Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
52. Tidak Nyaman


__ADS_3

Naraya menatap wajah tampan milik Gieno yang nampak sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Sedangkan Gieno masih terus sibuk dengan benda pintar itu meski dia tahu betul wanita di depannya sedang menatapnya tanpa berkedip. "Kau tidak bekerja?"


Suara datar Gieno mengejutkan Naraya. Wanita itu menoleh ke arah Gieno yang tidak mengalihkan pandangan dari telepon genggamnya. "Aku sedang masa bersantai, Kakek dan Papa memang menyuruhku untuk mengambil alih perusahaan Barka. Tapi aku tidak minat, aku lebih suka fashion," ungkap Naraya.


Mendengar itu Gieno tersenyum miring. "Kau punya saudara laki-laki?" tanya Gieno lagi.


Naraya bersorak senang di dalam hatinya saat merasa jika Gieno sudah mulai bisa diajak adu suara. 'Baiklah, ini sudah semakin bagus. Dia sudah mulai mengajakku berbicara,' batin Naraya senang.


"Aku anak tunggal dan keturunan tunggal juga. Papa dan Kakek pernah mengatakan kalau mendiang Tanteku memiliki satu putra, tetapi sudah meninggal. Sayang sekali," ucap Naray.


'Meninggal?' Gieno membatin sambil menyeringai licik.


"Kamu sendiri bagaimana? Kamu anak tunggal?" sambung Naraya bertanya.


"Ya," sahut Gieno singkat.


Naraya mengangguk pelan menanggapi jawaban singkat laki-laki itu. "Orang tua kamu tinggal di mana?" tanya Naraya lagi.


Gieno diam mendengar pertanyaan itu. "Sudah meninggal," sahut Gieno datar.


Naraya terkejut mendengar jawaban dari laki-laki dihadapannya. "Maaf, ya," ucap Naraya pelan.


"Aku pergi." Gieno berdiri dari duduknya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Naraya.

__ADS_1


Sedangkan Naraya yang melihat kepergian Gieno sudah menghela napas panjang. "Apa dia marah?" gumam Naraya. "Ah, pasti tidak. Biasanya dia juga meninggalkan aku begitu saja," sambung Naraya.


...*****...


"Kau sudah mengurus semuanya? Kenapa di sini masih kosong?" tanya Gieno.


"Memang sengaja aku kosongkan, supaya kita ingat," sahut Rangga.


Gieno mengangguk paham. "Jadi semua sudah selesai bukan?" tanya Gieno lagi.


"Iya, tinggal kau saja yang harus mengatur jadwal. Apa kau benar-benar jadi berangkat ke Irlandia?" balas Yezo.


"Tentu saja," sahut Gieno singkat. Iblis gila itu menghisap rokoknya dan terus menatap pergerakan kurva di layar laptop.


Gieno terdiam, dia melupakan Mentari. Gadis itu masih dalam proses pemulihan, begitu pula dengan psikisnya. Gieno mematikan rokoknya dan berdiri dari duduknya. Melihat itu lima laki-laki yang berada di sana mendongak menatap sang ketua. "Siapa yang tadi berjaga?" tanya Gieno.


"Aku, tapi aku baru saja pulang karena dia sudah tidur," sahut Ferry.


Gieno mengangguk singkat, setelahnya laki-laki itu berjalan ke arah pintu. "Kau ingin ke sana?" tanya Yezo.


"Hem," deham Gieno.


...*****...

__ADS_1


Cklek …. Gieno masuk dan menatap wajah Mentari yang sedang tertidur. Kening laki-laki itu berkerut saat melihat tubuh Mentari berkeringat cukup banyak. Bisa dia lihat, kerutan takut di raut wajah Mentari. Padahal gadis itu sedang tertidur, tetapi terlihat begitu tidak nyaman dan seperti terganggu.


"Kenapa dia?" gumam Gieno.


Gieno mendekat dan mengusap keringat di wajah Mentari. Laki-laki itu terkejut kala dengan tiba-tiba tangannya dipegang erat oleh Mentari. Secara perlahan mata bulat gadis itu terbuka. Wajah datar Gieno adalah pemandangan pertama yang dilihatnya. "Kenapa sudah bangun? Bukankah kau baru saja terlelap?" ujar Gieno.


Mentari hanya tersenyum tipis ke arah laki-laki itu. Semenjak kejadian itu, tidur Mentari memang sudah tidak pernah nyaman. "Apa boleh aku memegang tangan Kakak saat tidur?" tutur Mentari pelan.


Gieno menatap Mentari dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kenapa?" balas Gieno balik bertanya.


Tring … tring … tring …


"Apa?" sahut Gieno tanpa basa-basi.


"Kau kenapa malah menanyakan kenapa? Jawab saja boleh, apa kau lupa kalau dia masih mengalami keterguncangan psikis? Beberapa hari memperhatikannya, aku bisa melihat kalau dia tidak pernah nyaman di dalam tidurnya. Kecuali jika bersamamu, sepertinya dia masih mengalami ketakutan di dalam mimpinya. Dia hanya nampak tenang jika ada kau didekatnya," ungkap Rangga.


Gieno diam mendengar suara Rangga di seberang telepon genggamnya. Laki-laki itu melirik Mentari yang ternyata sudah kembali tertidur dengan memeluk tangan kanannya. "Kau lihat? Dia bahkan sangat mudah tertidur hanya dengan memegang tanganmu. Memang benar apa yang dikatakan Petrik, kenapa dia bisa nyaman dan merasa aman denganmu? Padahal kau bahkan lebih mengerikan dari pada Januar," papar Rangga.


"Matikan CCTVnya, aku tidak suka ada yang mengintip."


"Tidak suka? Padahal selama ini kau selalu berhubungan sembarangan tempat," ejek Rangga.


"Berisik, lakukan saja." Setelah mengucapkan itu, Gieno memantikan sambungan telepon begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2