
"Sekarang giliran si tua bangka," sambung Gieno.
Heiki menoleh cepat ke arah Abraham yang nampak sudah memucat. Laki-laki tua itu nampak sudah ketakutan. Abraham bergerak tidak tenang di tempatnya. Melihat itu Gieno merasa semakin senang. "Bawa dia ke sini," titah Gieno.
Beberapa anggota Zero dengan segera membawa tubuh Abraham ke arah Gieno. Tidak sama dengan Nairy yang tadi hanya diam. Abraham malah tidak tenang di tempatnya. Laki-laki tua itu terus bergerak ketakutan di bawah kaki Gieno.
"Kenapa? Takut? Menebas kepala papaku kau tidak takut. Jadi seharusnya sekarang kau juga tidak takut menghadapi ini. Bukankah hal ini sudah pernah kau alami beberapa tahun yang lalu?" desis Gieno.
"Aku ini Kakekmu, Gieno!" bentak Abraham.
"Kakek? Yah, kau memang Kakek tersayangku. Kau juga yang membentuk karakter ku yang seperti ini. Maka kau nikmati saja karakterku ini. Ini adalah bentuk rasa kasih sayangku kepadamu. Aku kan berbeda," balas Gieno.
"Kau manusia bejat, penuh dosa. Kau …."
Slass … Bruk … Gluduk …
"Tidakkk …," teriak Heiki.
Kalimat Abraham terhenti saat dengan tiba-tiba Gieno sudah menebas kepala laki-laki tua itu. Kepala Abraham tepat berhenti di depan mata Heiki. Jelas saja hal itu semakin membuat Heiki histeris. Dia melihat secara langsung kematian dua orang yang berharga di depan matanya. Tiga ditambah dengan kematian Naraya.
"Tidak, kalian tidak boleh meninggalkan aku seperti ini. Tidak," lirih Heiki.
"Tidak, mereka tidak meninggalkan kau. Sebab sekarang adalah giliranmu," bisik Gieno.
Heiki mendongak dan ketakutan saat melihat tawa mengerikan Gieno. Apalagi saat ini wajah laki-laki itu dipenuhi dengan percikan darah Nairy dan Abraham. Pemandangan itu semakin menambah kesan mengerikan di wajah Gieno.
"Bawa dia ke sini," titah Gieno.
__ADS_1
Heiki mencoba memberontak karena ketakutan. Sekuat tenaga laki-laki paruh baya itu memberontak. Namun, jelas saja kekuatannya tidak seberapa jika dibanding dengan dua anggota Zero yang saat ini menyeret tubuhnya.
"Ada kata-kata terakhir … Paman?" Gieno menyeringai sambil menekan kata paman di dalam kalimatnya.
"Akan aku tuntut perbuatanmu ini di akhirat nanti," jerit Heiki.
"Baik, tunggu aku di neraka ya," sahut Gieno santai.
Slass … Bruk … Gluduk …
Untuk yang ketiga kalinya, samurai iblis gila itu menebas kepala manusia dalam lima belas menit ini. Samurai yang memang sudah dipersiapkan dari beberapa tahun yang lalu oleh Gieno. Samurai yang dia khususkan untuk memisahkan kepala tiga manusia itu. Akhirnya sekarang terwujud sudah, sebegitu dendamnya Gieno kepada mereka. Sampai samurai pun sengaja dia buat khusus untuk mereka.
"Bereskan." Wajah dingin Gieno kembali seperti semula. Laki-laki itu pergi begitu saja setelah menarik paksa tiga nyawa dari tubuhnya.
...*****...
"Akan sampai kapan kamu tertidur seperti ini, Lux? Apa sebegitu marahnya kamu sampai menghukum aku sampai seperti ini?" gumam Gieno begitu lirih.
Hampir setiap hari Gieno selalu tertidur di samping ranjang Mentari karena rindu. Rindu ingin kembali memeluk dan dipeluk oleh gadis itu. Rindu dengan sifat manja dan sifat polos gadis itu. Rindu dengan tatapan hangat mata bulat itu. Gieno merindukan segala hal yang ada pada tubuh Mentari.
"Lux, aku rapuh. Seperti hati ini sudah tidak mampu menahannya. Bahkan aku melampiaskannya dengan membunuh lima nyawa dalam sehari. Tapi kenapa masih tidak lepas? Kenapa malah semakin hari semakin terasa sesak?" gumam Gieno.
"Aku tidak ingin ini, Lux. Kembalilah, aku mohon."
Tit … Tit … Tit …
Mata Gieno membola saat melihat dan mendengar suara mesin EKG memekakkan telinga. Laki-laki itu nampak panik saat melihat tubuh Mentari kejang. Dengan kesadaran yang masih tersisa, Gieno memencet tombol darurat.
__ADS_1
"Lux, dengar aku! Lux … kamu pasti baik-baik saja kan?" ucap Gieno panik.
Cklek …
Pintu ruangan itu terbuka dan beberapa orang ahli medis masuk ke sana. "Maaf, Tuan. Tolong menyingkir sebentar," ucap seorang suster nampak ragu.
Tanpa banyak bicara, Gieno memundurkan langkahnya memberikan akses kepada para ahli medis itu. Nampak dokter melakukan sesuatu kepada tubuh Mentari. Gieno juga dapat melihat secara jelas bagaimana tubuh mentari terangkat dan terjatuh karena sebuah benda.
Para medis itu nampak kesulitan dan terus berusaha. Namun, wajah pucat dan wajah tegang parah ahli medis itu dapat menjawab segalanya. Mereka nampak saling tatap sambil melirik takut ke arah Gieno.
"Apa, kenapa kalian berhenti?" teriak Gieno.
"Ma-maaf, Tuan. Nona Mentari sudah tidak ada. Detak jantungnya benar-benar sudah tidak ada," cicit dokter perempuan itu ketakutan.
"Tidak! Tidak! Bangsat! Kalian semua tidak becus, kembalikan gadisku! Tidak!" teriak Gieno kehilangan kendali.
"No." Beruntungnya lima inti Zero segera datang dan menahan tubuh Gieno.
"Lux masih hidup, lakukan lagi bangsat! Jangan berhenti! Lux masih hidup! Aku bunuh kalian semua!"
"Sadarlah, No. Mentari sudah tenang, dia tidak lagi merasakan sakit. Kau harus ikhlas, dia akan merasa sedih jika kau seperti ini."
"Lux masih hidup, dia masih hidup."
Bruk …. Tubuh Gieno meluruh ke atas lantai. Laki-laki itu terisak sambil menangis histeris. Gieno bahkan tidak merasa malu dengan aksinya saat ini. "Lux masih hidup," isak Gieno begitu pedih.
...*****END*****...
__ADS_1
Hai, maaf kalau endingnya tidak sesuai dengan keinginan kalian. Tapi terima kasih sudah setia dengan Gieno. Tunggu ektra part-nya besok ya🥰