menyambut kedatangan sang anak majikannya.


"Mbok, Mama dan Papa ada?" Tanya Abi kepada sang ART.


"Ada di dalam Den, lagi pada makan," sahut Mbok Darmi.


Nisa dan Abi mengucap salam kembali. Mereka langsung masuk ke dalam rumah menghampiri kedua orang tua Abi yang sedang makan di ruang makan.


Kedua orang tua Abi langsung menyuruh mereka untuk makan. Sebenarnya Nisa sempat menolak, karena perutnya masih terasa kenyang. Tetapi sang ibu mertua, memaksa dia untuk makan.


"Ayo, Nis makan yang banyak! Wanita hamil biasanya cepat lapar, apalagi kamu sedang mengandung dua orang anak. Selama ini kamu ada keluhan yang dirasa enggak?" tanya sang ibu mertua.


Nisa bersyukur karena memiliki mertua yang begitu perhatian kepadanya. Dia juga bersyukur, karena kehamilannya yang sekarang, tak membuat dirinya lemah yang harus melakukan bedrest.


"Ayo Khanza juga makan yang banyak, biar gemuk," ucap sang nenek. Ibunda Abi


"Kamu kalau libur, nginap disini. Nanti bisa jalan-jalan sama nenek," ujar ibunya Abi lagi.

__ADS_1


Mereka sudah selesai makan, kini mereka sudah berkumpul di ruang tamu untuk mengobrol.


"Ma, Pa, sebenarnya ada hal penting yang ingin Abi bicarakan kepada mama dan papa," ucap Abi mengawali pembicaraan mereka. Wajah kedua orang tua Abi tampak serius, menatap ke arah sang anak.


Abi mulai menceritakan tentang pemindahan dirinya ke Jakarta, dan rencananya Nisa dan Khanza akan ikut bersamanya ke Jakarta.


"Terus usaha Nisa disini bagaimana? Siapa yang harus mengurusnya? Mama kesepian dong jauh sama kalian," ucap sang mama. Satu persatu air matanya menetes, dia merasa sedih kalau harus berpisah sama anak, menantu, dan cucunya.


Abi berpindah tempat duduk, kini duduk di sebelah sang mama. Padahal sejak dulu Abi sudah terbiasa mandiri. Sudah terbiasa tidak tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Entah mengapa kali ini begitu terasa. Sejak Abi menikah dengan Nisa dan hadirnya Khanza, sang mama jadi tak mau jauh dari mereka.


"Abi juga berat meninggalkan mama dan papa. Sungguh pilihan yang sangat berat. Tetapi, ini semua demi kemajuan karier Abi. Paling enggak Abi memiliki pengalaman bekerja di rumah sakit Jakarta. InsyaAllah, hanya 1-2 tahun saja Ma. Setelah itu, kami akan kembali lagi ke Yogyakarta. Nisa pun sebenarnya berat meninggalkan Yogyakarta. Dia sudah merasa nyaman tinggal di kota ini. Terlebih, dia pun harus meninggalkan tempat usahanya. Abi enggak bisa jauh sama Nisa, apalagi sekarang Nisa sedang hamil anak Abi. Abi ingin selalu berperan aktif untuk menyenangkan hati Nisa," jelas Abi. Abi berharap sang mama bisa mengerti keputusannya untuk pindah ke Jakarta.


"Iya deh, mama mengerti. Mama doakan semoga kamu bisa tambah sukses. Agar bisa membahagiakan istri dan ketiga anak kamu. Mama dukung kamu, apapun keputusan kamu," ungkap sang mama. Meskipun dia berkata mendukung, tetapi dia tak bisa memungkirinya kalau dia masih belum rela melepas kepergian anak dan juga menantunya.


Untuk sementara waktu, Abi berencana mengontrak rumah di dekat rumah sakit tempat dia bekerja. Abi akan tetap membawa mobilnya, mobil Nisa, dan juga motor Abi. Motor matic milik Nisa dia tinggal di Yogya untuk inventaris usaha Nisa yang di rumah. ART yang selama kerja dengannya pun akan tetap di percaya untuk mengurus rumah Nisa yang di Yogya. Nisa akan mempekerjakan ART baru yang mau ikut mereka ke Jakarta.


