
Mentari sedang sibuk memperhatikan jalanan kota di balik kaca mobil. Wanita itu menghela napas berat. 'Aku harus apa sekarang? Menghapus perasaan ini jelas tidak mungkin, setiap hari aku selalu bertemu dengannya. Dia memperlakukan aku dengan baik, meski masih terkesan dingin,' batin Mentari.
Hufft … Mentari kembali menghela napas saat mengingat kejadian tadi malam. Hantinya kembali berdenyut membayangkan itu. 'Aku bingung, sebenarnya dia menganggap aku apa? Dia mengurungku, dia tetap melakukan hal bejat itu di mansionnya. Setidaknya, dia menghargai aku yang pasti akan mendengar itu semua,' sambung Mentari membatin.
Brak …. Lamunan Mentari terputus saat mobil yang ditumpanginya bergetar keras. Mentari menoleh ke sekitar dan terkejut saat melihat sopir mobil menambah kecepatan mobilnya. "Ada apa ini?" tanya Mentari panik.
"Berpeganganlah, Nona. Kita diikuti, saya akan menambah kecepatan mobil," tutur laki-laki itu.
Mentari melotot sambil menelan salivanya kasar. "Diikuti?" gumam Mentari takut.
Gadis itu melirik ke belakang, memang ada beberapa mobil yang terlihat mengejar mereka. "Ya ampun, bagaimana ini?" ucap Mentari panik.
Gadis itu terus berpegangan erat kala laju mobil mulai tidak seimbang. Ada sekitar tiga mobil dan dua motor yang sedang mengejar mereka saat ini. 'Ya Tuhan, lindungilah aku. Aku masih ingin hidup,' batin Mentari ketakutan.
Brum … dor … dor …
Mentari memejamkan matanya kala mendengar suara pistol mulai mengambil alih ruangan bebas itu. Bulu kuduk Mentari berdiri merasa ketakutannya sudah mulai berada di puncak. 'Apa nyawaku sudah hampir habis?' Mentari kembali membatin.
Ckiitt … brak …
Kepala Mentari terhempas ke kursi depan kala mobil yang ditumpanginya menabrak sesuatu di depan sana. Mata Mentari mulai buram merasakan pusing di kepalanya. Sebelum kesadaran gadis itu benar-benar hilang, dia masih sempat mendengar percakapan orang yang menariknya keluar dari mobil. "Bawa dia, Ketua pasti akan sangat senang dengan ini," ucap seorang laki-laki.
...*****...
__ADS_1
"Mana?" tanya Januar.
"Ada di dalam, Ketua," sahut seorang laki-laki.
Januar tersenyum miring. "Bagus." Setelah mengucapkan itu, Januar melangkah ke arah sebuah pintu.
Cklek …. Januar menatap tubuh seoranh gadis yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang. Laki-laki itu mendekat dan tersenyum miring menatap wajah cantik Mentari yang memiliki sedikit bekas darah di kepala gadis itu. "Cantik juga, tapi … tubuhnya tidak terlalu berisi. Kenapa iblis gila itu sampai mengurungnya?"
Januar menyentuh wajah Mentari yang masih memejamkan matanya. "Mungkin jika diajak bertempur dia menyenangkan." Januar tersenyum miring.
"Ketua," seseorang memanggil Januar.
"Ada apa?" tanya Januar.
Januar menyeringai licik. "Bagus, sekarang kau urus selebihnya. Kita lihat pergerakan iblis itu," pungkas Januar.
"Wanita ini akan kita apakan, Ketua?" tanya laki-laki itu.
"Wanita ini urusanku." Januar menatap Mentari sambil menyeringai jahat.
"Dia memiliki luka di kepalanya, apa perlu diobati?" tanya laki-laki itu lagi.
"Huh, untuk apa? Biarkan saja," sahut Januar.
__ADS_1
...*****...
"Jadi aku boleh memanggil dengan sapaan kamu, bukan?" tanya Naraya.
"Silakan," sahut Gieno singkat.
Naraya tersenyum senang mendengar jawaban Gieno. 'Suatu kemajuan yang bagus,' batin Naraya kesenangan.
"Ekhm … kamu juga bisa memanggilku dengan Naraya saja. Supaya kita lebih akrab lagi." Naraya tersenyum manis ke arah Gieno yang masih menatapnya datar.
Tring … tring … tring …
Gerakan mulut Naraya terhenti saat tiba-tiba suara ponsel Gieno berdering cukup nyaring. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan mengernyit saat nama Melvin tertera di layar ponselnya. Tidak biasanya laki-laki itu menelepon, jika tidak dalam kondisi genting. "Apa?" ucap Gieno langsung.
"Kau ada menyuruh anggota Delta Zero lima kesuatu tempat?" tanya Melvin.
Kening Gieno mengernyit singkat. "Memangnya kenapa?" ucap Gieno balik bertanya.
"Mobil dengan seri DZ5U baru saja meledak di tepian Jalan Arya Guan," papar Melvin.
Alis Gieno menukik tajam, setelahnya mata laki-laki itu motot tajam saat mengingat sesuatu. "Bangsat! Bagaimana dengan penumpangnya?" tanya Gieno tertahan.
"Satu orang ditemukan meninggal, sudah hampir menjadi abu," jelas Melvin. Deg …. Detakan jantung Gieno seakan terhenti seketika mendengar penjelasan Melvin.
__ADS_1