
"Ekhm … Kak, sebenarnya aku lapar," tutur Mentari polos.
Gieno hampir terbahak mendengar kalimat polos yang dilontarkan Mentari. Namun, laki-laki itu dengan cepat menahan suaranya supaya tidak tertawa. Gieno menarik kepalanya dari ceruk leher Mentari dan menatap wajah polos gadis itu. Kedua sudut bibir Gieno tertarik sedikit membentuk senyum tipis.
"Apa kau bisa menungguku bersih-bersih dulu? Atau sudah begitu lapar?" tanya Gieno.
Mentari diam, gadis itu tertegun mendengar suara Gieno yang bisanya begitu datar dan cuek. Kini terasa lebih hangat dan lembut. Meski kesan datar itu masih ada, tetapi kali ini terasa lebih hangat.
Kening Gieno berkerut saat melihat wajah manis Mentari yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan polos. Mata bulat itu nampak tidak berkedip menatap wajahnya. Melihat itu, Gieno terkekeh kecil merasa gemas sendiri. Secara perlahan Gieno menekan pipi bulat milik Mentari.
Mentari nampak terkejut saat merasakan sentuhan lembut dari jari kekar itu. Gadis itu melihat Gieno yang saat ini nampak menatapnya dengan sebelas alis terangkat. "Kenapa diam? Apa sudah lapar sekali?" ulang Gieno.
"E-eh, bukan begitu, Kak. Tidak apa-apa, Kakak bersih-bersih saja dulu. Aku tunggu di sini," tutur Mentari.
"Baiklah, aku mandi dulu." Gieno berdiri sambil membawa tubuh Mentari. Setelahnya, laki-laki itu meletakkan tubuh Mentari di tepian kasur empuk itu.
__ADS_1
Mentari menghela napas panjang saat melihat tubuh Gieno sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Gadis itu mengelus dadanya, setelahnya Mentari menepuk pelan pipinya merasa tidak percaya. Masih merasa belum puas, Mentari mencubit tangannya sampai dia meringis sendiri. "Ah, sstt …." ringis Mentari.
"Kenapa?" Suara berat Gieno mengejutkan Mentari yang sedang sibuk sendiri. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara, dan melotot saat melihat Gieno berjalan dari dalam kamar mandi dengan keadaan bertelanjang dada.
Glek …. Mentari menelan ludahnya kasar melihat tubuh kekar iblis gila itu. Mata bulat gadis itu semakin membulat menatap tubuh Gieno tanpa berkedip. Gieno yang sadar dengan wajah terpana gadis itu, tersenyum miring. Kali ini laki-laki itu tidak berniat menggoda Mentari. Gieno terus berjalan ke arah sebuah nakas dan mengambil sebuah benda yang tidak Mentari ketahui.
Mentari yang melihat Gieno kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tersadar dan mengusap wajahnya kasar. "Astaga, jadi aku tidak mimpi," gumam Mentari.
...*****...
"Iya, Melvin mana videonya?" sahut Yezo.
Melvin memberikan laptop miliknya kepada Yezo, sedangkan Yezo memberikan benda itu kepada Gieno. "Raka ini sepertinya benar-benar sudah bosan hidup. Dia dengan terbuka kembali mengatakan ingin mengacau. Tapi kita belum bisa membaca pergerakannya," jelas Yezo.
Gieno menatap layar laptop di depannya dengan pandangan dingin. Laki-laki itu memainkan lidahnya di dalam mulutnya sambil menyeringai. "Baguslah, jadi sebelum aku membasmi Barka, ada yang datang sebagai pemanasan," papar Gieno dengan suara rendahnya.
__ADS_1
"Aku hanya khawatir jika ini ada sangkut pautnya dengan Mentari," tutur Rangga.
Gieno menoleh ke arah Rangga dangan pandangan tidak dapat diartikan. "Alfa dua dan tiga, suruh mereka bertugas di mansionku," titah Gieno.
Lima laki-laki yang berada di sana saling tatap mendengar kalimat Gieno. "Tumben?" celetuk Petrik.
"Lakukan saja, mulai hari ini. Perketat penjagaan mansionku, tidak ada satu pun yang boleh masuk lagi," papar Gieno.
Lima laki-laki itu kembali saling tatap dan tersenyum penuh arti saat mendengar kalimat Gieno. "Apa kau sekarang khawatir jika gadismu disentuh?" cetus Ferry.
Gieno hanya diam menatap wajah Ferry yang baru saja bersuara. Laki-laki itu tidak menyahut, meski di dalam hatinya, laki-laki itu membenarkan kalimat Ferry. Memang Gieno merasa tidak suka jika Mentari diganggu apalagi disentuh oleh laki-laki lain.
"Jadi intinya, aku tidak bisa melanjutkan rencana untuk Naraya?" tanya Gieno.
"Kita tunda dulu, kau bisa mencari waktu lain," balas Yezo.
__ADS_1
Gieno mengangguk singkat mendengar kalimat Yezo. "Lagi pula, kau akan mudah membawanya ke mana saja. Sebab dia sudah berada di genggamanmu, bukan?" celetuk Rangga.