Meskipun nantinya Nisa menjadi ibu rumah tangga lagi, Abi tetap mempekerjakan seorang ART untuk mengantar Khanza sekolah, dan mengurus rumah. Abi tak ingin Nisa capek mengurus rumah sendiri. Nisa juga pastinya akan tetap sibuk bekerja dari rumah, mengontrol semuanya dari jauh. Ada kemungkinan juga, setiap bulannya Nisa akan pergi ke Yogyakarta. Jika kondisi kandungannya memungkinkan untuk perjalanan menggunakan pesawat.


"Rencananya Abi berangkat kapan ke Jakarta?" Tanya sang papa.


"Rencananya lusa Abi berangkat ke Jakarta dulu selama dua hari, karena ada pertemuan dengan pihak manajemen rumah sakit di sana. Setelah semua selesai, dan akan mulai bekerja di sana, Abi baru akan memboyong Nisa sama Khanza ke sana. Nisa juga 'kan perlu mempersiapkan dulu semuanya, mengadakan pertemuan dengan pekerjanya. Selain itu dia juga harus mengurus kepindahan sekolah Khanza ke Jakarta," sahut Abi.

__ADS_1


Setelah selesai berbincang-bincang, Abi, Nisa, dan Khanza pamit pulang. Mereka mencium tangan kedua orang tua Abi secara bergantian.


"Nis, pokoknya kalau kamu perlu sesuatu, kabarin mama saja ya. Mama akan segera kesana," ujar sang ibu mertua dan Nisa mengiyakan. Kedua orang tua Abi pergi mengantarkan mereka sampai depan pagar. Karena Abi memarkirkan mobilnya di luar.


Setelah pulang dari rumah orang tuanya, Abi berniat mengajak istri dan anaknya ke Mall. Sudah sangat lama dia tak mengajak istri dan anaknya.


"Kita mau kemana dulu Mas? Kok arahnya, bukan jalan arah pulang?" Tanya Nisa yang kini menatap ke arah suaminya yang fokus menyetir mobil.


"Kita main dulu ya ke Mall, sudah lama banget Mas enggak mengajak kalian main ke Mall," sahut Abi.


Mobil yang membawa mereka, kini sudah sampai di parkiran mobil Mall. Mereka turun dari mobil, sejak turun Abi langsung menggandeng tangan istrinya mesra. Khanza bersyukur karena akhirnya sang bunda bisa hidup bahagia.


"Khanza mau beli apa? Ada yang kamu inginkan enggak? Papa akan belikan," ujar Abi. Nisa begitu terharu dengan sikap sayang Abi ke Khanza, bahkan Reynaldi ayah kandungnya sendiri tak pernah mempedulikan Khanza.


"Bunda juga mau apa? Kalian mau es krim enggak?" Tanya Abi.


Hari ini Abi ingin menyenangkan hati istri dan anaknya, sebelum dia pergi meninggalkan sang istri ke Jakarta. Mendengar kata es krim, keduanya tentu saja tak akan menolak. Khanza menginginkan es krim strawberry, dan Nisa menginginkan es krim coklat. Abi pun tak mau kalah, dia pun membeli es krim juga, pilihannya jatuh pada es krim coklat. Mereka terlihat bahagia, tawa riang mengiringi kebersamaan mereka hari ini. Meskipun hanya sekadar kegiatan yang sederhana.


"Ada lagi yang kalian inginkan?" Tanya Abi.


"Aku ingin pizza, apa boleh?" Tanya Khanza.

__ADS_1


"Tentu saja sayang. Papa akan membelikannya," sahut Abi. Abi memesan dua loyang pizza untuk dibawa pulang. Karena mereka masih merasa kenyang, kalau makan di sana.


Setelah membeli pizza, mereka memilih langsung pulang. Karena tak ada lagi yang mereka inginkan, baik Nisa maupun Khanza. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.


__ADS_2