Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
59. Wanita Kurungan


__ADS_3

"Dia adalah wanita kurunganku, dan aku adalah majikannya. Jadi tidak ada hak untuk dia melarangku, tapi aku … memiliki hak penuh atas dirinya," tegas Gieno.


Empat laki-laki di seberang sana hanya bisa menghela napas berat mendengar penuturan Gieno. "Kau benar-benar egois," celetuk Yezo.


"Sudahlah, untuk apa membahas ini? Selagi dia masih di sana, ya sudah. Sekarang arah mana yang akan kami lalui?" balas Gieno santai.


"Di depan belok kiri, di sana pertempuran pertama," tutur Rangga.


"Anggotanya lumayan, sekitar dua puluh orang," sambung Melvin.


Gieno tersenyum miring, laki-laki merasa begitu senang bisa kembali bermain-main. "Bagaimana dengan Laksa?" tanya Gieno.


"Tua bangka itu sedang bersantai menunggu kedatanganmu di dalam satu kamar. Sepertinya jika kau memberi sedikit kejutan, akan sangat menyenangkan. Dia nampak terlalu meremehkanmu dan Zero," jelas Rangga.

__ADS_1


Mata iblis Gieno mulai keluar, merasa tertantang dengan perkataan Rangga. "Ubah, sepuluh menit, kita sampai di tempatnya," desis Gieno licik.


"Baik, Ketua," sahut anggota Zero serentak.


Lima laki-laki yang mendengar perkataan Gieno saling pandang dan tersenyum penuh arti. "Akhirnya dia terpancing juga," celetuk Patrik.


"Setidaknya dengan begini, dia tidak akan mengulur waktu lagi. Huh, empat hari katanya? Padahal dia bisa menyelesaikan mereka dalam waktu satu hari," papar Yezo.


"Benar, kasihan gadis itu. Semakin lama Gieno di Irlandia, akan semakin sakit juga hatinya. Gieno pasti tetap tidak akan berhenti bermain di sana. Dasar iblis gila itu," tambah Ferry.


Hufft …. Entah sudah yang keberapa kali aku menghela napas. Pikiranku saat ini benar-benar banyak cabang. Namun, dari banyaknya cabang itu, satu cabang yang paling besar adalah nama Kak Gieno. Sampai sekarang masih begitu terngiang di telingaku desah mereka. Benar-benar tidak bisa hilang dari pikiranku. Yang ada, otakku ini malah berkelana ke mana-mana.


"Nona Mentari." Aku terkejut saat mendengar suara seseorang memanggilku. Aku menoleh dan tersenyum saat mendapati seorang pelayan wanita di sampingku.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Sarapannya sudah siap, Anda bisa sarapan sekarang," ucap pelayan itu.


"Begitukah? Baiklah," sahutku.


"Mari, Nona." Pelayan wanita itu menunduk sopan dan menundun langkahku ke arah ruangan makan.


Jika masalah pelayanan, aku memang merasa seperti seorang putri di sini. Diperlakukan begitu sopan dan dihormati oleh para palayan mansion Kak Gieno. Kak Gieno pun selalu memperlakukan aku baik. Selama ini dia tidak pernah membentak atau main fisik kepadaku. Dia malah ikut memperlakukan aku begitu manja, meski dia masih saja datar dan sedikit dingin. Perlakuannya yang seperti itu, membuat aku malah jatuh ke dalam sifat manisnya itu.


Sekarang, aku malah merasa menyesal, kenapa aku harus jatuh kepada seorang casanova seperti itu? Akhirnya sekarang aku sendiri yang merasakan sakit. Begitu sakit, sampai saat ini masih membekas jelas. "Nona." Untuk kedua kalinya aku terkejut.


Suara pelayan itu kembali menyadarkan aku dari lamunanku. Aku menoleh dan tersadar jika kami sudah berada di ruangan makan. "Maaf, aku melamun," tuturku.


Pelayang itu nampak tersenyum canggung. "Tidak perlu minta maaf, Nona. Silakan duduk, Nona." Pelayan itu menarik kursi makan yang biasa aku tempati.

__ADS_1


Hal seperti ini memang sudah biasa aku terima. Yah, seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku diperlakukan seperti seorang putri yang begitu dijaga, dihormati dan disegani di sini. Jika saja, aku dapat memiliki Kak Gieno seutuhnya tanpa berbagi … aku yakin aku adalah perempuan paling beruntung di dunia ini. Oh, astaga … apa yang aku pikirkan?


__ADS_2