Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
44. Misi Baru


__ADS_3

Lima laki-laki inti Zero itu melirik wajah Gieno yang tampak menggelap. Tatapan matanya menyiratkan sebuah kemarahan. "Perempuan yang sudah sejauh ini tidak aku sentuh, dengan beraninya dia sentuh. Bahkan meninggalkan jejak di dalam hatinya, tidak akan pernah aku biarkan dia hidup tenang," desis Gieno.


"Kau tenanglah, No. Coba buat jadwal konsul dengan psikiater. Tapi, kau tanya dulu kepada Mentari," ucap Yezo menenangkan.


"Ini jelas sulit dan begitu membekas baginya, dia biasa hidup aman dan sederhana. Tiba-tiba harus dihadapkan dengan masalah seperti ini, jelas psikisnya sangat terguncang. Ditambah lagi, dia gadis polos yang belum pernah disentuh laki-laki," tambah Rangga.


Gieno diam beberapa detik, setelahnya laki-laki itu masuk ke dalam ruangan inap Mentari. Langkah Gieno diikuti oleh lima laki-laki lainnya. Secara perlahan Gieno mendekat dan menatap wajah Mentari yang sedang menutup matanya. 'Mata bulat yang biasanya aku sukai, apa sekarang akan sering terlihat sendu, apa lagi mengeluarkan air mata?' batin Gieno.


Lima laki-laki lainnya terus memperhatikan gerak gerik Gieno yang masih menatap intens wajah Mentari. "Bangsat itu bagaimana?" tanya Gieno tiba-tiba.


"Sesuai keinginanmu, dia masih bernapas," sahut Yezo.


"Kau ingin ke markas menemuinya? Kebetulan satu senjata kita perlu diuji coba," papar Petrik.

__ADS_1


Gieno tersenyum miring. "Sudah kau periksa?" tanya Gieno.


"Sudah, Ferry juga sudah melihatnya," jawab Petrik.


"Iya, bentuknya mantap. Aku suka, kalau cara kerjanya oke … Zero akan semakin terdepan," tambah Ferry.


"Nanti malam aku akan bermain," tutur Gieno.


"Aku rasa kau ingin sebuah misi untuk pelampiasan, bermain dengan orang kurungan tidak terlalu menantang bukan?" kata Yezo.


Yezo ikut tersenyum miring, setelahnya laki-laki itu mengangkat tablet Melvin memperlihatkan layarnya. "Belum sampai satu menit, kepala polisi menyerahkan Tanuta Wijaya kepada Zero. Kasus korupsi dan penggelapan dana proyek negara sudah lebih dari lima tahun. Jabatannya membuat dia sulit tersentuh hukum dan aparat negara," jelas Yezo.


Gieno menyeringai mengetahui ini, tangannya tiba-tiba gatal ingin segera menghabisi manusia. Meski Gieno iblis gila darah, tetapi dia tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah. Korban dari tangan iblis itu pasti seorang manusia dia setumpuk dan segudang dosa. "Kirimkan datanya," titah Gieno.

__ADS_1


Ting …. Hanya dalam hitunga detik, Melvin mengirimkan data target misinya pada malam ini kepada Gieno. Sang ketua pun membaca singkat biodata itu dan tersenyum miring. "Persiapkan semuanya, berhubung dia pejabat negara yang memiliki kedudukan tinggi dan penjagaan super ketat … ini akan cukup menarik. Meski begitu, tidak satu pun yang bisa menghindar dari Zero. Aku turun lapangan, tanganku sudah gatal." Gieno kembali menyeringai iblis.


...*****...


"Naraya." Naraya menoleh ke arah Heiki yang baru saja memanggil dirinya.


"Iya, Pa," sahut Naraya.


"Kamu masih mencoba mendekati Tuan De Larga?" tanya Heiki.


Naraya tersenyum mendengar nama laki-laki impiannya itu. "Tentu, Pa. Bahkan aku sudah mulai dekat dengannya. Aku sudah dua kali makan siang bersama dengannya, terus dia juga mengizinkan aku berucap santai kepadanya," ungkap Naraya antusias.


Wajah Heiki memucat sambil menatap wajah Naraya cemas. "Sudah Papa katakan jauhi dia, Naraya. Dia berbahaya," peringat Heiki.

__ADS_1


Naraya menatap Heiki dengan pandangan tidak suka. "Kenapa sih, Pa? Aku sudah mendapatkan kemajuan yang begitu bagus. Tinggal beberapa langkah lagi, aku bisa mendapatkannya. Seharusnya Papa bangga kepadaku karena bisa memberikan Papa menantu yang begitu sempurna," jelas Naraya.


__ADS_2