
"Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Abraham kepada Heiki.
"Aku sudah menyewa satu orang, semoga saja dia bisa membantu kita. Aku sudah menyembunyikan Damar, setidaknya dengan menahan Damar untuk tidak dibunuh. Giliran kita juga akan tertunda, tapi aku tidak tahu sampai kapan kita bisa menyembunyikan dia," jelas Heiki.
"Aku bahkan lebih tidak yakin kalau iblis gila itu tidak tahu tempat kita menyembunyikannya," cetus Abraham.
Heiki terdiam mendengar perkataan Abraham. "Kenapa aku bisa melupakan itu?" gumam Heiki.
"Sudahlah, intinya kita sudah mencoba. Rencana kali ini memang lebih berbobot, mudah-mudahan saja Damar tidak ditemukan oleh Gieno. Selama itu, kita bisa mencari cara cadangan. Kalau kalau Damar tertangkap," ujar Abraham.
"Iya, aku juga sedang memikirkan itu. Aku memang tidak yakin bisa menahan umur Damar lebih lama. Tapi setidaknya bisa untuk mengalihkan dia," kata Heiki.
"Aku dengar Naraya semakin dekat dengannya," ucap Abraham.
Mendengar nama putrinya, Heiki hanya bisa menghela napas panjang. "Setidaknya sampai sekarang Gieno tidak melakukan hal aneh kepada Naraya. Tapi bukan berarti kita bisa bernapas dengan tenang. Aku malah lebih mengkhawatirkan keamanan Naraya, sebab Gieno bukan hanya iblis gila. Tetapi juga iblis wanita," ungkap Heiki.
"Apa pun caranya, kita coba lakukan. Aku tidak ingin jika manusia gila itu merusak cucuku," geram Abraham.
"Aku juga sedang memikirkannya, Pa. Kepalaku rasanya ingin pecah beberapa minggu ini," tutur Heiki.
"Pa." Suara Naraya mengalihkan perhatian dua laki-laki yang berada di ruangan utama Barka itu.
"Apa, Sayang?" sahut Heiki.
"Aku ada jadwal ke acara ulang tahun teman. Dia mengadakan pesta besar, aku baru saja dari sana. Pestanya sangat bagus dan begitu mewah, aku jadi iri," ungkap Naraya. Wanita itu duduk di antara Heiki dan Abraham.
__ADS_1
"Jadi?" tanya Heiki.
"Ulang tahunku kan tinggal dua minggu lagi. Aku juga ingin mengadakan pesta mewah, kalau perlu lebih mewah dari pada pesta temanku tadi," tutur Naraya.
Heiki dan Abraham saling pandang mendengar kalimat Naraya. "Kamu ingin pesta seperti apa sebenarnya?" tanya Abraham.
Naraya menoleh ke arah sang kakek sambil tersenyum lebar. "Aku ingin pesta di aula hotel ternama di kota ini. Kita buat tema sweet, ah … membayangkannya saja sudah membuat aku ingin," pungkas Naraya berharap.
"Apa tidak bisa kita buat pesta biasa saja?" tawar Heiki.
"Kok begitu? Aku keturunan tunggal keluarga Barka, apa Papa dan Kakek tidak akan malu jika mengadakan pesta biasa saja?" ucap Naraya kesal.
Heiki dan Abraham kembali saling tatap. Setelahnya dua laki-laki berbeda generasi itu menghela napas pelan. "Baiklah, besok kamu pilih dekorasi keinginan kamu. Kau uruslah aula acaranya, Heiki," putus Abraham.
Sedangkan Abraham yang melihat itu hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu aku ke kamar dulu. Aku akan melihat dekorasi yang pas, termasuk dekorasi undangan nanti. Bye Pa, Kek," sambung Naraya.
"Dengan ini, aku akan mengundang Kak Gieno, dan menyombongkan dia kepada teman-temanku nanti," gumam Naraya di sela langkahnya.
...*****...
"Sudah?" tanya Gieno sedikit berteriak.
"Sebentar lagi," balas Mentari dari balik kamar mandi.
"Ck, lama sekali. Aku sudah berakar menunggumu di sini," keluh Gieno. Mengherankannya, kenapa juga iblis gila seperti Gieno malah bersedia begitu saja menunggu di depan pintu kamar mandi itu. Padahal dia bisa saja membohongi Mentari dengan kembali duduk di atas ranjang. Mentari juga tidak akan melihat jika dirinya sedang tidak di depan pintu.
__ADS_1
Namun, hati laki-laki itu sendiri tidak ingin dan tidak tega meninggalkan Mentari begitu saja. Entah karena kasihan melihat Mentari yang nampak begitu ketakutan, atau ada hal lain di dalam hatinya. "Cepatlah, sepuluh menit mau masih belum keluar. Aku tinggal kau!" teriak Gieno dari luar pintu.
"Jangan!" balas Mentari nampak panik.
"Makanya cepat!" sahut Gieno lagi.
"Iya, sebentar lagi," tutur Mentari.
"Sedari tadi sebentar sebentar terus," gerutu Gieno pelan.
"Kak!" Suara Mentari terdengar dari dalam kamar mandi.
"Apa?" sahut Gieno singkat.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan Kakak masih di sana," balas Mentari.
Mendengar itu Gieno hanya bisa mendengus malas. Beberapa menit berselang, suara Mentari kembali terdengar. "Kak!"
"Hem," deham Gieno.
"Kak!"
"Ck, apa? Aku masih di sini!" balas Gieno kesal.
"Aku juga di sini." Gieno terkejut melihat Mentari yang sudah berada di sampingnya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1