
"Sekarang kalian bisa bahagia di atas penderitaan aku dan Khanza. Aku ingin lihat nanti, apa kalian masih bisa hidup bahagia lagi?"
Rasa cintanya kepada sang suami musnah sudah, kini berubah menjadi rasa dendam di hatinya. Dia dan Khanza menjadi korban atas apa yang mereka perbuat.
"Mba, kita mampir ke warung padang dulu beli nasi bungkus," ujar Nisa.
Untungnya dia masih memiliki tabungan dari hasil penjualan perhiasan dan sedikit tabungan yang dia simpan. Tapi sampai kapan semua itu bertahan? Lama kelamaan uang itu akan habis. Nisa memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, untuk merintis usaha kecil-kecilan. Agar dia bisa bertahan hidup dengan Khanza.
Nasi membeli 4 bungkus nasi rames untuk dia, Khanza, Mba Rania, dan juga keponakannya.
"Nis, Mba beli sendiri saja. Mba takut nanti uang kamu habis," ucap Mba Rania sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan.
"Mba tak perlu khawatir. InsyaAllah kami tak kekurangan, kami hanya disuruh berhemat saja. Lagi pula dengan membelikan Mba dan Nabila makan, tak akan membuat aku miskin. Justru, kalau kita berbuat baik kepada orang, Allah akan terus menambahkan rezeki untuk kita. Jadi, Mba tenang saja ya. Doakan Nisa saja terus, semoga rezeki Nisa ada untuk kita semua," ungkap Nisa membuat sang kakak merasa terharu.
Nisa dan Rania sempat mampir ke Indo*mart untuk membeli minuman dan juga cemilan untuk mereka di kosan.
"Bunda belikan es krim juga untuk Khanza dan Nabila. Ini untuk Khanza dan yang satunya untuk Nabila. Tapi ingat, kita makan dulu ya! Setelah itu baru boleh makan es krimnya," ujar Nisa dan keduanya mengiyakan.
Rasanya sulit sekali makan itu tertelan di tenggorokan Nisa, walaupun Khanza tetap terlihat ceria seperti tak ada beban. Padahal Nisa sebagai seorang ibu merasa kasihan melihat Khanza harus merasakan semua ini. Semua karena Ayah yang tak bertanggungjawab, yang bersikap egois mementingkan kebahagiaan diri sendiri.
"Ya Allah, tolonglah hamba dalam melewati semua ini. Semoga aku bisa membahagiakan anakku. Menyekolahkan dia hingga ke perguruan tinggi," ucap Nisa, tanpa sadar air matanya menetes satu persatu, dan lambat laun Nisa justru nangis sesenggukan.
"Ya Allah Bunda, Bunda kenapa? Bunda masih mikirin ayah terus ya? Sudahlah lupakan Ayah, dia tak pantas di tangisi," ucap Khanza.
"Bukan, Bunda nangis bukan karena masih memikirkan Ayah. Tapi Bunda sedih, kenapa ayah tega banget sama kamu. Membuat kamu harus merasakan seperti ini. Doakan Bunda ya Nak, semoga Bunda bisa membahagiakan kamu dan menyekolahkan kamu hingga kamu lulus kuliah," ucap Nisa diiringi isak tangis.
"Iya. Aku yakin kok, kalau Bunda akan menjadi orang yang sukses. Bunda itu wanita yang kuat, yang hebat, Khanza sayang sama Bunda. Bunda tak usah khawatir dengan perasaan Khanza saat ini. Khanza bahagia kok, dan Khanza tak masalah harus tinggal di kosan begini. Semua ini 'kan hanya sementara, aku yakin Allah akan membantu kita melewati masa sulit ini," ujar Khanza yang mencoba menenangkan sang Bunda.
Setelah selesai makan, Nisa dengan Mba Rania akan pergi ke pengadilan agama untuk memasukkan berkas gugatan cerainya kepada Reynaldi.
Di tempat berbeda, Reynaldi justru sedang bertengkar dengan sang mama dan juga Viona. Dia menyesali perbuatannya, yang membuat dia kehilangan wanita yang dia cintai dan juga anaknya.
"Kok kamu jadi menyalahkan kami sih? Viona itu tak salah, kamu saja yang terlalu naif. Sudahlah, tak perlu seperti itu Rey! Lupakan wanita kampung itu, dia itu tak pantas untukmu. Sekarang kamu sudah mendapatkan kembali jodoh kamu. Kamu lihat 'kan kalau Nisa sudah sangat membenci kamu. Lebih baik kamu menata hidup baru kamu dengan Viona, daripada kamu terus menerus memikirkan si wanita miskin itu," ujar Mama Ratih.
__ADS_1
"Iya, Ay. Aku janji akan membahagiakan kamu. Mungkin Allah memang menakdirkan kita untuk bersama. Sekuat apapun kamu ingin meninggalkan aku, pada akhirnya akulah pelabuhan hati kamu," ucap Viona.
