
Reynaldi memilih untuk naik ke kamarnya. Dia menatap ruangan yang kini terlihat kosong, rasanya begitu hampa. Semua sudah hancur, dia tak aka mungkin bisa melihat keceriaan anak dan juga istrinya.
"Aku rindu kamu, Yang. Rindu yang semua kamu miliki. Biasanya, setiap aku pulang ke rumah. Aku bisa melihat kamu yang sedang mengajarkan Khanza, atau kamu sedang tidur terlelap bersama Khanza. Aku rindu masakan kamu, tubuh kamu. Kamu berhasil membuat aku tak berdaya tanpa kamu. Aku menyesal, aku menyesal," ucap Reynaldi.
Reynaldi tampak mengambil bantal dan menciumnya. Dia kehilangan wanita yang selama ini dengan setia mendampingi dirinya. Wanita yang selalu sabar menghadapi sang mama, dan wanita yang telah membuat dirinya menjadi seorang Ayah. Aku mengkhianati cinta kita, hingga akhirnya aku harus kehilangan kamu. Aku mohon, maaf aku. Kembalilah sama aku, aku janji akan menceraikan Viona.
Nisa tampak mengelus rambut anaknya dengan lembut, Khanza tertidur di pangkuannya saat dalam perjalanan menuju rumah sang kakak.
"Maafkan Bunda, maafkan karena Bunda sudah melibatkan permasalahan orang tua. Bunda sayang sama kamu. Bunda akan menjadi single mom yang kuat untuk kamu," ucap Kinanti dalam hati.
Viona baru saja sampai di rumah Mama Ratih. Melihat sang menantu impiannya datang, tentu saja Mama Ratih langsung menghampirinya.
"Masuk sini Vi," ajak Mama Ratih ke dalam. Mereka memilih mengobrol di ruang tamu.
"Sebenarnya ada apa si Vi? Mama jadi bingung, tiba-tiba wanita itu mau pergi meninggalkan rumah ini dan membawa semua barang-barang miliknya. Dia juga meminta cerai dengan Reynaldi. Apa Nisa sudah mengetahui perselingkuhan Reynaldi dengan kamu?" tanya Mama Ratih membuka pembicaraan.
Viona mulai menceritakan atas apa yang terjadi tadi. Saat kejadian di Mall. Dengan jahatnya Mama Ratih justru tersenyum bahagia mendengarnya.
"Wah, pasti seru banget ya tadi? Akhirnya wanita miskin itu bisa melihat langsung perselingkuhan Reynaldi dengan kamu. Bagus deh, biar dia mikir. Jangan merasa kalau dirinya hebat, dan selalu di agungkan oleh Reynaldi," sahut Mama Ratih dan Viona hanya menganggukkan kepalanya.
"Reynaldi mana, Ma? Kok enggak kelihatan dia?" tanya Viona.
"Itu di atas. Lagi meratapi kepergian istri tercintanya. Ya sudah sana kamu samperin dia, kali aja bisa menenangkan hatinya dan menyadari sudah ada kamu di sisi dia," ujar Mama Ratih.
Mama Ratih mengantarkan Viona sampai dekat tangga. Kemudian Viona menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Reynaldi. Viona memasuki kamar Reynaldi secara perlahan, dia melihat Reynaldi yang sedang membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menatap foto Nisa sedang tersenyum di ponselnya.
__ADS_1
Secara perlahan Viona naik ke ranjang.
"Lupakan dia! Sekarang sudah ada aku yang akan selalu ada untuk kamu," ucap Viona membuat Reynaldi membalikkan badannya yang kini menatapnya.
"Enggak bisa, Ay. Aku cinta dia, tetapi aku juga cinta sama kamu. Kalian adalah pelengkap di hidup aku. Nisa tak terima di madu, dia memilih untuk bercerai. Seharusnya aku tak memulainya, tak mengkhianati dia dengan bermain api dengan kamu. Kini aku merasakan terbakar sendiri. Ya, semua ini salahku. Seharusnya aku tak mempedulikan kamu, disaat kamu menghubungi ke rumah dan mencari aku lagi. Padahal aku sudah memiliki semuanya, aku sudah bahagia bersama Nisa," ujar Reynaldi membuat Viona melongo. Jujur sekali Reynaldi.
