Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
13. Cium


__ADS_3

Mentari berteriak keras saat mendapati tubuhnya sedang dipeluk erat oleh Gieno. Teriakan itu sukses membangunkan Gieno dari tidur nyenyaknya. Laki-laki dingin itu menatap tajam ke arah Mentari yang sudah beringsut menjauh. "A-anda melakukan apa kepada saya?" Mentari menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


Sedangkan Gieno yang melihat itu sudah tersenyum miring. "Apa kau lupa dengan kejadian menyenangkan kita malam tadi?" ucap Gieno berbohong.


Mentari melotot terkejut, setelahnya gadis itu mencoba berpikir keras untuk mengingat kejadian apa yang terjadi antara dirinya dan juga Gieno. "A-aku rasanya tidak melakukan apa-apa dengan Anda. Tadi malam aku tidur sendirian, aku ingat betul," tutur Mentari yakin.


Gieno membuka bajunya dan melemparkan asal. Hal itu sukses membuat Mentari semakin pucat dan takut. Tubuh atletis Gieno sempat mengalihkan perhatian Mentari, tetapi rasa takutnya lebih mendominasi. "A-apa yang Anda inginkan?" ucap Mentari gugup.


Gieno menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring. Laki-laki itu duduk dan menatap Mentari yang sudah terlonjak. Mentari menelas salivanya susah payah kala Gieno mulai mendekat ke arahnya.


Greb …. Gieno menarik pinggang Mentari merapat ke tubuhnya. Sedangkan gadis itu sudah menahan napas merasa begitu takut. "Bernapaslah," ucap Gieno.


Mentari terkejut, gadis itu menarik pelan udara mencoba meminimalisir rasa takutnya. "Apa dadaku lebih menarik?" celetuk Gieno dingin.


Mentari yang terkejut dan merasa malu segera mendongak dan terkesiap saat melihat wajah tampan milik laki-laki yang sedang memeluknya. Gieno masih menatap Mentari dengan tatapan dingin. Mentari yang tidak bisa menahan tatapan tajam Gieno memiringkan kepalanya menoleh ke arah lain. "Cium," ucap Gieno singkat.


Mentari kembali terkejut, gadis itu melotot ke arah Gieno yang masih menatapnya datar. "Maksud Tu … eh, maksud kamu apa?" tanya Mentari gugup hampir memanggil Gieno, Tuan.


"Cium aku," ucap Gieno memperjelas.

__ADS_1


Mata bulat yang bersinar itu melotot semakin membulat. Gieno tersenyum miring merasa semakin menyukai melihat mata bulat milik Mentari. "Ti-tidak mau," tolak Mentari.


"Tidak mau? Baiklah, mari kita bermain di kamar mandi." Gieno mengangkat tubuh mungil Mentari membuat gadis itu berteriak terkejut.


"Lepaskan aku," teriak Mentari.


"Ingin menciumku?" tanya Gieno.


"Apa harus? Tidak ada yang lain?" tawar Mentari.


"Tidak, kalau kau tidak mau. Ayo aku perlihatkan hal yang lebih panas dari pada sebuah ciuman," sahut Gieno.


Gieno menurunkan tubuh Mentari, laki-laki itu berdiri sambil menatap intens ke arah Mentari. "Cepatlah," tutur Gieno.


Mentari terlonjak, wajah gadis itu sudah pucat merasa begitu gugup. "Kamu sangat tinggi, mana bisa aku mencapai wajahmu," cicit Mentari.


Gieno menaikkan selelah alisnya, setelahnya laki-laki itu menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Mentari. Sedangkan Mentari kembali terkejut melihat wajah tampan itu dari jarak yang begitu dekat. Mentari menelan salivanya kasar merasa begitu gugup. 'Ya, aku akui dia benar-benar tampan,' batin Mentari.


"Pipi kiri atau kanan?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Pipi?" tanya Gieno.


"Iya," sahut Mentari.


Gieno tersenyum miring. "Bibir," ucap Gieno.


Mentari kembali melotot. "Pipi saja ya." Gieno terkesiap saat melihat mata bulat kesukaannya itu berbinar mencoba membujuknya.


"Baiklah," sahut Gieno. Setelahnya laki-laki itu memiringkan kepalanya kepada Mentari.


Mentari memejamkan matanya sambil mendekat ke arah pipi Gieno gugup. Sedangkan Gieno melirik Mentari dan tersenyum miring saat melihat wanita itu memejamkan mata. Tepat saat bibir Mentari akan menyentuh pipi laki-laki itu, Gieno menoleh sehingga bibir sepasang insan itu saling menyatu.


Mentari membuka matanya dan melotot saat melihat tatapan dingin Gieno untuknya. Mentari berniat menjauh dari wajah Gieno, tetapi tertahan saat tangan kekar laki-laki itu lebih dulu menarik kepalanya dan memperdalam ciuman itu. Gieno melepaskan pagutan bibir mereka saat Mentari mulai kehabisan oksigen. Dada Mentari naik turun mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Sedangkan wajah Gieno sudah memerah menahan sesuatu di dalam sana. "Fu**." Setelah mengumpat laki-laki itu melangkah cepat pergi dari sana.


Gieno terus berjalan dan meraih ponselnya. "Satu wanita, sekarang!" ucap Gieno tegas.


"Sh**, kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu kepadanya?" gumam Gieno bingung.

__ADS_1


__ADS_2