Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Mungkinkah?


__ADS_3

Hubungan pernikahan Viona dengan Reza berjalan dengan baik. Reza menerima Viona apa adanya, begitu juga dengan Viona yang menerima Reza apa adanya. Meskipun di hati kecilnya terbesit keinginan dirinya untuk kembali dengan Reynaldi.


Sudah enam bulan lamanya, Viona menikah. Namun, belum juga hamil. Membuat ibu mertuanya sudah mulai merasa tak suka dengan Viona, dan bahkan menyebut dirinya wanita mandul. Hubungan dirinya dengan mertuanya menjadi tak baik.


"Aku sudah tak sanggup, aku ingin kita pisah saja!" ucap Viona diiringi isak tangis. Selama ini dia mencoba untuk menahannya, karena Reza selalu mengingatkan dirinya untuk sabar.


"Sabar, sudah diamkan saja! Yang menjalankan rumah tangga 'kan aku dan kamu. Aku tidak memaksa kamu harus memberikan aku anak secepatnya. Justru aku merasa senang. Kita diberikan kesempatan untuk saling mengenal, dan menikmati masa pacaran. Karena kita dulu tak ada pacaran," ucap Reza mencoba memberi pengertian kepada istrinya yang sedang merajuk.


"Tetapi aku capek dihina terus sama Mama kamu, sampai aku dibilang mandul sama Mama kamu. Makanya aku ingin pisah sama kamu, silahkan kamu cari wanita lain yang bisa memberikan keturunan," protes Viona.


Tiba-tiba saja Viona merasakan sakit di dadanya. Sepertinya penyakit paru Viona mendadak kambuh.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reza. Wajahnya terlihat panik. Merasa khawatir. Belum sempat menjawab, Viona justru jatuh pingsan. Membuat Reza semakin panik.


Viona langsung dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan pertolongan dari tim medis rumah sakit. Dia mengalami sesak nafas dan harus menggunakan oksigen. Reza terus setia mendampingi dirinya, dan juga memberi semangat untuk istrinya.


Viona tersenyum manis saat dirinya membuka mata, Reza sudah ada di sampingnya. Dia merasakan rasa sayang Reza yang begitu besar kepadanya. Berbeda halnya dengan dia yang belum bisa sepenuhnya menyayangi Reza, karena kini hatinya masih ada nama Reynaldi.


Di keheningan malam Viona terbangun dari tidurnya, malam itu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi WIB. Reza sudah tidur dengan lelap di sofa dekat ranjang Viona tidur. Viona terus memandang wajah suaminya dari ranjang dirinya tidur.


"Apakah aku sudah menyayangimu?" tanya Viona kepada hatinya.


"Aku merasakan sakit, kala mendengar ucapan Mama kamu yang begitu menyakitkan. Aku pun takut kehilangan kamu, tetapi aku masih saja mengharapkan laki-laki lain di hidup aku," ucap Viona dalam hati. Dia pun tak tahu dengan perasaan hatinya.


Perlahan Viona merasakan kantuk kembali, hingga dirinya kini tertidur nyenyak. Reza terbangun dari tidurnya, saat alarm di ponselnya berbunyi untuk mengingatkan dirinya untuk salat subuh.


Reza mengambil air wudhu, kemudian salat. Tak lupa dirinya juga mendoakan untuk kesembuhan istrinya. Reza berharap Viona segera sehat kembali.

__ADS_1


"Dasar wanita penyakitan, bisanya hanya menyusahkan anakku saja!" umpat mamanya Reza, saat mendengar Viona masuk rumah sakit. Bukannya menengok, dirinya justru semakin bertambah tak suka.


Reza sudah menenteng dua bungkus nasi uduk lengkap dengan gorengan. Dia menyuruh Viona untuk sarapan terlebih dahulu sebelum minum obat. Saat Reza pergi membeli makanan, Viona terbangun dari tidurnya.


"Ayo makan dulu yuk! Aku sudah beli nasi uduk untuk kita makan, aku takut kamu tak suka makanan rumah sakit," ujar Reza lembut kepada sang istri.


Reza membantu Viona untuk memudahkan Viona makan. Dia telah menyiapkan semua keperluan Viona makan. Reza mencoba menjadi suami siaga yang mengurus istrinya.


