Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
69. Langsung Pingsan


__ADS_3

Bugh …. "Aaa." Mentari terpekik saat dengan tiba-tiba lali-laki yang sedang berbicara dengannya tersungkur ke atas lantai. Teriakan Mentari itu jelas saja menarik perhatian pengunjung lainnya. Termasuk dua penjaga Mentari yang sudah berlari cepat ke pusat suara.


Dua laki-laki itu terkejut saat melihat keberadaan ketua mereka didekat Mentari. Rahang keras Gieno membuat mereka beegidik ngeri. 'Apa nyawaku sudah sampai pada ajalnya?' batin mereka ketakutan.


Semua orang yang sempat berkumpul dan berniat membantu laki-laki yang pingsan sudah itu. Namun, pergerakan mereka terhenti saat tahu siapa pelaku yang membuat kejadian itu. Bahkan manager dan pegawai toko tidak berani ikut campur dalam hal itu.


Mentari menoleh dan mendongak, mata bulat wanita itu melotot saat melihat keberadaan Gieno. "Kak Gieno," panggil Gieno.


Gieno masih menatap tajam laki-laki yang sudah tidak sadarkan diri itu. Setelahnya iblis gila itu menoleh ke arah Mentari yang masih menatapnya terkejut. Sedangkan Naraya sudah menganga melihat hasil karya Gieno. 'Astaga, pantas saja dia dijuluki iblis gila. Kekuatannya benar-benar gila,' batin Naraya tidak habis pikir.


"Siapa dia?" tanya Gieno dengan suara rendahnya.


Mentari mengerjapkan matanya bingung harus menjawab apa. "Maksud Kakak, Mas itu?" Mentari menujuk laki-laki yang sedang pingsan itu.


"Hem," daham Gieno.


"Aku tidak tahu namanya, tapi … mungkin lebih baik dia dibawa ke rumah sakit dulu, Kak. Lihatlah mukanya berdarah, kasihan," papar Mentari iba.

__ADS_1


Mata Gieno semakin menajam mendengar perkataan Mentari. "Kau mengkhawatirkan dia?" desis Gieno.


Mentari kembali mendongak dan menatap wajah merah Gieno. Sedangkan Naraya yang sedari tadi mendengarkan interaksi sepasang manusia itu sudah mengernyit bingung. 'Siapa perempuan ini?' batin Naraya tidak suka.


"Aku kasihan, kalau masalah khawatir aku lebih khawatir dengan Kakak," tutur Mentari. Mendengar itu, jelas saja Gieno mengernyit bingung.


"Lihatlah banyak orang, nanti kalau ada yang melapor polisi bagaimana? Kakak bisa masuk penjara," bisik Mentari polos.


Gieno terkejut dengan tindakan Mentari yang begitu tiba-tiba mendekat ke arahnya. Sedangkan Naraya sudah melotot melihat aksi berani Mentari. Setelahnya laki-laki itu mencoba mengulum bibir guna menahan tawanya. "Siapa yang akan berani menelepon polisi?" tanya Gieno angkuh.


Mentari terdiam mendengar perkataan Gieno. Dia beru sadar dengan status dan kekuasaan Gieno di negara ini bahkan di luar negeri sekali pun. "Iya juga," gumam Mentari pelan.


Mentari menoleh menatap wajah tampan Gieno. "Dia laki-laki yang tadi meminta izin ingin mengambil buku. Itu bukunya sudah di lantai, dia juga hanya bertanya aku ingin mencari buku apa. Aku belum sempat menjawab karena tiba-tiba Kakak datang memukulnya sampai seperti itu," jelas Mentari jujur.


Gieno yang tahu jika Mentari tidak berhohong hanya mengangguk singkat. Setelahnya Gieno menatap dua laki-laki di belakang Mentari dengan pandangan datarnya. Jelas saja dua laki-laki itu terperanjat, gerak mereka berubah kaku mendapat tatapan seperti itu. "Panggil bagian rumah sakit untuk membawa dia," titah Gieno.


"Baik, Ketua," sahut dua laki-laki itu serentak. Setidaknya mereka bisa bernapas lega saat mengetahui Gieno tidak marah kepada mereka.

__ADS_1


"Terus siapa yang mengizinkan kau datang ke sini?" tanya Gieno lagi.


"Aku sudah meminta izin kepada Kakak tadi," turur Mentari.


Kening Gieno berkerut mendengar perkataan Mentari. "Kapan? Kita saja tidak bertemu tadi pagi," ujar Gieno.


"Aku mengirimkan Kakak pesan, sebab aku sungkan ingin menelepon. Takut Kakak sibuk," pungkas Mentari.


Gieno diam sejenak mendengar perkataan Mentari. Setelahnya laki-laki itu mengambil telepon genggamnya berniat mengecek isi benda pintar itu. Mentari tidak berbohong, memang satu notifikasi atas nama gadis itu masuk ke dalam ponselnya. "Lain kali telepon saja, tidak usah mengirim pesan," tutur Gieno.


"Iya, aku hanya takut menganggu kesibukan Kakak," sahut Mentari.


"Ekhm … dia siapa, Kak?" Naraya yang sedari tadi merasa panas sendiri mendengar obrolan sepasang manusia itu, akhirnya bersuara.


Mentari menoleh dan terkejut melihat seorang wanita cantik dengan tiba-tiba memeluk lengan kekar Gieno. 'Jadi dia sibuk dengan wanita ini?' batin Mentari sedih.


"Mentari," jawab Gieno datar.

__ADS_1


Naraya menatap Mentari dengan pandangan remeh. "Siapa Kakak?" tanya Naraya.


Deg …. Jantung Mentari terkejut mendengar pertanyaan itu. Hati gadis itu was-was, mencoba menyiapkan hati mendengar Gieno menjawab dengan kalimat yang mungkin akan menyakitkan baginya. Sedangkan Gieno juga terdiam mendengar pertanyaan itu. Laki-laki itu pun bingung dengan status Mentari di hatinya saat ini.


__ADS_2