Reynaldi tampak berpikir, ada benar juga apa yang dikatakan mama dan juga Viona. Nisa sudah sangat membencinya, dan tak mungkin mau kembali dengannya. Hidup harus terus di jalani, dia tak mungkin hidup dalam keterpurukan seperti ini terus. Semua bukan kesalahan dia, Nisa 'lah yang lebih memilih untuk berpisah dengannya. Dia lebih memilih mencari kebahagiaan sendiri, daripada bertahan demi Khanza.
"Alhamdulillah, berkas sudah masuk. Semoga semuanya di permudah ya Mba. Aku sama Mas Reynaldi bisa cepat bercerai," ucap Nisa. Nisa hanya tinggal menunggu sidang perceraiannya dimulai.
"Jangan lupa nanti malam kamu datang tuh ke rumah bosmu, Mba sudah tak sabar ingin lihat si Reynaldi di pecat. Pasti pada kebakaran jenggot tuh," ujar Mba Rania.
Malam pun tiba, Nisa berniat berangkat sendiri ke rumah Pak Adrian. Selama Nisa dulu bekerja di perusahaan yang sama dengan Reynaldi, Pak Adrian sangat baik dengannya. Sebenarnya Pak Adrian tak setuju Nisa berhenti bekerja, karena dia suka dengan cara bekerja Nisa. Nisa termasuk karyawan yang pintar banyak hal.
Nisa kini sudah sampai di depan pagar rumah Pak Adrian. Nisa mencoba menekan bel rumahnya. Karena rumah Pak Adrian sangat luas, Nisa yakin tak akan kedengaran kalau dia mengucap salam.
"Misi Mba, Pak Adrian ada?" tanya Nisa kepada sang ART.
"Ada Bu di dalam. Ayo Bu, silahkan masuk," ujar sang ART.
Nisa di arahkan duduk di ruang tamu, dan sang ART masuk ke dalam memanggil Pak Adrian. Pak Adrian berusia hampir sama dengan Ayah mertuanya. Dia orang yang baik. Dia memiliki banyak perusahaan, itulah yang menyebabkan dia jarang ke perusahaan. Dia memberikan kepercayaan kepada Reynaldi.
"Ada gerangan apa ini? Reynaldi mana? Kamu sendiri kesini? Kamu itu, setelah berhenti bekerja lupa sama Bapak," ucap Pak Adrian, Nisa hanya membalas dengan senyum getir. Nisa tampak terdiam. Membuat Pak Adrian kini menatap wajah Nisa serius. Dia yakin pasti ada sesuatu yang ingin Nisa katakan, yang membuat Nisa mendatanginya.
"Ayo Nisa, katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan!" ucap Pak Adrian lagi.
Nisa mulai menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya dengan Reynaldi. Nisa mulai menceritakan kalau selama ini Reynaldi kerap berbohong kepadanya dengan alasan pekerjaannya, mengunjungi kantor cabang di daerah lain. Sampai akhirnya Nisa mengetahui sendiri perselingkuhan Reynaldi dengan Viona, dan bahkan Reynaldi sudah menikah siri dibelakangnya. Beralasan tugas kantor ke Medan, padahal dia menikahi wanita itu. Nisa juga menceritakan kalau selama ini Reynaldi sering kali pulang malam dengan alasan lembur.
"Keterlaluan Reynaldi! Bapak benar-benar kecewa sama dia. Terus kalian gimana? Kamu masih bersama dia?" tanya Pak Adrian.
"Tidak Pak. Tadi siang aku baru masukin gugatan cerai ke pengadilan agama. Sejak kemarin aku sudah meninggalkan rumah dan aku sekarang ngekos di dekat sekolah Khanza, sambil nunggu sidang perceraian selesai dulu," ungkap Nisa.
Pak Adrian dapat merasakan apa yang Nisa rasakan saat ini. Dia terlihat sangat kecewa dengan Reynaldi. Pak Adrian sangat mengenal Reynaldi dan juga Nisa. Dia juga sedikit banyak tahu perjuangan Reynaldi untuk mendapatkan Nisa.
"Tadi juga, sewaktu aku ambil motor aku di rumahnya. Sudah ada istri barunya di rumah orang tuanya," jelas Nisa membuat Pak Adrian bertambah geram.
"Terus ibunya mendiamkan saja?" tanya Pak Adrian.
__ADS_1
"Iya Pak, justru dia senang banget. Karena akhirnya aku sama Mas Reynaldi berpisah. Sejak dulu ibu mertua aku tak pernah menyetujui hubungan kami. Dia tak mengakui Khanza sebagai cucunya," jelas Nisa.
"Kok ada ya mertua model seperti itu. Bukannya senang melihat anaknya bahagia. Harusnya di bersyukur memiliki menantu yang baik, cantik, pintar, sholehah, semua yang baik deh di diri kamu," ujar Pak Adrian.
