Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Rencana Pengobatan Ke Singapura


__ADS_3

Melani dan Reynaldi sudah kembali ke Jakarta. Banyak kenangan indah yang mereka ukir di sana. Kebahagiaan selalu menyertai pasangan itu. Keduanya sama-sama saling mencintai.


"Yang, besok aku mau berangkat ke Singapura. Ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan. Kamu urus perusahaan Jakarta saja ya! Kemungkinan satu minggu aku di sana," ucap Melani kepada sang suami. Saat mereka sarapan pagi. Reynaldi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Sudah lama Melani tak pernah ke kantor, dia percayakan perusahaan itu kepada Reynaldi.


"Ya sudah, jika memang harus seperti itu. Tapi ingat, jaga kesehatan kamu ya! Aku tak ingin melihat kamu sakit lagi. Ingat, kamu baru saja pulih. Itu pun kamu ketergantungan obat sakit kepala. Kamu kesana sama siapa? Aku mengkhawatirkan kamu, kalau kamu sampai sakit lagi di sana," Reynaldi berkata kepada sang istri.


Melani tampak tersenyum, karena suaminya terlihat begitu mengkhawatirkannya. Suaminya juga begitu mencintainya. Suaminya adalah sumber kekuatan untuknya. Membuat dia bersemangat untuk sembuh.


"Insya Allah aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. I love you Hubby," ucap Melani yang kini melabuhkan kecupan di pipi suaminya. Reynaldi merangkul tubuh Melani dan mendekap hangat tubuhnya. Mereka tak malu menunjukkan kemesraan mereka berdua di depan ARTnya.


"Jangan nakal ya di sana! Aku pasti merindukan kamu," bisik Reynaldi. Reynaldi melabuhkan kecupan di kening Melani. Netra mereka saling bertemu. Melani berusaha menahan untuk tidak menangis. Sesungguhnya, dia tak ingin berpisah dengan suaminya.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" ucap Reynaldi. Melani langsung mencium tangan Reynaldi, dan Reynaldi memberikan kecupan di pucuk kepala, kening, kedua pipi, dan berlabuh di bibir. Mereka sempat berciuman sebentar.


Reynaldi sudah pergi meninggalkan rumah. Melani langsung menemui ibu mertuanya. Dia melihat kondisi Mama Ratih. Melani kini menjadi menantu yang baik, yang begitu perhatian kepada ibu mertuanya. Dia juga selalu bersikap sopan.


"Mama cepat sehat ya! Biar Reynaldi gak sedih. Besok aku mau ke Singapura, Ma. Kemungkinan, aku seminggu di sana. Aku sendiri pergi ke sananya. Soalnya, Reynaldi gak bisa meninggalkan perusahaan di Jakarta. Doakan aku ya Ma, semoga aku panjang umur bisa mendampingi Reynaldi. Aku juga ingin segera hamil anak Reynaldi," ungkap Melani.

__ADS_1


"Iya, Mama doakan. Semoga kalian bisa segera mendapatkan keturunan. Doakan mama semoga panjang umur, bisa melihat Anak-anak kalian. Kamu masih muda, jalannya masih panjang. Mama ini yang tua, sering sakit-sakitan juga," sahut Mama Ratih.


"Umur, rahasia Allah. Kita gak ada yang tahu. Bisa saja yang muda yang akan lebih dulu pergi meninggalkan dunia. Jika umurku gak panjang, paling tidak aku sudah merasakan bahagianya memiliki suami. Reynaldi suami yang baik. Aku ikhlaskan dia untuk menikah kembali," ucap Melani.


"Kamu kenapa bicara seperti itu, Mel? Pamali, jangan bicara masalah kematian. Berdoa semoga panjang umur," ucap Mama Ratih mengingatkan menantunya.


"Iya. Hanya ingin bicara seperti itu saja. Ya sudah, Mel ke kamar dulu ya Ma. Mau mandi dulu, sama packing buat berangkat besok," ujar Melani yang akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan.


Melani langsung ke kamarnya. Kini dia duduk di tepi ranjang, tatapannya kini mengarah ke figura berisi foto pernikahannya dengan Melani. Dia tampak meneteskan air matanya.


