
Lima laki-laki yang sedang tertawa itu terhenti saat melihat sosok manusia yang begitu ditakuti di dunia gelap. Lima laki-laki itu berdiri sigap melihat Gieno yang tampak berjalan santai dengan wajah datarnya. "Kau, kenapa sudah sampai di sini?" ucap seorang laki-laki tidak percaya.
Gieno menatap datar laki-laki itu dan berlari cepat ke arah mereka. Bruk … brak …. Dalam sekali gerakan, Gieno mampu melumpuh tiga orang sekaligus. Tanpa memberi kesempatan, Gieno memukul dua laki-laki lainnya dan membanting mereka ke dinding.
"Arrghh …." Erangan kesakitan bersahutan saat Gieno tanpa ampun membuat lawan seakan berada di neraka.
"Kalian terlalu meremehkan Zero, hari ini … mati," desis Gieno.
Jleb …. Gieno melemparkan pisau khas miliknya. Lima mayat, kemungkinan waktu kematian mereka tercatat dalam waktu bersamaan. Setelahnya, Gieno mengedarkan pandangan dan menatap tajam sebuah pintu berwarna hitam.
__ADS_1
Brak …. Tanpa banyak suara, iblis gila itu menendang pintu hitam itu dengan kekuatan iblisnya. Hanya dengan satu tendangan dari Gieno, pintu itu sudah terpelanting jauh. Sedangkan penghuni ruangan itu sudah melihat ke arah Gieno dengan pandangan tidak percaya.
Berbeda dengan Gieno, laki-laki itu menoleh dan melotot melihat keadaan Mentari yang jauh dari kata baik-baik saja. "Bangsat!" murka Gieno.
Rahang Gieno mengeras dengan wajah menggelap. Seakan iblis sesungguhnya, Gieno mendekat ke arah Januar yang sudah memucat di tempat. Prang …. Gieno menendang Januar sehingga membuat laki-laki itu terpelanting membentur kaca. Januar mencoba berdiri dengan kepala terluka terkena kaca pecah.
Wajah dan tatapan Gieno sudah berubah. Iblis yang sesungguhnya sudah berhasil menguasai jiwa laki-laki dingin itu. Bruk …. Tanpa memberi ampun, Gieno menendang tubuh Januar yang sudah melemah. Tidak seperti pertempuran biasanya, di mana biasanya Gieno lebih banyak berbicara menekan lawan. Namun, sekarang laki-laki itu tidak mengeluarkan suara, tetapi mampu mematahkan setiap persendian di tubuh Januar.
Grep …. Gieno menarik kerah baju Januar dan mengangkat paksa tubuh lemah itu. Setelahnya Gieno meletakkan tangan kanannya di leher Januar, dan mencekik laki-laki itu. "Argh …." Kaki Januar terjuntai tanpa menyentuh lantai.
__ADS_1
Bruk …. Gieno membawa tubuh Januar ke tembok dan terus mencekik Januar tanpa rasa kasihan. Sedangkan wajah Januar sudah memerah sebab kekurangan pasokan oksigen. "No, cukup. Dia bisa mati." Yezo yang baru saja sampai mendekat ke arah Gieno yang masih menatap tajam Januar.
"Lebih baik kau segera membawa Mentari ke rumah sakit. Dia butuh pertolongan, keadaannya parah," sambung Yezo.
Berhasil, kalimat itu berhasil mengembalikan kesadaran Gieno. Brak …. Iblis gila itu membating tubuh Januar dengan gerakan kasar. Setelahnya laki-laki dingin itu mendekat ke arah Mentari yang masih memperlihatkan mata sayunya. Gieno mengepalkan tangannya melihat keadaan Mentari. Laki-laki itu mengambil selimut dan menutupi tubuh setengah telanjang gadis itu.
Gieno membawa tubuh Mentari ke dalam pelukannya dan menggendong gadis itu. Sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu, Gieno menoleh ke arah Yezo. "Bawa dia ke markas, jangan biarkan mati. Aku sendiri yang akan mencabut nyawanya," desis Gieno tajam.
Setelah melihat kepergian Gieno, Yezo menoleh ke arah Januar yang tampak melemah. "Kau sungguh bodoh, uji nyali tidak harus membawa Gieno. Padahal selama ini dia sudah cukup baik dengan membiarkan kau bernapas cukup tenang. Apa sekarang kau percaya kalau dia benar-benar iblis gila? Kau sudah merasakannya sendiri, sayangnya kesengsaraanmu bahkan baru dimulai. Kau terlalu meremehkannya, inilah akibatnya," ejek Yezo kepada Januar.
__ADS_1