
Gieno terus berjalan melangkahkan kakinya menuju arah lift mansion mewah itu. Namun, kening laki-laki itu berkerut saat melihat lift itu sedang berjalan. Dengan sabar laki-laki itu menunggu pintu lift terbuka.
Ting …. Pintu lift terbuka memperlihatkan dua sosok wanita berada di dalam lift itu. Salah satu pelayan yang melihat keberadaan Gieno di depan pintu lift terkejut dan terdiam kaku. Sedangkan Gieno nampak menatap Mentari yang ikut berada di dalam lift itu. "Keluar," titah Gieno dengan suara dinginnya.
Dengan tergesa pegawai wanita itu, bergegas keluar dari dalam lift. Begitu pula dengan mentari yang berniat keluar dari dalam lift itu. Namun, dengan cepat Gieno menahan pinggang gadis itu dan kembali membawa Mentari masuk ke dalam lift.
Mentari terkejut dan mendongak menatap wajah datar Gieno. Gieno menunduk saat merasa Mentari mendongak menatap wajahnya. Laki-laki itu menatap wajah mentari begitu intens. Sedangkan Mentari yang tidak kuat beradu tetap dengan mata tajam Gieno, dengan segera mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kau miliki?" celetuk Gieno.
Mentari terkejut dan nampak bingung mendengar kalimat Gieno. Gadis itu kembali mendongak menatap wajah datar Gieno yang saat ini juga sedang menatapnya. "Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti," tanya Mentari bingung.
Tanpa aba-aba Gieno tiba-tiba mengungkung tubuh Mentari. Hal itu jelas saja membuat Mentari terkejut dengan aksi tiba-tiba dari laki-laki itu. Mentari yang saat ini sudah berada di sudut lift hanya mampu terdiam kaku.
Melihat Mentari menunduk, Gieno menarik dagu gadis itu secara perlahan. Sehingga saat ini wajah Mentari tengah mendongak menatap wajah Gieno. "Apa yang ada di dalam dirimu ini, sehingga mampu membuat aku merasa gila?" cetus Gieno.
__ADS_1
Mentari masih diam tidak mengerti maksud dari perkataan Gieno. "A-aku masih tidak mengerti Kak," sahut Mentari ragu.
Ting …. Belum sempat Gieno kembali bersuara. Pintu lift sudah terbuka, menandakan saat ini mereka sudah berada di lantai tujuan. Merasa tidak sabar, Gieno malah mengangkat tubuh Mentari ala koala dan membawa tubuh gadis itu keluar dari dalam lift.
Mentari hanya diam tidak mampu berkata-kata. Gadis itu masih dilanda kebingungan dengan pertanyaan Gieno yang masih belum sampai dalam logikanya. 'Sebenarnya maksud dari kak Gieno ini apa?' batin Mentari bertanya.
Cklek …. Gieno membuka pintu kamar luas miliknya. Laki-laki itu terus membawa tubuh Mentari masuk ke dalam kamar luas itu. Laki-laki itu terus berjalan menuju ke arah ranjang. Setelahnya, secara perlahan Gieno mendudukkan tubuhnya di tepian hamparan empuk itu.
Dengan begitu secara tidak langsung saat ini Mentari sudah duduk di atas pangkuan Gieno, dengan posisi yang sedikit intim. Jujur saja, jantung gadis itu saat ini berdegup sangat kencang merasa ada hal lain dari sifat Gieno saat ini. Apalagi saat ini Gieno nampak masih menatap wajahnya secara intens tanpa berkedip.
Gieno yang sempat melamun tersadar saat mendengar suara pelan Mentari. Laki-laki itu secara perlahan mengusap anak rambut Mentari yang menghalangi pemandangannya. Sedangkan Mentari saat ini semakin menegang di tempat, saat merasakan sentuhan lembut dari iblis gila itu.
'Sepertinya apa yang dikatakan Rangga itu memang benar. Aku sekarang sudah jatuh kepada gadis polos ini. Bahkan keinginanku untuk bercinta pun saat ini sudah begitu merosot jauh,' batin Gieno.
"Ingat ini baik-baik," ucap Gieno tiba-tiba. Mentari yang mendengar suara tegas laki-laki itu menatap wajah tampan Gieno dengan raut serius.
__ADS_1
"Kau … jaga jarak dari setiap laki-laki mana pun. Sebab aku tidak menyukai itu. Jika ada yang bertanya apa hubungan antara kau dan aku. Maka kau tahu harus menjawab apa?" sambung Gieno.
Mentari yang mendengar kalimat Gieno cukup terkejut. Namun, beberapa detik kemudian, gadis itu menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Gieno. "You are my girl," bisik Gieno.
Deg …. Mentari terkejut mendengar bisikan laki-laki itu tepat di daun telinganya. "Ma-maksudnya, Kak?"
Geno menatap mata bulat Mentari, setelahnya laki-laki itu kembali melanjutkan kalimatnya. "Siapa pun yang bertanya nanti, maka kau jawab jika kau adalah gadisku. Mengerti?" tutur Gieno.
Mentari mengangguk kaku menanggapi perkataan Gieno. Gadis itu nampaknya masih merasa bingung dan terkejut mendengar ungkapan tiba-tiba dari laki-laki itu. Selama ini Gieno tidak pernah menekankan dirinya sebagai gadis milik laki-laki itu. Namun, sekarang entah kenapa Gieno menekankan jika dia adalah gadis milik iblis gila.
Perasaan bingung bercampur senang saat ini menguasai dada Mentari. Sejujurnya gadis itu masih merasa tidak percaya dan mungkin merasa jika pendengarannya sedang bermasalah. Namun, kelakuan manja Gieno yang saat ini sedang memeluk tubuhnya erat menyadarkan Mentari.
Dino saat ini tengah memeluk tubuh mentari yang masih berada di pangkuannya. Laki-laki itu merebahkan kepalanya di ceruk leher mentari sambil memejamkan mata. Rasa nyaman dan aman berada di dekat Gieno begitu jelas terasa oleh gadis itu selama ini.
'Aku harap ini semua tidak mimpi,' batin Mentari.
__ADS_1
'Siapa pun itu tidak ada yang boleh memiliki kamu selain aku,' batin Gieno.