Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
97. Cairan Kuning


__ADS_3

Merasa kesel dengan keberadaan Mentari, Naraya mencoba mendekati Gieno. Wanita itu meraih lengan Gieno dengan tampang manja. Jelas saja kelakuan Naraya itu membuat Abraham dan Heiki melotot terkejut. "Naraya," tegur Abraham cepat.


Naraya tidak menghiraukan teguran dari sang kakek. Wanita itu masih saja memegang lengan Gieno yang saat ini sedang tersenyum miring ke arah dua laki-laki itu. "Kak, ayo kita ke sana. Kakak belum makan dan minum di pesta aku, bukan?" ajak Naraya.


Mentari yang melihat itu jelas saja merasa tidak suka dan merasa kesal. Saking kesalnya gadis itu tidak sadar jika dia mencengkram lengan kekar Gieno. Sedangkan Gieno menunduk dan menatap wajah mentari saat merasakan merasakan cengkraman dari jari gadis itu. Kening laki-laki itu berkerut saat melihat raut wajah Mentari yang terlihat begitu berbeda.


'Dia kenapa? Apa sedang menahan sakit?' batin Gieno.


"Kenapa, apa kau sakit?" tanya Gieno kepada Mentari.


Mentari terkejut saat mendengar suara berat Gieno. Gadis itu mendongak dan menatap Gieno yang saat ini juga sedang menatapnya. Entah kenapa setiap kali melihat mata bulat Mentari. Gieno selalu saja merasa terpana dan tertegun. Mata bulan itu selalu mampu menenangkan hati beku milik Gieno.


"Tidak, Kak. Aku tidak apa-apa," sahut Mentari.


Naraya yang melihat Gieno masih memfokuskan diri kepada Mentari kembali bersuara. Saat ini Gieno nampak sedang membawa dua istri yang berada di sisi kiri dan sisi kanan laki-laki itu. "Kak, ayo kita ke sana. Aku memesan makanan sangat khusus untuk pesta ini," tutur Naraya.


"Baiklah, ayo."


Naraya melirik ke arah Mentari yang saat ini masih memeluk lengan kiri Gieno. Gieno yang mengerti arah pandang Naraya ikut menoleh dan bersuara. "Dia datang bersamaku karena dia datang sebagai partnerku," ucap Gieno.

__ADS_1


Naraya terkejut dan semakin dibuat kesal dan marah karena perkataan Gieno. Wanita itu suka tenaga untuk menahan diri dengan kemarahan di dalam hatinya. "Oh, baiklah. Ayo kita ke sana," tutur Naraya.


Beberapa menit berada di depan meja makanan dan minuman. Naraya tersenyum licik sambil melirik Mentari. Setelahnya wanita itu menoleh ke arah Gieno yang saat ini sedang sibuk menelepon dengan seseorang dari kejauhan. 'Dia kan gadis polos, bisalah aku beri pelajaran,' batin Naraya licik.


"Hei, kau," panggil Naraya kepada Mentari.


Mentari yang merasa dipanggil menoleh ke arah wanita itu dengan pandangan bertanya. "Aku minta maaf untuk masalah kejadian di cafe waktu itu. Aku akui aku memang salah waktu itu. Kebetulan kita sudah bertemu di sini di acara ulang tahunku ini. Aku ingin memberikan ucapan minta maaf yang tulus kepadamu. Mungkin mulai hari ini kita bisa menjadi teman."


Mentari menatap uluran tangan Naraya kepadanya. Beberapa detik kemudian gadis itu menerima uluran tangan itu, karena seperti yang Naraya katakan Mentari adalah gadis yang polos. "Baiklah," sahut Mentari.


Melihat itu Naraya tersenyum miring. 'Benar bukan, dia ini adalah gadis yang polos. Sangat mudah untuk aku kelabui,' batin Naraya lagi.


Mentari melihat gelas kecil yang disodorkan Naraya kepadanya. Tanpa merasa curiga gadis itu meraih gelas kecil itu dan menatap cairan berwarna kuning di dalamnya. Naraya yang melihat itu kembali tersenyum miring merasa rencananya mulai berjalan mulus. "Ayo bersulang."


Naraya mengangkat gelas kecil itu ke depan Mentari. Dengan gerakan pelan mentari ikut mengangkat gelas kecil di tangannya dan sedikit membenturkan kedua gelas itu. Mentari mulai melihat Naraya meminum cairan di dalam gelas itu. Melihat Naraya sudah meminumnya terlebih dahulu, gadis itu ikut meminum cairan berwarna kuning itu.


"Uhuk …." Naraya menyeringai saat dengan tiba-tiba mentari terbatuk setelah meminum cairan kuning itu.


"Ah, minuman apa ini kenapa rasanya seperti ini?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Ini minuman orang dewasa seperti kita. Masa kau tidak tahu tentang minuman ini?" balas Naraya.


"Tidak, aku tidak suka minuman ini. Tenggorokanku rasanya terbakar," tutur Mentari.


Naraya hanya diam sambil memperlihatkan senyum miringnya. 'Sebentar lagi itu akan segera berefek bagi orang yang baru mencobanya. Kau akan segera merasakan sensasi dari cairan itu. Heh, untung aku sudah biasa meminum ini. Jadi jika hanya minum satu gelas kecil seperti ini tidak akan berefek sama sekali,' batin Naraya.


"Apa yang kau minum?" Suara berat Gieno mengejutkan Mentari yang masih memegang gelas kecil itu.


Gadis itu menoleh dan menatap Gieno yang saat ini sudah menatapnya dengan tatapan tajam. "Oh, ini aku tadi meminum ini dengan Naraya," sahut Mentari.


Naraya melotot saat mendengar jawaban dari Mentari. Wanita itu dengan cepat bersuara mencoba berkilah. "Iya, Kak. Mentari mengajakku untuk meminum ini, padahal aku sudah mengatakan kalau aku tidak terbiasa minum ini. Dia malah memaksaku," papar Naraya.


Mata bulat mentari melotot mendengar kalimat Naraya. "Kau, jadi sekarang kau membohongiku lagi? Tadi katanya kau ingin berbaikan dan menjadi teman, ternyata aku benar-benar ular ya," celoteh Mentari.


Gieno yang melihat pergerakan mentari sudah mulai lain mendekat dan melihat wajah gadis itu. 'Dia mabuk, jelas saja ini kadar alkoholnya tingkat tinggi,' batin Gieno.


"Kenapa sekarang kau malah menyalahkan aku?" sahut Naraya masih mencoba berkilah di depan Gieno.


Mentari menoleh dan memeluk tubuh Gieno secara tiba-tiba. Jelas saja hal itu membuat mata Naraya membola. Begitu pula dengan Gieno yang sempat terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari Mentari. Gino dengan cepat menahan pinggang ramping Mentari, saat tubuh gadis itu oleng. Sebab mentari saat ini masih duduk di atas kursi tinggi itu. "Ayo pulang."

__ADS_1


__ADS_2