
Gieno masuk ke dalam mobil di mana keberadaan Mentari yang sedari tadi sudah bergetar ketakutan. Melihat kedatangan Gieno membuat Mentari dapat bernapas lega. Keadaan Gieno yang baik-baik saja membuat Mentari kembali menghela napas lega. Gieno menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melakukan mobil tanpa bersuara sedikit pun.
Mentari pun hanya bisa diam tanpa berani bersuara. Entahlah, yang jelas saat ini perasaan gadis itu lebih tenang dengan keberadaan Gieno di dekatnya. Gieno tersenyum miring kala melihat satu mobil membuntuti mereka. "Bodoh," hina Gieno.
"Pegangan," titah Gieno.
"Hah?" Mentari menoleh bingung ke arah Gieno.
Namun, setelahnya gadis itu menjerit keras kala mobil mulai melaju tidak stabil. "Aaa …." Mentari terus berteriak merasakan nyawanya akan terbang dengan aksi gila Gieno dalam membawa mobil.
Ckiit … brum …
Gieno terus mempermainkan mobil di belakang mereka. Gieno terkekeh sinis melihat mobil itu hilang kendali dan menabrak pembatas jalan hingga hancur. Siapa sangka jika yang mengikuti mobil Gieno bukan hanya satu mobil. Buktinya masih ada mobil lainnya yang mencoba memepet mobil Gieno. "Mantap, Januar," gumam Gieno kesenangan.
__ADS_1
Laki-laki itu sepertinya melupakan keberadaan Mentari yang sudah begitu pucat. Perut gadis itu sekarang rasanya sedang dikocok-kocok. Sekuat tenaga Mentari menahan perut melilit ingin memuntahkan sesuatu. 'Aku rasanya ingin pingsan saja,' batin Mentari tidak kuat.
Dor … dor …
Bunyi tembakan mulai terdengar, mata Mentari yang awalnya sayu kini sudah terbuka lebar mendengar suara mengerikan itu. Mentari melotot kala melihat sebuah mobil truk besar nampak melaju kencang di depan mereka. "Aku belum siap mati," racau Mentari kerakutan.
"Buka sabuk pengamanmu," titah Gieno datar.
Beruntungnya, Gieno dengan segera menarik tubuh Mentari ke atas pangkuannya. Jika tidak, bisa dipastikan gadis itu sudah bersimbah darah karena pecahan kaca mobil. Mentari sempat tertegun dengan aksi tiba-tiba Gieno. "Peluk aku erat," titah Gieno lagi.
Meski sedikit ragu, Mentari masih mengikuti perkataan Gieno tanpa membantah dan tanpa banyak bicara. Gadis itu memeluk erat tubuh kekar Gieno dan membenamkan wajahnya di bahu kekar laki-laki itu. Sedangka Gieno melirik singkat mobil yang masih terlihat mengejar meraka. Merasa aman dengan keadaan jalanan, Gieno mulai mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan tepat ke arah ban mobil lawan.
Dor … dor … ckiit …
__ADS_1
Tepat sasaran, mobil itu kehilangan keseimbangannya kala dua ban depan mobil itu tertembak. Duar …. Gieno tersenyum iblis melihat mobil yang tadi sempat mengikuti mereka sudah meledak menabrak truk pengangkut solar. Sedangkan Mentari sempat terkejut mendengar ledakan besar itu. Dengan sedikit keberanian, Mentari mendongak untuk menatap sekitar. "Sudah aman?" gumam Mentari.
Mentari menoleh ke arah kursi penumpang, di sana sudah berserakan kaca pecah. 'Bagaimana aku akan pindah kalau begini?' batin Mentari.
"Kak, apa aku pindah ke kursi belakang saja?" tanya Mentari.
"Aku bukan supirmu," sahut Gieno datar.
Mentari meringis mendengarkan itu. "Terus bagaimana? Kursi itu penuh kaca," ucap Mentari pelan.
"Diam saja di situ, tidak usah banyak gerak kalau kau tidak ingin aku terkam," desis Gieno.
Glek …. Mentari menelan salivanya kasar mendengar kalimat Gieno. Dengan tubuh kaku, Mentari memilih diam bak patung berusaha untuk tidak bergerak. 'Kalau begini, aku ngeri dekat dengannya,' batin Mentari takut.
__ADS_1