Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
123. Tidak


__ADS_3

Naraya yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka sudah mengepalkan tangannya merasa marah. 'Kenapa Kak Gieno nampak begitu takut kehilangan gadis itu?' batin Naraya marah.


"Tidak, aku yang pasrah. Silakan Kakak lanjutkan acara Kakak dengan perempuan itu. Aku tidak ingin mengganggu, abaikan saja aku," papar Mentari pelan.


Gieno menggeleng cepat, laki-laki itu menatap Mentari dengan pandangan memohon. "Tidak, aku sudah tidak ada urusan dengannya. Sedari dulu aku juga tidak ada urusan dengannya. Dia hanya sampah yang lewat, aku tidak butuh dia," cetus Gieno.


Jelas saja mendengar itu, Naraya merasa semakin marah. Wanita itu semakin mengepalkan tangannya karena marah. 'Mati saja wanita brengsek ini,' batin Naraya marah.


"Tidak ada hubungan, apa maksudnya tidak puas dengan hubungan panas kalian tadi malam. Sampai harus mengulangnya lagi? Bahkan di sini, di mansion di mana ada aku?" ucap Mentari miris.


"Apa maksud kamu, Lux. Hubungan panas apa?" tanya Gieno bingung.

__ADS_1


"Ini, hubungan panas yang memang selalu Kakak lakukan kan?" Mentari berucap sambil melemparkan sebuah foto ke arah Gieno.


Iblis gila itu tidak perlu memungut foto itu, sekilas pun laki-laki itu juga tahu jika foto itu adalah foto yang dia kirim kepada keluarga Barka. Melihat itu tentu saja membuat Gieno marah, tangan laki-laki itu mengepal erat sambil berdesis. "Naraya," desis Gieno marah.


"Dengarkan aku, Lux. Aku memang bukan laki-laki baik, aku akui itu. Tapi semenjak aku mengungkapkan hatiku kepadamu. Maka saat itu aku sudah tidak lagi berhubungan dengan perempuan manapun termasuk dia. Aku sudah tidak melakukan itu lagi karena aku sudah tidak berminat. Setiap kali aku ingin melakukan itu, wajah kamu selalu meneror pikiran dan otakku. Jadi ini bukan aku, tapi laki-laki lain," jelas Gieno panjang lebar. Laki-laki itu nampak begitu tergesa menjelaskan karena merasa takut jika Mentari lebih dulu berpikiran pendek.


"Kenapa kamu harus berbohong, Kak? Kita kan tadi malam memang bersama, mabuk bersama dan tidur bersama." Naraya tiba-tiba bersuara sambil mendekat ke arah Gieno. Setelahnya perempuan itu memeluk tubuh Gieno yang sedang tidak memakai atasan.


Bruk …. Tanpa rasa kasihan, Gieno mendorong tubuh Naraya sampai wanita itu terjatuh ke atas lantai. Iblis gila itu menatap tajam Naraya, isyarat akan kemarahan. "Kau jangan berbicara lagi jika tidak ingin mati di tanganku," desis Gieno.


"Kamu sering membohongiku, aku tahu. Mungkin karena aku bodoh … dan juga, kamu tidak memakai baju saat ini sudah cukup menjadi bukti jika apa yang dikatakan oleh perempuan itu memang benar," lirih Mentari begitu pelan.

__ADS_1


Gieno menggelengkan kepalanya cepat mendengar kalimat Mentari. "Tidak, bukan begitu. Ini terjadi tidak sengaja, Lux. Tolong kamu turun dulu, nanti aku jelaskan. Biarkan aku ke sana, ya," ucap Gieno begitu pelan.


"Tidak, Kak. Aku sudah lelah, aku selalu kamu kurung. Tapi kamu seenaknya berhubungan dengan perempuan lain. Aku ini manusia yang memiliki hati, bukan robot," ucap Mentari.


Glek …


Gieno menelan salivanya kasar saat mendengar perkataan Mentari yang sukses membuatnya semakin takut. "Aku sudah lelah dengan ini semua. Memang aku yang salah, aku tidak menyalahkan kamu. Aku menyalahkan diriku sendiri yang bodoh dengan menyukai laki-laki bebas sepertimu. Seharusnya aku yang sadar diri sedari dulu, aku memang bodoh. Aku bodoh dengan perasaanku sendiri."


Gieno mengepalkan tangannya saat kembali melihat wajah sedih gadisnya. Apalagi saat ini Mentari sedang menatapnya dengan mata bulat yang berair itu. Hati Gieno semakin perih dan pedih.


"Kak, aku menyayangi kamu. Aku mencintai kamu, terima kasih selama ini sudah memperlakukan aku dengan manis. Terima kasih sudah mengajarkan rasa senang sekaligus rasa sakit kepadaku. Aku menunggu kisahmu ke depannya, sampai berjumpa lagi. Aku sayang Kakak."

__ADS_1


Mentari berucap sambil tersenyum manis ke arah Gieno yang terdiam. Mata laki-laki itu melotot menatap Mentari yang nampak masih tersenyum manis ke arahnya. Secara perlahan gadis itu memejamkan matanya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja.


Gieno melotot dan berlari mencoba menggapai tubuh Mentari. Namun, pergerakan laki-laki itu terlambat. "Tidak, tidak. Mentari! Mentari! Tidak!!!!" teriak Gieno histeris.


__ADS_2