Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
75. Ciuman Kening


__ADS_3

Mata Mentari melotot saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Gieno. "Kita kan berbeda, Kak," ucap Mentari.


"Apa yang beda? Kiita kan sama-sama manusia," sahut Gieno santai.


"Kakak kan iblis gila," celetuk Mentari polos. Beberapa detik kemudian, saat sadar dengan kalimatnya. Mentari dengan cepat menutup mulut dengan satu tangannya.


Sedangkan Gieno sudah tersenyum miring ke arah Mentari, dengan langkah yang semakin mendekat. "Aku lupa ternyata aku memang gila. Kau ingin melihat bagaimana gilaanku?" Gieno menyeringai menatap Mentari yang nampak sudah pucat.


'Astaga, sepertinya aku salah bicara,' batin Mentari takut.


Duk …. Mentari yang berniat menutup pintu kamar mandi itu, terhalang sebab Gieno lebih dulu menahan daun pintu itu. Tangan kekar Gieno menarik pelan pergelangan tangan Mentari untuk keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu terkejut dan terdiam melihat tubuh Mentari yang hanya berbalut handuk putih polos itu.

__ADS_1


'Banyak wanita yang bertelanjang di depan mataku, tapi mereka tidak mampu membangunkan juniorku hanya dengan sekali tatap. Tapi kenapa tubuh gadis ini seakan memiliki sesuatu yang dapat menarik minatku?' batin Gieno bingung.


Sedangkan mentari sudah menunduk dengan wajah memerah menahan malu. Sebab ditata sedemikian rupa oleh Gieno. Gieno yang baru saja tersadar dari pikiran liarnya benar pergelangan tangan Mentari ke atas ranjang. Mentari yang sadar arah langkah Gieno, menahan tubuhnya untuk tidak ikut, seakan menolak keinginan Gieno.


Gieno membalikkan tubuhnya saat merasa Mentari menahan tubuhnya untuk tidak bergerak. Laki-laki itu tersenyum miring saat melihat wajah pucat Mentari. "Kenapa diam? Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku ini iblis gila? Biar aku tunjukkan seperti apa iblis gila yang sebenarnya," desis Gieno.


Mentari menggelengkan kepalanya cepat menanggapi perkataan Gieno. "Bukan begitu maksudku," cicit Mentari.


Jeno menaikkan sebelah alisnya menatap mentari yang masih saja menundukkan kepalanya. "Terus apa?" tanya Gieno.


Gieno kembali tersenyum miring mendengar suara kecil Mentari. "Aaa …." Mentari terpekik saat tanpa aba-aba Gieno mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Laki-laki itu membawa tubuh Mentari ke atas ranjang. Saat ini Mentari sudah berada di atas ranjang dengan tubuh hanya berbalut handuk. Mengingat itu Mentari dengan cepat menarik selimut yang berada di bawah kakinya. Seakan dejavu, Mentari menggulung tubuhnya dengan selimut tebal itu. Sedangkan Gieno yang kembali melihat kejadian itu sudah terkekeh kecil.


Laki-laki itu berjalan mendekat dan secara perlahan merangkak naik ke atas ranjang. Delapan kotak yang terpampang jelas di perut kekar Gieno membuat mata Mentari seakan begitu nakal. 'Ya ampun, sadarlah wahai mata. Tidak baik melihat ini, apalagi sampai berpikiran ingin menyentuhnya. Ya ampun … ya ampun, apa isi otakku ini?'


Gieno mengulum bibirnya menahan tawa saat melihat Mentari sedang meminjamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Laki-laki itu bisa menebak apa isi pikiran Mentari saat ini. Melihat Mentari masih memejamkan matanya. Gieno menarik tangan Mentari dan mendaratkan telapak tangan itu di atas perut kekarnya.


Jelas saja hal itu membuat Mentari melotot terkejut. Gieno tersenyum puas saat dapat melihat mata bulat itu melotot. "Astaga, ini perut atau batako?" celetuk mentari polos.


Gieno akhirnya terbahak mendengar kalimat spontan yang keluar dari mulut Mentari. Laki-laki itu terduduk lemas di atas ranjang sambil mengusap ujung matanya. Kepolosan mentari sukses membuat iblis gila itu terbahak sampai mengeluarkan air mata. Sedangkan Mentari yang awalnya terkejut dengan perut keras Gieno, sekarang sudah ternganga melihat wajah tampan iblis gila dihadapannya.


Gieno mulai menghentikan tawanya, laki-laki itu menatap ke arah mentari yang masih menatap wajahnya tanpa berkedip. Melihat itu, jiwa jahil Gieno kembali muncul. Laki-laki itu mengungkung tubuh Mentari yang saat ini berbalut selimut. Setelahnya Gieno meletakkan ujung hidungnya tepat di ujung hidung mungil Mentari.

__ADS_1


Mentari tersadar dengan wajah tampan Gieno sudah berada tepat di hadapannya. Gadis itu yang merasa begitu gugup, berakhir memejamkan matanya. Satu senyum miring kembali terukir di wajah tampan Geno melihat itu. Cup …. "Kau minta aku cium, bukan? Sudah aku berikan," goda Gieno.


Mata Mentari kembali terbuka saat merasakan benda kenyal mendarat di keningnya. Bukannya protes, Mentari malah terdiam dengan aksi Gieno itu. Pikiran gadis itu sedang bercabang, dia memikirkan kenapa Gieno tidak mencium pipi atau mungkin bibirnya? Bukankah Gieno adalah iblis gila dengan nafsu segunung?


__ADS_2