
Naraya tersenyum senang melihat kedatangan Gieno. Wanita itu bergerak cepat ke arah Gieno yang baru saja keluar dari mobilnya. Tanpa rasa malu dan canggung, Naraya meraih lengan Gieno dan memeluk lengan kekar laki-laki itu erat. Gieno hanya diam tidak menolak apa yang dilakukan oleh Naraya.
"Ayo Kak, mereka pasti sudah menunggu kedatangan kita," ajak Naraya.
Gieno masih diam tidak menyahut kalimat Naraya. Sepasang manusia itu mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu klub malam. Memang terlihat biasa saja, tetapi siapa sangka jika pergerakan mata tajam Gieno saat ini melirik ke kiri dan ke kanan. Sebuah sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk senyum miring.
"Kak, nanti mereka pasti akan banyak bertanya tentang hubungan kita. Bagusnya aku menjawab apa ya?" pancing Naraya ingin tahu jawaban Gieno seperti apa.
"Kenalan," balas Gieno singkat.
Naraya terkejut mendengar jawaban singkat dari laki-laki di sampingnya itu. Wanita itu menoleh dan menatap wajah Gieno dengan tatapan tidak percaya. "Hanya kenalan?" tanya Naraya memastikan.
"Apa lagi? Kita kan memang hanya sekedar kenalan" sahut Gieno datar.
Tangan Naraya terkepal merasa menahan kesal bercampur dengan marah. Tiba-tiba pikiran wanita itu melayang kepada sosok Mentari. 'Apa karena perempuan itu? Siapa sebenarnya dia? Apa hubungan Kak Gieno dengan perempuan itu?' batin Naraya.
Bruk …. Naraya terkejut saat dengan tiba-tiba tubuhnya sedikit terbentur dengan tubuh seseorang. Wanita itu meringis sengaja untuk menarik perhatian Gieno. "Ah, sst …."
Siapa sangka jika aksi wanita itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Gieno. Gieno malah sibuk dengan seorang laki-laki yang baru saja menabrak mereka. Laki-laki itu saat ini sedang berdiri mobil tersenyum miring ke arah Gieno.
"Hai, Iblis Gila," sapa laki-laki itu.
__ADS_1
Gieno tidak menyahut, laki-laki itu hanya diam menatap datar manusia di depannya tanpa ekspresi. Berbeda dengan Naraya yang saat ini nampak terlihat bingung melihat interaksi dua laki-laki di dekatnya itu. 'Sepertinya auranya tidak mengenakkan,' batin Naraya.
Laki-laki yang sempat menabrak mereka itu mengalihkan pandangannya dari wajah Gieno. Saat ini fokusnya teralihkan kepada Naraya yang nampak bingung. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Naraya, laki-laki itu kembali menoleh ke arah Gieno sambil menyeringai.
"Ternyata kau punya mainan baru ya? Kelihatannya lebih cantik dari yang waktu itu. Tapi … sepertinya yang waktu itu lebih menarik, ya. Lebih polos, lebih imut dan lebih manis. Siapa namanya? Ah, iya … Mentari. Jadi kau sudah tidak dengannya? Berarti bolehlah jika aku bermain dengan gadis itu sekarang?" pancing laki-laki itu.
Rahang Gieno mengeras dan tangan iblis gila itu menghafal erat saat mendengar kalimat laki-laki di depannya. "Raka Sefrian," desis Gieno tajam.
"Yes, that's my name," sahut laki-laki bernama Raka itu.
Berbeda dengan Naraya yang sudah terkejut aat mendengar suara rendah Gieno. Wanita itu menoleh dan mendongak menatap wajah Gieno yang saat ini nampak begitu marah. 'Kenapa dia terlihat begitu marah? Apa begitu pentingnya perempuan itu bagi Kak Gieno?' batin Naraya kesal.
"Jangan sekalipun kau ucapkan nama gadisku dengan mulut kotormu itu," tekan Gieno.
Bagaimana dengan Raka? Laki-laki itu saat ini malah tertawa seakan mengejek Gieno. "Kau malah membahas perempuan lain di samping perempuan yang sedang bersamamu saat ini. Apa kau tidak menghargai perasaannya?" Raka berucap sambil menoleh ke arah Naraya.
Naraya terkejut saat dengan tiba-tiba Raka menoleh ke arahnya. Berbeda dengan Gieno yang nampak tidak tertarik untuk ikut menatap ke arah Naraya. Iblis gila itu masih sibuk menatap wajah Raka dengan tatapan maut khas milik iblis gila.
