Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
23. Kak Eno?


__ADS_3

"Aaaa …." Mentari berteriak kencang saat dengan tiba-tiba Gieno menggendongnya ala bridalsyle.


Gieno menatap Mentari yang hanya menampakkan mata dibalik balutan selimut tebal itu. "Kau ingin aku apakan?" tanya Gieno.


"Hah?" Mentari menatap bingung ke arah Gieno. Sedangkan iblis gila itu merasa begitu gemas dengan mata bulat Mentari yang berkedip-kedip karena bingung.


"Kau benar-benar mengujiku," desis Gieno.


"Aku?" tanya Mentari bodoh.


Bruk …. "Aaa." Mentari kembali menjerit kala Gieno melemparkan tubuhnya kasar ke atas ranjang. Gadis itu tidak merasakan sakit sedikit pun, sebab ranjang yang menahannya begitu lembut ditambah dengan balutan selimut tebal disekujur tubuhnya.


'Seandainya aku bisa, sudah habis kau,' batin Gieno frustasi.

__ADS_1


'Tidak bisakah dia lembut sedikit? Jadi laki-laki kasar sekali,' sungut Mentari di dalam hati.


"Tidurlah, aku ada urusan," ucap Gieno.


Mentari melotot mendengar itu, gadis itu berusaha untuk duduk tetapi karena tubuhnya terbalut selimut membuatnya kesulitan. Akhirnya gadis itu tampak seperti ulat yang terus bergeser ke area pinggir kasur. Gieno masih diam menatap tingkah aneh Mentari dengan wajah datarnya. Bruk …. "Akhh …."


Gadis itu terjatuh ke lantai, Mentari merasa sedikit ngilu di pantatnya. Sedangkan Gieno masih berdiri diam ditempat, menatap datar gadis yang sudah menggeliat lucu di bawah kakinya. Mentari mendongak dan menatap Gieno dengan mata bulatnya yang tampak meminta tolong. "Kamu tidak ingin membantuku, Kak? Aku kesulitan," cicit Mentari.


Gieno memutar bola matanya malas sambil menghela napas kesal. Laki-laki itu menunduk dan menenteng selimut yang menutupi tubuh Mentari dengan satu tangannya. "Aaa …." Untuk kesekian kalinya Mentari kembali memekik ketakutan kala matanya menatap sempurna ke lantai.


"Ti-tidak bisakah kamu membantuku lebih lembut lagi? Jantungku serasa akan copot, rasanya hampir sama dengan naik rollercoster," ucap Mentari.


Gieno berdecak, tetapi setelahnya laki-laki itu mendudukkan tubuh Mentari sedikit lembut di tepian ranjang. Ingat, hanya sedikit lembut. "Kak," panggil Mentari.

__ADS_1


"Ck, apa lagi?" tanya Gieno.


"Aku ikut denganmu ya, aku takut di sini sendiri," cicit Mentari.


Gieno menatap mata bulat gadis itu yang sudah memerah karena menahan kantuk. Gieno kembali menghela napas dan mendekat ke arah gadis itu. "Cepat tidur." Gieno menggendong tubuh Mentari dan ikut berbaring di samping gadis itu.


Mentari sempat tertegun dengan perlakuan Gieno. Namun, gadis itu memilih diam tidak ingin merusak mood Gieno yang mungkin saat ini sedang dalam keadaan baik. Gadis itu mencoba bergerak, tetapi tidak bisa karena tubuhnya benar-benar terbelit kuat. 'Ck, kenapa bisa sampai seperti ini,' batin Mentari kesal.


Tanpa aba-aba, Gieno membuka selimut yang melilit di tubuh Mentari. Tanpa bersuara laki-laki itu membawa wajah Mentari bersembunyi di dada bidangnya. Mentari diam tanpa membantah. Entah kenapa berada di dekat Gieno saat laki-laki itu kalem seperti itu, membuat Mentari merasa begitu nyaman.


Secara perlahan gadis itu memejamkan matanya yang memang sudah sedari tadi terasa berat. Namun, ketakutannya membuat Mentari menahan kantuknya sedaro tadi. Gieno pun merasa aneh dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja bisa berperilaku kalem seperti ini kepada seorang perempuan. Entah mata bulat itu juga yang membuat laki-laki dingin itu perlahan luluh.


Gieno menunduk kala merasakan hembusan napas teratur di area dadanya. Laki-laki itu menatap intens mata bulat yang sudah terpejam itu dengan pandangan yang sulit diartikan. 'Apa benar yang dikatakan oleh Rangga?' batin Gieno bingung.

__ADS_1


Merasa aman, Gieno berniat mendudukkan tubuhnya. Namun, secara tiba-tiba tangan mungil Mentari memeluk erat pinggang laki-laki dingin itu. "Kak Eno, aku takut," gumam Mentari di dalam tidurnya.


Kedua alis Gieno saling bertaut mendengar racauan gadis itu. "Kak Eno? Siapa Kak Eno?" gumam Gieno.


__ADS_2