
Gieno tersenyum miring, laki-laki datar itu mendekat dan naik ke atas ranjang. Mentari yang merasakan sebuah pergerakan membuka sedikit matanya. Mentari melotot saat melihat wajah datar Gieno sedang mendekat ke arahnya. "Stop." Mentari menahan dada Gieno dengan tangannya supaya tidak mendekat lagi.
Gieno melirik tangan Mentari yang berada di dadanya. Laki-laki itu mengambil tangan gadis itu sehingga membuat Mentari terpekik. "Pakai bajunya, Kak," cicit Mentari.
"Bukannya kau takut? Biar aku temani," ucap Gieno.
"Tapi, kalau begini … aku lebih takut lagi. Kau bahkan lebih menakutkan dari setan saat ini," gumam Mentari.
Bruk …. Mentari melotot kala Gieno mendorong tubuhnya sehingga berbaring di atas ranjang. Mentari menutup kedua matanya saat mata itu dengan nakalnya menatap tubuh menggoda Gieno. "Biarkan saja dia melihat, itu pertanda kau wanita normal," papar Gieno.
Mentari masih menutup matanya, tetapi tiba-tiba Gieno mengambil tangan Mentari dan menyergapnya. Mentari melotot saat melihat dengan jelas tubuh kekar Gieno yang begitu menggoda. Mentari segera menggeleng cepat kala matanya terus turun sampai ke batas handuk yang dikenakan Gieno. 'Ya ampun, Mentari,' batin Mentari frustasi.
Gieno yang melihat itu menyeringai. Mentari yang awalnya menutup mata, kini sudah membola kala Gieno meletakkan tangannya ke perut kekar laki-laki itu. Glek …. Mentari menelan salivanya susah payah kala laki-laki dingin itu semakin membawa turun tangannya. "Ka-kak," cicit Mentari gugup.
__ADS_1
Mentari menggeleng cepat saat Gieno meletakkan tangannya ke bawah pusar laki-laki itu. Wanita itu sudah berusaha menarik tangannya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan gila Gieno. 'Sifatmu yang seperti ini membuat aku semakin ingin mempertahankanmu. Di saat semua wanita berlomba ingin menyentuhku, apa lagi benda keramatku. Kau malah menolak dengan kerasnya, gadis polos ini benar-benar membuat aku penasaran,' batin Gieno.
"Kau tidak ingin menyentuhnya? Aku lihat matamu meliriknya tadi, atau kau ingin melihatnya?" bisik Gieno tepat di daun telinga Mentari.
Mentari menggeleng cepat. "Tidak Kak, aku … aku tidak ingin apa-apa," sahut Mentari cepat.
"Benarkah? Terus kenapa kau mencuri pandang?" Gieno semakin menggoda Mentari.
"I-itu, aku tidak sengaja. Maaf," cicit Mentari. 'Aku juga wanita normal, tidak sadarkah tubuhnya ini membuat wanita panas dingin?' sambung Mentari di dalam hati.
Gieno tersadar dan menarik tubuhnya. Sedangkan Mentari sudah menghirup oksigen begitu rakus. 'Apa dia ingin membunuhku? Tidak sadar kalau tubuhnya itu begitu berat,' batin Mentari kesal.
Mentari menatap wajah dingin Gieno yang nampak sedang sibuk dengan ponselnya. Beberapa saat wanita itu begitu tertegun dengan wajah tampan itu. 'Andai dia lebih waras, mungkin aku benar-benar jatuh kepadanya. Gila seperti ini saja, dia sudah membuat aku ikut tidak waras,' batin Mentari kagum.
__ADS_1
Gieno berdiri dari duduknya membuat Mentari melotot. Wanita itu dengan segera mendudukkan tubuhnya sehingga membuat Gieno menatapnya sambil tersenyum miring. 'Dasar penakut,' batin Gieno.
"Kak," panggil Mentari pelan. Gieno yang sedang berjalan menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Cepat ya," cicit Mentari.
Gieno tidak menyahut, laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya ke arah ruangan ganti. "Kalau wanita itu keras, akan aku kabulkan keinginannya. Bukankah dia ingin mendekatiku? Bodoh." Gieno berdesis sambil tersenyum miring.
Merasa selesai dengan kegiatan memakai bajunya. Laki-laki itu segera bergerak ingin keluar. Entah kenapa wajah lucu Mentari saat ketakutan membuat laki-laki itu terkekeh kecil. Cklek …. "Sh**," umpat Gieno terkejut.
Gieno menatap datar gadis yang sedang berdiri di depan pintu ruangan itu dengan tubuh berbalut selimut. "Maaf, Kak." Mentari meringis saat melihat tatapan dingin Gieno kepadanya.
Gieno menghela napas pelan. "Penakut," cibir Gieno. Laki-laki itu berjalan melewati tubuh Mentari. Sedangkan Mentari, gadis itu terus mengikuti setiap langkah kaki Gieno.
Namun, tiba-tiba Gieno berhenti berjalan. Duk …. "Ssssh …." Mentari meringis sambil mengusap keningnya yang baru saja bertabrakan dengan punggung kekar Gieno.
__ADS_1
"Ya ampun, itu punggung atau tembok. Kenapa sakit sekali," gumam Mentari. Sedangkan Gieno membalikkan badannya dan menatap tajam tepat ke arah mata Mentari. Mentari meneguk ludahnya kasar melihat tatapan tajam itu.