Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
17. Gadis itu


__ADS_3

Gieno berjalan gagah menuju lift perusahaannya. Namun, langkah kaki laki-laki itu terhenti kala seseorang tiba-tiba terjatuh di dekatnya. Lebih tepatnya pura-pura terjatuh. "Shh, sakit," ringis wanita itu.


Sedangkan Gieno hanya memandang wanita itu datar tanpa berminat. Gieno tersenyum miring kala melihat wajah wanita itu. "Tuan, tolong aku," ucap wanita itu.


'Heh, ternyata aku tidak perlu bergerak untuknya. Dia sendiri yang datang menghatarkan tubuhnya untuk aku jadikan alat,' batin Gieno sinis.


"Memangnya kau siapa ingin aku sentuh?" Setelah mengatakan itu, Gieno pergi begitu saja meninggalkan Naraya yang sedang mendengus kesal.


Naraya berdiri dengan tampang kesalnya menatap punggung kokoh Gieno. "Ck … lihat saja, aku akan segera mendapatkanmu," ucap Naraya penuh percaya diri.


...*****...


"Gi," panggil Yezo.


"Hem," deham Gieno.


"Malam nanti kau ikut?" tanya Yezo.


Gieno mendongak, mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arah Yezo. "Memangnya ada apa?" tanya Gieno.

__ADS_1


"Kau tidak mengecek ponselmu? Aku sudah menyebarkan semalam, tinggal kau yang tidak merespon," terang Yezo.


Gieno mengernyit, kemudian laki-laki itu ingat kalau semalam dia memang tidak menghiraukan telepon genggamnya. Setelah pulang dari rumah kedua orang tua Mentari, Gieno memilih menghabiskan waktu bersama gadis itu bahkan sampai tertidur bersama. "Tidak, katakan saja," sahut Gieno.


"Nanti akan ada balapan mobil antara anak Tariyo dengan Gray. Zero diundang sebagai tamu kehormatan," jelas Yezo.


Gieno mengangguk singkat, laki-laki itu tersenyum miring. "Anak Gray memiliki cadangan wanita yang luar biasa, aku ikut," sahut Gieno.


Yezo menghela napas panjang mendengar itu. "Terserahmu, bagaimana dengan gadis itu?" tanya Yezo.


Gieno kembali menoleh ke arah temannya itu. "Gadis yang mana?" tanya Gieno.


Gieno mengangguk singkat, setelahnya laki-laki itu kembali fokus kepada laptopnya. "Tidak ada," balas Gieno santai.


"Kenapa kau mengurungnya?" tanya Yezo.


"Karena aku ingin," sahut Gieno ringan.


Yezo kembali menghela napas. "Kau menyukainya?" tanya Yezo lagi.

__ADS_1


Gieno terdiam, mendengar pertanyaan itu Gieno membayangkan wajah Mentari. Mentari hanyalah gadis sederhana dari keluarga biasa-biasa saja. Wajah gadis itu cantik alami tanpa polesan apa pun. Jika dibandingkan dengan para wanita yang selama ini Gieno tiduri, Mentari mungkin kalah saing. "Aku suka matanya," tutur Gieno terus terang.


"Hanya itu?" Yezo berucap sambil mengernyit ke arah Gieno.


Sedangkan pemimpin Zero itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Ya, apa lagi? Bodinya kalah jauh dari para wanita yang aku tiduri. Wajahnya juga tidak terlalu mencolok oleh make up," jelas Gieno.


"Jelas saja, bukannya kau sendiri yang mengatakan kalau dia masih perawan? Terus, kalau hanya itu yang mau suka … kenapa harus mengurungnya?" tanya Yezo bingung.


Gieno kembali terdiam, dia pun tidak tahu dengan jalan pikiran dan keinginannya itu. "Sudahlah, kenapa kau malah membahas ini?" papar Gieno.


"Tidak, aku hanya penasaran. Kau mengurungnya, dan aku jamin … kau pasti masih berhubungan dengan wanita lain di mansionmu, bukan?" ucap Yezo.


"Sudah aku katakan itu kebutuhanku," balas Gieno santai.


"Ck … apa kau tidak memikirkan perasaan gadis itu? Dia pasti mendengar suara laknat kalian, atau mungkin dia sudah pernah melihat kau menggempur wanita lain," kata Yezo.


Untuk kesekian kalinya Gieno terhenti dengan kegiatannya. "Sudahlah, kau selesaikan ini cepat." Gieno melemparkan sebuah map ke arah Yezo yang sudah mendengus kesal.


"Nanti jam berapa?" tanya Gieno.

__ADS_1


Tangan Yezo yang ingin meraih pintu terhenti. "Jam sebelas," sahut Yezo.


__ADS_2