Sudah tiga hari Reza menemani Viona di rumah sakit, tetapi hari ini dirinya harus masuk bekerja. Karena pekerjaannya sudah menumpuk. Meskipun dirinya sempat mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit.


"Yang, maaf banget. Hari ini aku harus bekerja. Kamu tak keberatan 'kan aku tinggal?" tanya Reza kepada istrinya.


"Iya tak apa-apa. Katanya nanti Kakak sama Mama mau ke sini menengok aku. Aku juga sudah merasa sehat kok, bisa melakukan semuanya sendiri," sahut Viona.


Kini Reza sudah sampai di kantornya, dia mulai mengerjakan satu persatu pekerjaannya. Sedangkan Viona justru sedang termenung. Merasa kesepian, karena kakak dan mamanya belum datang.


Kini usia kandungan Nisa sudah menginjak delapan bulan, kehamilan kali ini sangatlah berbeda. Dia lebih banyak diam di tempat tidur, tak melakukan aktivasi berat seperti saat hamil Khanza.


Menurut hasil pemeriksaan, Nisa akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Tentu saja membuat Reynaldi begitu senang. Akan memiliki penerus untuknya.


"Dasar manja! Anak itu sejak dalam kandungan harus mulai diajarkan yang baik. Bukan di ajak bermalas-malasan di tempat tidur. Nanti besarnya jadi anak pemalas," sindir Mama Ratih.


Menurut dia, Nisa hanya berpura-pura karena untuk mencari perhatian penuh dari Reynaldi. Bersikap manja, dengan alasan tak boleh capek. Padahal Nisa melakukan itu hanya karena ingin bermalas-malasan.


"Astaghfirullah. Ya Allah tolong kuatkan hamba, untuk melewatkan semuanya," ucap Nisa dalam hati.


Hingga akhirnya Nisa berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Namun, baru saja mencoba bangkit. Dirinya merasakan keram di perutnya, perutnya mengalami kontraksi.

__ADS_1


"Aw, sakit," ringis Nisa.


Nisa memegangi perutnya yang terasa sakit. Hingga akhirnya dia memilih untuk duduk di tepi ranjang. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.


"Bunda kenapa? Bunda sakit?" tanya Khanza kepada sang bunda.


"Perut Bunda sakit," ujar Nisa dengan terbata-bata. Nisa mencoba menarik napas panjang, untuk menenangkan dirinya.


Khanza tampak menyapu keringat di wajah sang bunda. Dia merasa kasihan dengan Bundanya. Dia yakin kalau semua ini karena ulah sang nenek yang membuat bundanya seperti sekarang.


"Nenek, bisa tidak nenek tidak mengoceh terus? Bunda ini sedang sakit, gara-gara Nenek Bunda jadi bertambah sakit," protes Khanza.


"Eh, kamu masih kecil saja sudah berani ya bicara sama orang tua. Dasar tak tahu sopan santun," ujar sang nenek.


"Nenek yang buat Bunda seperti ini. Khanza benci Nenek," teriak Khanza. Membuat Mama Ratih bertambah tak suka.


Nisa mencoba menenangkan sang anak, untuk tidak bersikap seperti itu kepada sang nenek. Sejahat apa pun sang nenek, Bunda Nisa mengajarkan untuk bersikap tak sopan kepada sang nenek.


"Habisnya, Khanza kesal sama Nenek," sahut Khanza.


Reza baru saja sampai di rumah sakit. Tanpa istrinya meminta, dia sudah membelikan makanan untuk sang istri. Dia berharap istrinya akan segera pulih, dan bisa diperbolehkan pulang. Selama Viona di rawat, tak sekali pun sang ibu mertua datang menengoknya. Justru malah menyumpahi menantunya segera meninggal, agar sang anak segera terbebas dari menantunya.


"Bagaimana kondisi kamu hari ini? Tadi Mama sama Kakak jadi datang menengok kamu tidak?" tanya Reza kepada sang istri.


Demi sang istri, dia sampai rela meninggalkan pekerjaannya agar bisa pulang cepat.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Ika Oktafiana

__ADS_1



__ADS_2