"Last warning for you, jangan pernah menyebut nama gadisku lagi. Apalagi jika sampai kau mengganggu Mentari. Kau mungkin lupa jika kau saat ini hanya memiliki satu kesempatan terakhir. Pertempuran terakhir … kau tidak akan bisa lolos lagi dari kejaran maut," desis Gieno memperingati.
Tangan Raka mengepal erat mendengar kalimat Gino. Laki-laki itu jelas tahu dan ingat betul bagaimana perjanjian mereka beberapa tahun yang lalu. Sayangnya perjanjian itu malah berakhir sia-sia, bahkan sampai babak terakhir seperti ini, Raka masih belum bisa mengalahkan Gieno.
__ADS_1
Jujur saja Raka tentu merasa terintimidasi oleh tatapan mata tajam Gieno. Selain tatapan tajam mata iblis gila itu, Raka juga merasa terintimidasi oleh kalimat Gieno yang jelas tidak pernah main-main. Raka yang diberi julukan sebagai musuh abadi Gieno, jelas tahu betul bagaimana sifat dan sepak terjang seorang iblis gila itu.
"Tidak usah kau ingatkan, aku tahu dan masih ingat betul bagaimana perjanjian kita beberapa tahun yang lalu. Kali ini pertempuran terakhir kita, akan kucetak satu sejarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa kau ingin tahu apa pemancingku kali ini?"
Gieno menatap dingin wajah Raka yang saat ini sedang menyeringai penuh arti. Meski sebenarnya iblis gila itu merasa penasaran dengan rencana dari. Namun, Gieno bisa mempertahankan raut wajahnya untuk tetap datar tanpa ekspresi.
"Aku ingin tahu bagaimana reaksimu setelah melihat foto-foto ini." Raka menyerahkan satu amplop yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil kepada Gieno.
Dua laki-laki itu saat ini tidak menghiraukan para pengunjung klub yang sedari tadi sudah memperhatikan perdebatan mereka. Para pengunjung klub itu jelas sangat terkejut dengan kedatangan Gieno, sang iblis gila. Bahkan tepat saat aura tegang diantara dua laki-laki itu muncul, di saat itu pula musik memekakkan telinga di klub malam itu dihentikan.
Saat ini keadaan klub malam itu sunyi senyap seakan berada di kuburan. Hanya terdengar percakapan antara Gieno dan Raka. Mereka memilih mencari jalur aman untuk tidak terlibat di antara percekcokan dua gangster itu.
Gieno meraih amplop yang disodorkan oleh Raka. Setelahnya laki-laki itu membuka amplop itu dengan perasaan penasaran. Secara perlahan amplop itu mulai terbuka dan memperlihatkan beberapa lembaran foto di dalam amplop itu. Baru satu foto yang sempat dilihat oleh Gieno, tapi yang itu sudah mampu memancing jiwa gila di dalam tubuh laki-laki itu.
Terbukti sekarang Gieno meremas lembaran foto yang ada di tangannya dengan rahang mengeras. Bola mata laki-laki itu mulai menggelap dan sebuah seringai iblis yang begitu jarang keluar akhirnya sekarang tercetak jelas di wajah tampan Gieno. Secara tiba-tiba telat malam itu berubah menjadi begitu dingin dengan aura yang begitu mencekam.
Bahkan raya yang melihat perubahan raut wajah Gieno saat ini memilih menjauh dari laki-laki itu. Wanita itu sempat melihat gambar yang terpampang di dalam lembaran foto yang ada di tangan Gieno. Wajah Mentari, Naraya melihat wajah Mentari di sana tetapi dengan tubuh telanjang. Bisa ditebak jika itu adalah foto editan.
"Die," desis Gieno.
Deg …. Raka menegang mendengar suara rendah laki-laki di depannya itu. Jika tadi keberaniannya masih berada di angka tujuh puluh persen. Berbeda sekarang di mana keberanian laki-laki itu turun drastis sampai berada di angka lima belas persen. Saking tertekannya oleh aura Gieno. Raka bahkan tidak mampu menggerakkan kakinya untuk menjauh dari Gieno.
__ADS_1
'****, kenapa kakiku malah merasa begitu berat. Kalau begini, aku benar-benar bisa mati di tempat. Gieno bukan lawanku, aku tidak mampu sendiri,' batin Raka panik.