Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
49. Tidur Nyaman


__ADS_3

Gieno yang sedang fokus dengan ponselnya menunduk saat tidak lagi merasakan pergerakan dari Mentari. Laki-laki itu menatap wajah damai gadis polos yang berada di dalam pelukannya. Mentari tertidur, terlihat begitu nyenyak dan nyaman.


Secara perlahan Gieno mencoba melepaskan pelukan tangan Mentari dari pinggang kekarnya. Laki-laki itu bergerak begitu pelan, takut membangunkan gadis itu. Belum lagi dengan infus di tangan Mentari membuat ruang gerak Gieno begitu terbatas. "Astaga, sejak kapan aku menjadi seperti ini. Memikirkan orang lain?" guman Gieno merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Jangankan orang lain, pikiran laki-laki itu sendiri merasa aneh dengan tingkahnya. Laki-laki yang begitu egois, biasa melakukan hal tanpa dipikir dan tanpa memikirkan orang lain. Sekarang malah begitu terlihat hati-hati, demi seorang gadis. Gieno menghela napas pelan saat pantatnya mulai bergeser.


Grep …. Pergerakan kedua dari tubuh Gieno, Mentari semakin mengeratkan pelukannya. Hal itu membuat Gieno mulai kesal. "Ck, bagiamana aku bisa turun kalau seperti ini?" gumam Gieno.


Gieno mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Yezo yang masih berada di luar ruangan itu. "Apa?" tanya Yezo tanpa basa-basi


"Sudah selesai?" balas Gieno balik bertanya.


"Baru saja, sekarang Ferry sedang membereskan TKP," tutur Yezo.


"Kalau begitu kalian masuklah," titah Gieno.


"Mentari bagaimana? Nanti dia mengamuk," ucap Yezo.


"Dia sudah tidur."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


Cklek …. Hanya beberapa detik, pintu ruangan inap Mentari dibuka dari luar. Tiga pasang mata yang melihat posisi Gieno dan Mentari sempat melotot. Mereka mendekat ke arah Gieno sambil menatap wajah damai Mentari. "Tidak usah dipandangi," celetuk Gieno.


Tiga laki-laki itu terkejut, setelahnya mereka menatap menggoda ke arah Gieno. "Sudah, aku gerah. Ingin mandi, bantu aku melepaskan tangannya. Aku tidak bisa, takut menyentuh jarum infusnya," ungkap Gieno.


"Sejak kapan kau jadi memikirkan orang lain?" ejek Yezo.


"Tidak usah banyak bicara, bantu saja. Nanti dia bangun," papar Gieno malas.


"Kalau dilepas, dia terganggu, No. Nanti dia malah bangun," papar Rangga.


Mendengar nada kesal Gieno membuat tiga laki-laki itu memilih mengikuti perintah sang ketua. Yezo, laki-laki itu secara perlahan melepaskan tangan Mentari yang cukup kuat memeluk pinggang Gieno. Beberapa menit mencoba, akhirnya terlepas juga. Gieno bergerak turun secara perlahan dari ranjang rumah sakit itu.


"Kenapa bisa dia merasa nyaman dengan iblis gila sepertimu, iblis wanita lagi," celetuk Petrik tidak habis pikir.


Gieno tidak menghiraukan kalimat Petrik, laki-laki itu lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi. Hal itu tentu saja membuat tanda tanya besar di dalam benak tiga manusia yang sudah saling pandang. "No, kau ingin mandi di sini?" tanya Yezo dari balik pintu.


"Hanya cuci muka," balas Gieno. Mendengar itu Yezo mengangguk pelan.

__ADS_1


...*****...


Gieno menatap wajah laki-laki paruh baya dihadapannya dengan pandangan datar. Laki-laki itu saat ini sedang berada di dalam ruangan kerja Heiki. Sedangkan si pemilik ruangan sudah berkeringat dingin menatap Gieno takut. "Kenapa kau ke sini?" tanya Heiki tergagap.


Gieno tidak menyahut, tetapi laki-laki itu terus melangkah mendekat ke arah Heiki yang malah semakin mundur. Bruk …. Gieno menghempaskan tubuhnya di atas kursi kekuasaan Heiki. Laki-laki itu mengangkat kedua kakinya ke atas meja sambil menatap Heiki datar. "Aku hanya ingin menyapa, sudah lama aku tidak ke sini, bukan?" cetus Gieno datar.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Heiki.


"Aku ingin kematianmu," sahut Gieno santai.


Namun, jelas saja kalimat itu mampu membuat jantung Heiki seakan ingin putus dari tempatnya. "Tapi kau tenang saja, aku belum memiliki mood untuk itu. Jadi bersyukurlah." Setelah mengucapkan itu, Gieno kembali berdiri dan berjalan ke pintu keluar.


"Aku membawa hadiah."


Bruk …. Gieno melemparkan sebuah tas ke arah Heiki yang masih diam ditempatnya. Setelahnya laki-laki itu pergi dari sana. Heiki yang melihat kepergian Gieno menghela napas lega. Namun, saat melihat keberadaan tas di dekat kakinya membuat Heiki penasaran. "Apa ini? Jangan-jangan bom."


Dengan sedikit takut, Heiki mencoba mengecek isi tas itu. Secara perlahan Heiki membuka resleting tas yang berada di lantai itu. "Bangsat!"


Heiki terkejut, laki-laki itu menjauh dengan muka pucat. "Hwuek …." Laki-laki paruh baya itu menutup mulutnya saat merasa orga dalam perutnya mulai berbolak-balik.

__ADS_1


__ADS_2