
"Aku ingin mencicipinya." Januar menyeringai licik.
Duar …. Jantung Mentari seakan berhenti berdetak mendengar perkataan laki-laki dibalik pintu. Gadis itu memucat dengan keringat dingin mulai bercucuran karena takut. 'Aku harus bagaimana ini? Kak Gieno,' batin Mentari ketakutan.
Mentari mundur dan menoleh sekeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai senjata. Namun, gadis itu tidak menemukan apa-apa. Sebab terlalu takut, gadis itu memilih berjongkok di sudut ruangan. Mentari membenamkan wajahnya di antara lutut dengan tubuh bergetar takut.
Cklek …. "Wah, kau sudah bangun, Cantik?" Suara berat seorang laki-laki membuat Mentari semakin menggigil ketakutan.
Gadis itu mendongak dan menatap seorang laki-laki yang cukup tampan mulai mendekat ke arahnya. Sekuat tenaga Mentari berdiri dengan kaku bergoyang menatap was-was ke arah laki-laki itu. "Hei, kenapa denganmu? Tenanglah, aku suka bermain lembut, kok." Januar menyeringai jahat.
"Jangan mendekat." Mentari menatap Januar yang masih bergerak mendekat ke arahnya.o
Januar tertawa licik melihat wajah takut milik Mentari. "Kenapa kau terlihat begitu ketakutan? Bukankah kau sudah biasa melayani iblis gila itu?" ucap Januar.
__ADS_1
Januar semakin mendekat, laki-laki itu menyentuh bahu Mentari pelan membuat gadis itu terlonjak. Dengan keberanian yang tersisa, Mentari menghempaskan tangan kekar Januar. "Jangan sentuh aku," cicit Mentari.
Januar menatap tajam Mentari yang baru saja berani menghempaskan tangannya. "Kau berani?" desis Januar.
Plak … bruk …
Mentari terjatuh dengan kepala sedikit terbentur di dinding. "Shh …." Gadis itu meringis sambil menyentuh kepalanya yang kembali mengeluarkan darah.
"Aku sudah bermain lembut, tapi kau malah memancing kekasaranku."
"Lepaskan, sakit … shh." Mentari berdiri mengikuti langkah kaki Januar yang membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi ruangan itu.
"Kau harus aku beri paham. Aku bukan laki-laki yang suka bertindak lembut, apa kau sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh iblis itu?"
__ADS_1
Brak …. Januar membanting tubuh Mentari ke dalam kamar mandi. Setelahnya laki-laki itu mengambil shower dan mengguyur tubuh gadis yang sudah meringis kesakitan. Perih di kepala Mentari semakin menjadi, saat luka itu bersentuhan dengan air. "Tolong hentikan," lirih Mentari.
Januar terus mengguyur tubuh Mentari. Sampai pada suatu titik membuat laki-laki itu menghentikan kegiatannya. Mata Januar menggelap kala melihat tubuh Mentari begitu terekspos dibalik baju yang basah itu. "Tubuhmu lumayan juga, setidaknya mampu membuat pedangku berdiri," bisik Januar.
Dengan gerakan kasar Januar kembali menarik tubuh Mentari keluar kamar mandi. Bruk …. Januar menghempaskan tubuh gadis itu ke atas kasur. Laki-laki itu mendekat dan mulai mengungkung tubuh Mentari. "Sudah berapa kali kau dimasuki Gieno? Apakah sudah longgar?" bisik Januar.
Glek …. Bulu kuduk Mentari berdiri mendengar bisikan rendah itu. "Kau salah paham, aku bukan siapa-siapa Gieno. Kau tidak akan bisa memancingnya hanya karena aku. Aku bukan orang penting baginya. Aku bahkan tidak pernah disentuhnya sekali pun," ucap Mentari mencoba menyelamatkan diri.
Gadis itu bisa menyimpulkan, dirinya berada dalam kondisi seperti ini karena Gieno. Januar adalah musuh Gieno, itu adalah satu hal yang bisa Mentari simpulkan. Sedangkan Januar, laki-laki itu senpat terkejut mendengar perkataan Mentari. Setelahnya laki-laki itu tersenyum miring. "Tidak pernah disentuhnya?" ucap Januar.
"Iya, kami belum pernah melakukan hal yang ada dipikiranmu itu. Kau salah sangka," lirih Mentari sambil menahan sakit.
Januar menyeringai mendengar perkataan Mentari. "Seorang iblis tidak menyentuhmu? Padahal kau sudah dikurungnya. Jika dia belum pernah menyentuhmu, berarti kau lebih bermanfaat dari perkiraanku. Dengan ini, aku bahkan semakin tertarik untuk mencicipimu. Bagaimana kira-kiar tanggapannya, saat seorang wanita yang dia simpan baik-baik … malah sudah lebih dulu aku cicipi," desis Januar.
__ADS_1
Deg …. Napas Mentari memburu mendengar itu. Niat hati ingin terbebaskan, kenapa malah menjadi semakin runyam. Januar bahkan semakin menginginkannya.