Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
118. Rencana


__ADS_3

Gieno berjalan mendekat ke arah Naraya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum ke arahnya. Laki-laki itu memang memiliki janji dengan Naraya malam ini. Gieno terus berjalan dengan wajah dinginnya seperti biasa.


“Hai, Kak. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Naraya bersuara menyapa Gieno sambil memeluk lengan kekar laki-laki itu tanpa ragu. Gieno diam tanpa membantah dan melarang apa yang dilakukan oleh wanita itu.


“Jadi malam ini kita jadi jalan-jalan kan, Kak?” tanya Naraya.


“Hem,” deham Gieno.


“Kita ingin kemana sebenarnya, Kak?” tanya Nayara penasaran. Pasalnya rencana pergi jalan saat ini memang karena Gieno yang mengajak. Entah apa yang laki-laki itu rencanakan, yang pasti Naraya begitu senang saat dengan tiba-tiba Gieno mengajaknya pergi jalan. Naraya tidak memiliki rasa curiga sedikit pun kepada Gieno.


Wanita itu terlalu dibutakan oleh rasa suka dan cinta hitamnya kepada Gieno. Bahkan wanita itu membohongi keluarganya tentang perjalanan malam ini. Naraya mengatakan ingin menginap di tempat temannya karena temannya sedang ada masalah. Sebab jika wanita itu jujur, jelas saja dia tidak akan mendapat izin sebab saat ini hari sudah pukul dua belas malam.


Seperti itulah gilanya Naraya karena Gieno. Bahkan wanita itu tidak keberatan untuk bertemu padahal sudah begitu larut malam. Naraya seakan tidak memikirkan resiko apa yang akan dia terima jika tidak bisa mengontrol hatinya. Sebab antara cinta dan kebodohan hanya berbeda tipis, bahkan kadang menyatu.

__ADS_1


“Aku sedang butuh teman minum, aku ada sedikit masalah,” tutur Gieno dengan nada datarnya.


Naraya terkejut saat mendengar kalimat Gieno. Namun, beberapa saat kemudian wanita itu tersenyum senang. ‘Jadi intinya sekarang secara tidak langsung Kak Gieno itu membutuhkan aku kan? Berarti dia menganggap aku ini penting, dia mau berbagi denganku,’ ucap Naraya di dalam hati.


“Kakak ada masalah apa? Aku siap mendengarkan, kok,” papar Naraya.


“Nanti saja,” balas Gieno.


“Baiklah,” sahut Naraya.


“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya Gieno kepada Yezo.


“Sudah, kau … tidak akan berbuat gila kan?” sahut Yezo curiga.

__ADS_1


Gieno tidak menyahut, laki-laki itu hanya tersenyum miring sambil menatap tubuh Naraya yang sudah lemas karena mabuk. Melihat gelagat aneh dari laki-laki itu, jelas saja Yezo semakin merasa curiga. “Sekarang kau siapkan saja semuanya, jangan sampai ada adegan yang terpotong dan tidak terekam,” tutur Gieno.


Mendengar itu, Yezo hanya mampu menghela napas berat. Laki-laki itu tidak bisa mengatur pemimpin Zero itu untuk berbuat sesuatu. Sebab dia yang paling tahu bagaiamana keras kepalanya iblis gila itu. “Aku hanya ingin mengingatkan, untuk kau jaga perasaan Mentari. Aku hanya takut, jika Mentari tahu ini dia pasti akan sangat sedih dan sakit,” peringat Yezo.


Tanpa menunggu jawaban Gieno, laki-laki itu pergi dari sana meninggalkan Gieno yang terdiam. Iblis gila itu nampaknya sedang memikirkan dan meresapi perkataan Yezo. ‘Aku selalu mengingatnya, tapi ini berbeda. Aku tidak bisa melupakan dendam ini begitu saja,’ batin Gieno.


“Kak … Kak Gieno.” Suara Naraya menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya. Gieno menoleh dan melihat Naraya sedang berguling ke atas lantai dingin ruangan itu. Iblis gila itu menatap dingin ke arah Naraya.


Laki-laki itu mendekat ke arah Naraya dan menunduk menatap datar ke arah wanita itu. Baru saja laki-laki itu berniat berjongkok untuk mengangkat tubuh mabuk wanita itu. Suara telepon genggam mengalihkan perhatian laki-laki itu. Secara perlahan Gieno mengambil telepon genggamnya yang berada di dalam saku celananya.


Senyum laki-laki itu terbit saat melihat nama Mentari terpampang di layar layar benda pipih itu. ‘Dia terbangun? Ini sudah larut, apa dia ketakutan?’ batin Gieno.


“Halo,” sapa Gieno lembut.

__ADS_1


“Kakak di mana? Kenapa aku sendirian?” Gieno menggigit bibirnya saat merasa gemas dengan suara serak Mentari.


__ADS_2