Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
48. Menghilang


__ADS_3

"No." Suara Yezo terdengar dari benda yang terpasang di belakang telinga Gieno.


"Apa?" sahut Gieno.


"Aku rasa kau harus segera kembali," papar Yezo.


Kening Gieno berkerut. "Kenapa? Aku belum selesai," tutur Gieno.


"Mentari sudah sadar, serangan paniknya kambuh. Aku hanya membuka pintu saja dia sudah histeris, dia terus memanggil namamu," ungkap Yezo.


Gieno terdiam. "Kalian di mana sekarang?" tanya Gieno. Laki-laki itu mulai memacu langkahnya ke luar ruangan.


"Masih di luar, dia sudah sedari tadi sadar. Tapi jaringan beberapa menit lalu bermasalah sehingga kami tidak bisa menghubungimu. Ferry sudah di jalan, aku rasa beberapa menit lagi dia sampai. Dia yang akan melanjutkan misinya, kau cepatlah ke sini," terang Yezo.


"Aku berangkat," ucap Gieno. Iblis gila itu berjalan cepat ke arah mobilnya. Belum sampai di area parkiran, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Tanpa aba-aba Gieno dengan cepat mendekat.


Pintu mobil terbuka dan memperlihatkan Ferry keluar dari sana. Tanpa suara, Gieno mengambil alih mobil itu dan berlalu begitu saja. Ferry yang melihat itu menggelengkan kepalanya. "Aku rasa dia benar-benar sudah menyukai gadis itu," gumam Ferry. Setelahnya laki-laki itu beranjak masuk ke dalam mansion yang saat ini sedang begitu ricuh.


...*****...

__ADS_1


Gieno membuka seragam pegawai pizza itu, kemudian mengambil sebuah kaos oblong di dalam mobil Ferry. Laki-laki tampan itu berjalan sambil memakai bajunya cepat. Gieno terus memacu langkah di lorong rumah sakit tempat Mentari di rawat. Dari kejauhan laki-laki itu dapat melihat empat laki-laki sedang duduk dengan fokus ke layar laptop.


Tanpa menyapa dan bersuara, Gieno masuk begitu saja ke dalam ruangan inap Mentari. Sedangkan Mentari yang mendengar pintu terbuka, segera menoleh dengan wajah was-was. Mata bulat gadis itu nampak lega saat melihat orang yang masuk adalah Gieno. Entah bagaimana, yang pasti perasaan Mentari menjadi lebih tenang jika sedang bersama laki-laki dingin itu.


"Kak," panggil Mentari pelan.


Gieno mendekat dan menatap wajah pucat Mentari. "Ingin apa? Perutmu lapar?" tanya Gieno datar.


Mentari menggeleng pelan. "Kakak dari mana?" tanya Mentari.


"Menjalankan misi." Gieno menjawab jujur sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang berada tepat di samping ranjang Mentari.


Gieno menatap wajah Mentari intens, laki-laki itu bisa menangkap raut ketakutan di dalam wajah gadis itu. "Kau belum sembuh, tunggu sebentar lagi," tutur Gieno.


Mentari menunduk sambil memainkan jari tangannya. "Aku sudah tidak apa-apa," ujar Mentari pelan.


"Kau baru sadar dari operasi, itu yang sudah tidak apa-apa?" sindir Gieno.


Mentari memajukan bibirnya mendengar kalimat Gieno. Sedangkan Gieno yang melihat itu menggeram menahan rasa gemas. "Kau ingin aku makan?" celetuk Gieno.

__ADS_1


Mentari mendongak menatap Gieno bingung. "Kakak lapar? Itu ada buah, atau pesan makanan saja. Tidak boleh memakan manusia, itu kanibal namanya," papar Mentari polos.


Gieno menatap wajah Mentari dengan pandangan datarnya. "Kalau aku hanya ingin memakan kamu bagaimana?" bisik Gieno.


Bulu kuduk Mentari berdiri mendengar suara berat yang begitu rendah itu. "Jangan, Kak. Dagingku tidak enak, pahit," cicit Mentari.


Gieno tersenyum begitu tipis, sifat polos Mentari membuat laki-laki itu merasa cukup terhibur. "Aku hanya ingin memakan bibirmu saja, tidak yang lain," cetus Gieno.


Mentari terkejut, gadis itu melotot menatap wajah Gieno. Sedangkan Gieno yang kembali melihat sedikit cahaya di mata bulat kesukaannya itu merasa sedikit lega. Namun, beberapa detik kemudian cahaya mata itu kembali meredup dan berubah sendu. Hal itu membuat kening Gieno berkerut.


"Kenapa?" tanya Gieno.


"Bibirku, dia … dia, hiks." Mentari tidak dapat melanjutkan kalimatnya, suara isakan adalah sambungan dari kalimat yang terpotong itu.


Rahang Gieno mengeras saat laki-laki itu mengerti arah pembicaraan Mentari. Dengan tiba-tiba laki-laki itu berdiri dari duduknya dan ikut naik ke atas ranjang Mentari. "Jangan dipikirkan lagi, ini aku membersihkan bekasnya?" Gieno memeluk tubuh Mentari dari belakang.


Sedangkan Mentari yang awalnya menunduk, kini mendongak saat mendengar kalimat Gieno. "Bagaimana caranya, Kak?" tanya Mentari. Gadis itu menatap wajah Gieno yang berada di belakangnya.


Tanpa menyahut, Gieno menyambar mulut Mentari dan me***atnya pelan. Tidak tergesa, laki-laki itu melakukannya begitu pelan dan begitu lembut. Aksi itu membuat Mentari terbuai dan hanyut ke dalam permainan bibir mereka. Gieno memperdalam ciuman mereka, laki-laki itu menangkup wajah mungil Mentari dengan satu telapak tangan kekarnya. Sedangkan satu tangan lagi, dia selipkan di pinggang Mentari, memeluk tubuh gadis itu hangat. Hal itu membuat Mentari seakan merasa terlindungi.

__ADS_1


__ADS_2