"Semoga aku bisa sembuh, dan kita bisa hidup bahagia selalu. Maaf, jika aku harus menutupi penyakit aku ini. Tadi saja kamu begitu mengkhawatirkan aku. Bagaimana, jika kamu tahu kalau aku mengidap penyakit yang mematikan," ucap Melani lirih.


Besok pagi Melani akan pergi pukul 07.00 pagi dari rumah. Dia akan melakukan penerbangan pukul 09.00 pagi. Melani sengaja berangkat secepatnya, tak ingin menunda penyakitnya terlalu lama. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Melani memutuskan untuk mandi dan sholat Dhuha. Dia sekarang menjadi lebih rajin beribadah. Mengerjakan sholat sunah.


Dia baru saja selesai mandi. Saat keluar dari kamarnya, dia mendengar ponselnya berdering. Hingga akhirnya dia langsung menerima panggilan telepon dari suaminya.


Mungkin, ini yang dikatakan jatuh cinta. Hanya mendengar suara suaminya saja, Melani terlihat begitu bahagia. Entah sampai kapan kebahagiaan itu bertahan. Reynaldi pun tipe laki-laki yang romantis, yang selalu bisa memanjakan istri-istrinya.

__ADS_1


"Aku pulang cepat ya? Kangen. Sebelum kamu pergi meninggalkan aku. Sebenarnya, aku ingin ikut menemani kamu," ucap Reynaldi.


"Next, kalau aku kesana lagi. Sekarang, kita bisa pergi berdua. Kemarin 'kan perusahaan baru ditinggal bulan madu. Ya udah, pulang sekarang aja. Kerjanya besok aja lagi, aku juga 'kan besok gak ada. Lumayan, bisa buat dede bayi dulu," goda Melani. Dia sengaja, agar suaminya pulang cepat.


Sebagai laki-laki normal, tentu saja Reynaldi terpanggil. Mendapat kode dari istrinya. Dia memutuskan untuk pulang, dan berencana melanjutkan pekerjaannya besok.


Kini Reynaldi sudah dalam perjalanan pulang. Melani pun langsung berdandan yang cantik, menyambut kedatangan suaminya. Selagi dia mampu, dia akan berusaha membahagiakan suaminya. Sebelum suaminya datang, Melani meminum obat pereda rasa sakit di kepalanya. Dia tak ingin nantinya mengganggu percintaan mereka nantinya.


Melani sudah terlihat cantik dan seksi. Dia sengaja memoles wajahnya, agar tak terlihat pucat. Reynaldi baru saja sampai di rumah, dia langsung menuju kamarnya. Senyuman melengkung sudut bibirnya, saat sang istri menyambutnya.


"Istri aku cantik banget," puji Reynaldi yang kini tangannya melingkar di pinggang ramping istrinya.


"Aku mandi dulu ya, Sayang! Biar tubuhku bersih," ucap Reynaldi dan mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.


Saat itu jam menunjukkan pukul 14.30. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, Reynaldi pulang dari kantor. Reynaldi baru saja selesai mandi, dia hanya melilitkan handuk di pinggang. Melani terlihat duduk di tepi ranjang.


Mereka sudah tak malu lagi. Reynaldi langsung membuka handuk yang dia kenakan saat itu, dan melemparnya ke sembarangan tempat. Membuat tubuhnya kini sudah dalam keadaan polos.

__ADS_1


Percintaan panas di siang hari pun terjadi. Mereka berdua sudah sama-sama bergairah. ******* dari bibir keduanya mengiringi percintaan mereka. Melani selalu merasa puas, dengan permainan suaminya.


Melani begitu menikmati, saat benda tumpul panjang milik suaminya bermain-main di dalam sana. Reynaldi semaki mempercepat permainannya. Tangannya pun tentu saja tak mau diam, asyik bermain di bukit kembar istrinya. Melani mendapatkan pelepasan lebih dulu, Reynaldi merasakan nikmat, hingga akhirnya dia pun mendapatkan pelepasan. Menyiram rahim istrinya dengan benihnya.


__ADS_2