"Jadi, kamu menyesali apa yang kamu lakukan selama ini sama aku?" tanya Viona dengan penuh penekanan. Dengan santainya Reynaldi menganggukkan kepalanya begitu saja.
Tentu saja ucapan Reynaldi membuat Viona mengamuk tidak terima. Dia tampak memukul-mukul tubuh Reynaldi meluapkan kekesalannya.
"Cukup Ay, lebih baik sekarang kamu pulang! Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku ingin menenangkan diri dulu. Besok kalau aku sudah merasa tenang, aku akan jemput kamu di rumah mama," ujar Reynaldi
"Apa kamu mau mama dan papa akan memarahi kamu, melihat anaknya pulang sendiri padahal baru kemarin menikah?" ungkap Viona.
Reynaldi tampak terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan istrinya. Apa jadinya, kalau mertuanya tahu permasalahan hal ini.
"Ay, kita ini baru saja menikah. Masa iya aku harus tidur sendiri? Sudahlah Ay, kamu hanya sedikit shock. Aku yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Buka hati kamu seutuhnya untuk aku, Ay!"
"Aku mohon ngertiin aku! Aku butuh waktu. Sekarang kamu pilih, kamu pergi dari sini atau kamu ikuti aturan aku? Kalau kamu merasa keberatan, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini! Aku akan transfer kamu untuk kamu menginap malam ini di hotel," usir Reynaldi.
Dengan perasaan kesal akhirnya Viona pergi meninggalkan Reynaldi.
"Kamu kenapa Vi? Kok kamu mau pergi lagi?" tanya Mama Ratih yang sudah sejak tadi mendengarkan pertengkaran Reynaldi dari bawah.
"Aku mau tidur di hotel, Reynaldi ngusir aku. Katanya dia butuh waktu untuk menenangkan diri," ungkap Viona.
__ADS_1
"Benar-benar keterlaluan ini anak. Sepertinya kamu harus banyak bersabar Vi! Mama yakin Reynaldi akan kebuka hatinya. Dia hanya sedang kaget saja, karena wanita itu pergi meninggalkan dia secara tiba-tiba. Nanti juga lambat laun dia akan melupakan wanita itu," ujar Mama Ratih mencoba menenangkan menantu kesayangan.
"Iya ma. Ya sudah, aku jalan dulu ya ma. Takut kemalaman banget," pamit Viona.
Mama Ratih mengantarkan menantunya sampai depan pintu rumah.
"Semoga Reynaldi segera. melupakan wanita itu, dan hidup bahagia bersama Viona," doa yang Mama Ratih ucapkan.
Nisa baru saja sampai di rumah sang kakak. Perjalanan ke rumah sang kakak membutuhkan waktu yang cukup lama. Melihat sang adik datang dengan membawa barang banyak tentu saja kaget.
"Ayo Nis, masuk!" ujar Mba Rania. Dengan mata mengantuk, Khanza harus bangun dan berjalan masuk ke rumah budenya.
"Khanza bobo lagi sana sama Kak Nabila," ujar Bude Rania.
Mba Rania membuat dulu teh manis hangat untuk adiknya. Dia sengaja tak bertanya apa-apa dulu. Dia membiarkan adiknya tenang dulu. Setelah itu barulah dia menanyakan tentang apa yang terjadi dengan sang adik.
"Maaf ya Mba, Nisa malam-malam menggangu Mba. Nisa soalnya terpaksa, hanya Mba yang Nisa punya disini," ungkap Nisa.
"Iya. Kamu itu seperti sama siapa saja, santai saja Nis," sahut Mba Rania.
Rania sengaja tak memulai pembicaraan, dia ingin adiknya sendiri yang bercerita atas apa yang terjadi. Nisa telah memblokir nomor telepon Reynaldi, agar Reynaldi tak mengganggu dirinya.
Tiba-tiba saja Nisa menangis, ternyata dia tak bisa menahannya lagi.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya temanku
__ADS_1