Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
124. Jijik


__ADS_3

Gieno melotot dan berlari mencoba menggapai tubuh Mentari. Namun, pergerakan laki-laki itu terlambat. "Tidak, tidak. Mentari! Mentari! Tidak!!!!" teriak Gieno histeris.


Bruk …


Tubuh Gieno meluruh ke bawah, kakinya lemas tidak mampu menopang tubuhnya. Laki-laki itu nampak kehilangan akal, bahkan saat ini Gieno nampak seperti orang bodoh yang terduduk di atas lantai rooftop. Mata tajam laki-laki itu saat ini nampak menatap lurus dengan tatapan kosong.


"Kak, tidak usah sampai seperti ini kak. Dia yang memilih untuk bunuh diri. Dia …." Kalimat Nayara terhenti saat dengan tiba-tiba Gieno mendongak dan menatapnya dengan tatapan tajam itu.


Napas Naraya tercekat saat melihat mata laki-laki itu menghitam. Seakan dejavu, Naraya kembali melihat mata hitam itu. Setelah beberapa waktu yang lalu Naraya juga sudah pernah melihat mata hitam itu saat di klub malam kala itu.


Glek …. Naraya menelan salivanya kasar saat dengan tiba-tiba Gieno berdiri dan mendekat ke arahnya. Secara spontan Naraya memundurkan langkahnya saat merasa jika Gieno saat ini sedang dalam mode berbahaya. "Kau harus mati," desis Gieno.


Deg …


Naraya menggelengkan kepalanya cepat saat mendengar perkataan Gieno. "Kak, sadarlah," ucap Naraya panik.

__ADS_1


Bukan hanya Naraya yang merasa ketakutan. Seluruh pelayan yang masih berada di sana juga sudah bergetar ketakutan. Mereka bahkan tidak berani bergerak barang seinci pun. Jiwa iblis Gieno saat ini sedang berada di puncak tertinggi dan mereka paham itu sangat berbahaya. Mereka lebih memilih menghindari kematian dengan tidak mengganggu ketenangan Gieno.


Grep …


Gieno meraih leher Naraya, hal itu tentu saja membuat perempuan itu ketakutan dan panik. "Tolong aku, to … akhhh."


Tubuh Naraya terangkat saat dengan tiba-tiba Gieno mencekik leher perempuan itu. Gieno mencekik leher Naraya sambil menyudutkan tubuh perempuan itu ke dinding. Kaki Naraya menendang-nendang di bawah sana. Wajah perempuan itu memerah dan hampir menghitam karena kesulitan bernapas.


"Khhhh …." Naraya mencoba menarik napas dan bersuara, tetapi cekikan Gieno tidak main-main.


Ya, Rangga adalah orang yang baru saja membuka pintu rooftop itu. Nampak laki-laki itu mendekat dan menatap Gieno yang juga sedang menatapnya. Iblis gila itu masih mencekik Naraya sambil menatap Rangga dengan tatapan dingin itu.


"Yang lain sudah membawa Mentari ke rumah sakit. Meski kami berhasil mendapatkan tubuhnya. Tapi tubuh Mentari terhempas cukup kuat. Aku yakin ini akan menimbulkan cedera dalam," ungkap Rangga.


Bruk …

__ADS_1


Tubuh Naraya meluruh saat Gieno melepaskan cekikannya. Iblis gila itu menunduk menatap tajam ke arah Naraya yang sedang menghirup napas tidak santai. Nampak perempuan itu begitu kesulitan mengambil napas karena bekas cekikan Gieno masih begitu terasa.


"Kau tunggu bagianmu, kau … akan menerima ganjaran dari semua ini," desis Gieno.


Setelah mengucapkan itu, Gieno pergi dari sana meninggalkan Naraya begitu saja. Rangga yang masih berada di sana menoleh dan menatap sinis ke arah Naraya. "Aku lihat kau sangat menikmati permain tadi malam. Apakah seenak itu bermain bersama empat laki-laki? Ah, sepertinya seru kalau video panasmu itu tersebar di televisi nasional," papar Rangga.


Deg …


Naraya terdiam mendengar kalimat Rangga. Perempuan itu menatap Rangga yang sedang tersenyum miring kepadanya. "Tidak, jangan lakukan itu! Jangan!" ucap Naraya memohon.


Rangga hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Naraya. Setelahnya laki-laki itu berbalik dan mulai berjalan. Namun, di langkah ke dua, Rangga menghentikan langkahnya sambil bersuara.


"Kau bersiap-siap saja, lagi pula … empat laki-laki itu menembakkan benih mereka masing-masing di dalam. Sebab itu perintah Gieno, jadi … aku rasa beberapa minggu lagi kau akan segera menjadi calon ibu. Sayangnya, nanti tidak tahu mana bapaknya," ejek Rangga.


Naraya terdiam, perempuan itu menunduk dengan berjuta cabang di dalam otak dan pikirannya. "Kenapa menjadi seperti ini? Aku tidak ingin hamil anak mereka! Aku tidak ingin! Aku jijik dengan tubuhku sendiri, aku jijik!" teriak Naraya histeris.

__ADS_1


__ADS_2