Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
115. Nyonya De Larga


__ADS_3

"Bagus sekali, Zero memang tidak pernah mengecewakan," ucap Jenderal Patra.


Gieno hanya menanggapi kilimat itu dengan senyum miringnya. Saat ini laki-laki itu dengan lima inti Zero bertemu dengan jajaran aparat negara yang memberikan misi penting kepada Zero. Seperti yang diketahui, Zero adalah gengster yang diakui negara sebagai gengster ternama yang mampu mengangkat nama negara.


Tidak jarang aparat negara meminta bantuan kepada Zero untuk menyelesaikan sebuah misi penting. Bahkan hampir seluruh misi yang dilakukan oleh Zero, berasal dari negara. Nama besar Zero mampu membuat musuh mundur secara teratur. Bahkan bagi petinggi negara yang tidak tersentuh aparat.


"Saya hanya menginginkan salinan ini, Jenderal Patra. Apa bisa?" Gieno menunjukkan sebuah map kepada Jenderal Patra.


Jenderal Patra nampak menatap isi map tersebut dan tersenyum sopan kepada Gieno. "Tentu saja, Tuan De Larga. Anda bisa mengambilnya, masalah untuk meringkus mereka, kami juga akan menyerahkannya kepada, Anda. Sepertinya Anda butuh mereka," balas Jenderal Patra.


Gieno kembali tersenyum miring saat mendengar perkataan laki-laki paruh baya itu. 'Yah, aku memang ada urusan dengan mereka. Urusan yang tidak akan bisa hilang, sebelum mereka ikut menghilang di dasar tanah,' batin Gieno.


"Jadi setelah ini akan ada anggota khusus kami yang akan melapor ke bagian data. Mereka akan mengirimkan datanya secara detail ke aparat negara," jelas Yezo.


Jenderal Patra menoleh ke arah Yezo kemudian mengangguk pelan. "Baiklah, Tuan Azka. Jadi kami sekarang bisa membawa semua ini?" balas Jenderal Patra.


"Iya, Jenderal. Silakan," sahut Yezo.


"Terima kasih, kami selalu kesulitan tanpa ada bantuan dari Zero," papar Jenderal Patra.

__ADS_1


"Kami juga siap sedia membantu negara," balas Rangga.


Jenderal Patra tersenyum mendengar perkataan Rangga. Setelahnya laki-laki paruh baya itu berdiri sambil menatap enam pemuda itu dengan pandangan penuh rasa segan. Meski masih begitu mudah, tetapi enam laki-laki itu sudah mampu membuat para manusia lain merasa segan kepada mereka. Termasuk aparat dan jajaran anggota di kenegaraan.


"Semoga kita bisa bertemu dimisi selanjutnya." Jenderal Patra mengulurkan tangan kanannya kepada Gieno. Pemimpin Zero itu menyahut uluran tangan laki-laki paruh baya itu tegas. Setelahnya Jenderal Patra mulai menyalami satu per satu inti Zero lainnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan," pamit Jenderal Patra dengan suara tegasnya.


Beberapa menit setelah Jenderal Patra dan jajarannya keluar dari ruangan utama markas Zero. Gieno berdiri dari duduknya dan menatap layar benda pipih di tangannya. "Mel, gandakan ini dalam bentuk soft dan hard. Setelah itu kirimkan salinan itu kepada tua Bangka itu. Yang asli kirimkan ke aparat negara besok," titah Gieno.


"Okey," sahut Melvin.


"Fiuitt, ada yang sudah rindu kawan!" ucap Petrik.


"Rindu serindu rindunya," tambah Yezo.


"Rindu yang tidak terbendung kawan!" balas Rangga.


"Rindu sampai ke puncak asmara bestie," lanjut Ferry. Hanya Melvin yang tidak mengeluarkan suaranya. Namun, laki-laki irit bicara itu sudah tertawa kecil melihat wajah malas Gieno.

__ADS_1


"Ck, tidak usah banyak bacot kalian. Selesaikan saja tugas kalian masing-masing. Sebelum aku tambah setumpuk seorang lagi," balas Gieno nampak kesal.


"Sensian ya sekarang," ejek Yezo lagi.


"Yezo, sepertinya anggota di Afrika kekurangan tenaga. Mungkin kau bisa ikut membantu mereka," papar Gieno.


"Eh, tidak … tidak …. Aku diam, okey aku diam," sahut Yezo cepat. Melihat itu, empat laki-laki lainnya tertawa keras melihat wajah panik Yezo. Berbeda denga Gieno yang saat ini sudah membuka pintu dan mulai menghilang di balik pintu itu.


Melihat kepergian Gieno, Yezo mendengus kesal. "Ck, yang benar saja aku akan di kirim ke Afrika," celoteh Yezo.


...*****...


Gieno terus melangkahkan kakinya ke dalam mansion luas itu. Laki-laki datar itu melihat seluruh pelayan menunduk hormat melihat kedatangaannya. Dua hari dia keluar negara, sehingga laki-laki itu benar-benar sudah merasakan begitu rindu kepada Mentari.


'Ah, ini pertama kalinya aku merasa begitu merindukan mansion. Lebih tepatnya, orang yang berada di dalam mansion ini. Aku rasa aku benar-benar sudah tidak waras,' ucap Gieno di dalam hati.


"Mentari." Gieno bersuara tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun.


"Nona Mentari ada di dalam kamarnya, Tuan. Tadi dia mengatakan ingin tidur siang," sahut kepala pelayan.

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan suaranya lagi, Gieno mulai melangkah menuju ke arah lift mansion mewah miliknya. "Nona Mentari? Mungkin dia akan lebih bagus jika dipanggil dengan Nyonya De Larga," gumam Gieno dengan senyum tipisnya.


__ADS_2