Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
116. Jalan-Jalan


__ADS_3

Gieno memeluk pinggang Mentari posesif. Saat ini laki-laki itu sedang mengajak Mentari jalan-jalan di mall. Gadis itu sempat mengeluh bosan kepada Gieno. Gieno yang merasa kasihan pun, akhirnya membawa Mentari pergi berbelanja dan bermain di mall.


Sedari tadi sepasang manusia itu terus berjalan. Mereka nampak antusias, lebih tepatnya Mentari nampak begitu senang. Sedari tadi gadis itu terus berjalan seakan tidak merasakan yang namanya lelah. Gieno hanya mampu mengikuti langkah gadis itu. 'Astaga, apa dia tidak merasa lelah? Sudah hampir dua jam berjalan tidak tahu arah seperti ini,' batin Gieno mengeluh.


"Kak, itu lihat. Kita ke sana, ya." Mentari menunjuk sebuah tempat bermain yang saat ini cukup ramai. Mata bulat gadis itu memperlihatkan binar antusias yang begitu besar. Sehingga Gieno tidak dapat menolak keinginan gadis itu.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Gieno heran.


Kepala Mentari nampak menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Gieno. Melihat itu Gieno merasa gemas bercampur dengan pasrah. Laki-laki itu gemas dengan pergerakan Mentari yang nampak lucu di matanya. Gieno juga nampak pasrah sebab laki-laki itu harus bisa menahan penat di kakinya.


"Kita makan siang dulu, ya. Kamu belum makan," tutur Gieno.


"Oh, ini sudah siang? Aku tidak sadar," balas Mentari.


"Ini sudah jam satu, Lux," sahut Gieno.


Laki-laki itu memang memanggil Mentari dengan panggilan Lux. Lux dalam bahasa Latin artinya cahaya. Gieno memang menggap Mentari sebagai cahaya di dalam hidupnya. Hidupnya yang dulu begitu gelap sekarang terasa lebih terang karena keberadaan Mentari.

__ADS_1


"Oh, benarkah? Aku tidak sadar," papar Mentari polos.


'Ya iya, kan kamu sedari tadi sibuk jalan ke sana kemari saja,' balas Gieno di dalam hati.


"Sudah, sekarang ayo kita cari tempat makan. Kamu ingin makan apa?" tanya Gieno.


"Emm, apa ya? Aku tidak tahu, aku sedang malas makan," sahut Mentari.


"Mana bisa begitu, tidak ada kata malas makan. Ayo, kita makan sop tulang sapi. Kamu suka kan?" Gieno menarik tangan Mentari lembut membawa gadis itu berjalan.


"Aku ingin pakai mie ya, Kak," tawar Mentari.


"Hanya sedikit, kamu tidak ingin perutmu itu meledak kan?" balas Gieno.


"Siap, Bos!" sahut Mentari semangat.


Gieno tertawa kecil melihat wajah senang Mentari. Laki-laki itu tidak menghiraukan semua mata yang saat ini sedang menatapnya sedang wajah terkejut tidak percaya. Gieno De Larga, iblis gila yang terkenal dingin sekaligus casanova tingkat dewa. Sekarang malah sedang tertawa dan bersikap lembut kepada seorang gadis.

__ADS_1


Jelas saja hal itu menggemparkan seluruh penghuni mall yang melihat kejadian itu. Laki-laki kejam nan tampan itu terlihat begitu humbel dan hangat saat bersama Mentari. Mentari si gadis polos yang berhasil memadamkan jiwa iblis di dalam tubuh Gieno.


"I-itu, iblis gila?" ucap seorang pengunjung mall.


"Aku pikir aku yang salah lihat," balas seorang pengunjung lagi.


"Sepertinya tidak salah lihat, dia benar-benar iblis gila. Tapi …."


"Tapi kenapa berbeda?"


Meninggalkan rasa terkejut para pengunjung mall. Sepasang insan itu terus berjalan saling bergandengan tangan. Nampak serasi, Gieno yang tampan dan Mentari yang manis.


"Aku juga boleh minum es buah, Kak?" tanya Mentari nampak membujuk.


Gieno menunduk dan menghela napas pelan saat tidak bisa menolak mata berbinar gadis itu. "Jangan banyak es ya?" balas Gieno.


"Sedikit saja," jawab Mentari. Gieno tersenyum sambil mengusap puncak kepala Mentari lembut.

__ADS_1


__ADS_2