"Jujur, Bapak kecewa banget sama Reynaldi. Padahal selama ini bapak sangat mempercayai dia. Bapak tak menyangka dia bisa tergoda seperti itu. Oh ya istri keduanya namanya siapa?" tanya Pak Adrian.
Pak Adrian terkejut kala mendengar nama Viona di sebut. Pak Adrian tahu banget kalau Reynaldi dulu pernah merasakan patah hati bertahun-tahun dengan mantan pacarnya. Sampai akhirnya Pak Adrian menasehati dirinya untuk membuka hatinya untuk wanita lain, ternyata Pak Adrian juga yang menjodohkan Reynaldi dengan Nisa. Karena bagi Pak Adrian, Nisa adalah wanita yang baik dan bisa dikatakan sempurna.
"Saya benar-benar tak menyangka. Ternyata ini kisah lama belum usai. Ya Allah Reynaldi. Mantan seperti itu kok masih di bela-belain. Ya sudah begini saja Nis, jujur Bapak sangat prihatin mendengarnya. Kamu inginnya Bapak apakan si Reynaldi. Masalah dia membawa-bawa pekerjaannya dalam perselingkuhannya, hal ini membuat Bapak tak terima. Sama saja dia mencemarkan nama baik perusahaan. Bapak akan melakukan tindakan tegas kepadanya," ujar Pak Adrian.
Dengan berat hati Nisa mengatakan kalau dia ingin Reynaldi di pecat. Dia tak sudi pelakor dan ibunya Reynaldi hidup bahagia di atas penderitaannya.
"Baiklah kalau itu mau kamu, insyallah akan Bapak wujudkan. Bapak akan pecat karyawan yang tak jujur. Karena bisa saja dia nantinya akan melakukan kebohongan lainnya. Sabar ya Nis! Semoga kamu dan anak kamu bisa mendapatkan kebahagiaan. Oh ya, kamu mau kerja lagi tidak? Bapak masih membuka lebar untuk kamu. Bapak sebenarnya suka dengan cara bekerja kamu. Agar kamu bisa punya penghasilan untuk kelangsungan hidup kamu dan anak kamu," ungkap Pak Adrian. Membuat Nisa terharu, sampai-sampai dia meneteskan air matanya. Karena dia hidup dikelilingi orang-orang baik.
"Maaf Pak bukannya Nisa menolak. Nisa berencana ingin pulang kampung ke Yogya. Kumpul sama ibu di kampung. Ingin menenangkan diri dulu. Rencananya Nisa ingin memindahkan sekolah Khanza ke sana," jawab Nisa.
"Ya sudah, kamu kerja di kantor cabang sana saja. Kita 'kan punya kantor cabang di sana. Kalau kerja kamu bagus, Bapak akan menjadikan kamu kepala cabang di sana. Bapak titip kantor di sana sama kamu," ujar Pak Adrian.
Nisa langsung mencium tangan Pak Adrian dan mengucapkan terima kasih, karena Pak Adrian begitu baik kepadanya. Namun, untuk sementara waktu Nisa ingin fokus dengan perceraiannya dulu. Dia tak mungkin bisa kerja.
"Ya sudah, terserah baiknya saja. Nanti kalau kamu butuh bantuan Bapak. Tak perlu sungkan-sungkan hubungi Bapak ya. Kamu masih simpan 'kan nomor telepon Bapak? Kalau kamu berminat ingin bekerja lagi, kamu bisa hubungi Bapak ya! Oh ya, kirimin nanti nomor kamu ke Bapak ya. Nanti Bapak kabari kamu kalau Bapak sudah pecat si laki-laki pembohong itu. Sabar ya Nis, semoga Allah memudahkan langkah kamu," ujar Pak Adrian.
Pak Adrian meminta Nisa untuk menunggunya sebentar, tak di duga. Pak Adrian memberikan Nisa uang sebesar 500.000. Nominal yang tak besar, tetapi sebagai bentuk kepeduliannya kepada Nisa.
"Makasih Pak, jujur Nisa berat menerimanya Bapak sudah begitu baik sama Nisa," ungkap Nisa diiringi isak tangis. Dia begitu terharu.
"Sudah gak perlu berterima kasih. Bapak ikhlas membantu kamu. Semoga uang itu bermanfaat, meskipun tak seberapa nominalnya. Tetap semangat, hidup adalah perjuangan. Bapak yakin kalau kamu pasti bisa melewatinya. Jangan putus asa, karena kamu tak sendiri di dunia ini. Ada Allah dan orang-orang yang peduli kepada kamu dan anak kamu," ucap Pak Adrian memberi semangat.
Nisa pamit pulang, dan Pak Adrian mengantarkan Nisa sampai depan pintu rumah. Nisa kembali memesan ojek online untuk kembali ke kosannya.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍
__ADS_1