Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
109. Bakso Pentol


__ADS_3

Gieno terus menatap punggung kecil gadis di depannya. Laki-laki itu mengulum bibir saat melihat tubuh kecil Mentari tenggelam oleh jaketnya. Namun, senyum di bibir laki-laki itu perlahan memudar saat melihat kaki gadis itu.


Tatapan Gieno terfokus kepada kaki Mentari. Gieno baru sadar jika Mentari menggunakan celana tidur sedikit di atas lutut. Laki-laki itu menggeram kecil merasa jiwa posesifnya muncul. Belum lagi Gieno juga khawatir jika Mentari kedinginan. Sebab baju tidur itu benar-benar tipis.


Gieno menghentikan langkahnya sehingga Mentari ikut terhenti. Gadis itu menoleh dan menatap Gieno dengan pandangan bingung. "Ada apa, Kak? Ada yang ketinggalan?" tanya Mentari.


Gieno tidak menyahut, laki-laki itu malah menarik Mentari. Setelahnya iblis gila itu mengangkat tubuh Mentari ala koalan. Jelas saja aksi laki-laki itu mengejutkan Mentari. Namun, gadis itu tidak memberontak.


Mentari menarik kepalanya dan menatap wajah Gieno yang sedang fokus dengan jalannya. Gadis itu menatap luka kecil di pipi laki-laki itu. "Kenapa bisa luka, Kak?" tanya Gieno.


"Karena aku lengah," balas Gieno.


"Ini luka karena apa? Pisau?" tanya Mentari lagi.


"Botol pecah," sahut Gieno lagi.


"Perih?"


"Tidak."

__ADS_1


"Masa tidak? Berdarah loh ini," tutur Mentari tidak percaya.


"Memang tidak," sahut Gieno lagi.


"Kakak bohong."


"Tidak."


"Tapi aku ras … hmpp." Kalimat Mentari terputus saat dengan tiba-tiba Gieno malah mencium bibirnya. Mata Mentari melotot menatap Gieno terkejut.


Berbeda dengan Gieno yang saat ini sudah tersenyum miring ke arah Mentari. "Masih berbicara lagi, aku cium lagi," tutur Gieno.


Bahkan sampai ke dalam mobil, Mentari masih terdiam tidak bersuara. Gieno menoleh ke arah gadis itu saat merasakan tangan Mentari menyentuh tangannya. Sebelah alis laki-laki itu terangkat seakan bertanya kepada Mentari. "Ada apa?" tanya Gieno.


"Hemm." Kening Gieno berkerut saat mendengar Mentari bergumam tidak jelas. Laki-laki itu kembali menoleh menatap Mentari bingung.


Beberapa saat kemudian, Mentari semakin histeris sambil menunjuk sesuatu di luar mobil. Gadis itu menunjuk arah luar sambil bergumam tidak jelas. "Hemmm," gumam Mentari.


Merasa bingung, Gieno akhirny menepikan mobilnya. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Mentari yang sedang menatap ke belakang. "Ada apa, kenapa tidak jelas?" tanya Gieno.

__ADS_1


Mentari menatap Gieno dengan mata berbinar sambil menunjuk ke belakang mobil. Kening Gieno berkerut menatap Mentari bingung. Namun, beberap saat kemudian Gieno tertawa kecil saat mengingat sesuatu. "Berbicaralah, aku tidak akan menciummu," papar Gieno.


Mentari masih tidak bersuara, gadis itu menyodorkan jari kelingkingnya kepada Gieno. Awalnya Gieno bingung dengan hal itu, tetapi beberapa detik kemudian Gieno laki-laki itu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Mentari. "Kecil sekali jarimu," celetuk Gieno.


"Jari Kakak saja yang terlalu besar," balas Mentari yang akhirnya bersuara. Mendengar suara Mentari, Gieno menoleh menatap wajah manis gadis itu.


"Jadi ada apa?" tanya Gieno penasaran.


Mentari menggaruk kepala belakangnya sambil tersenyum bodoh ke arah Gieno. "I-itu, aku ingin membeli bakso pentol," tutur Mentari.


Gadis itu berucap sambil menautkan kedua jari tangannya. Melihat itu Gieno malah merasa gemas, meski sebenarnya laki-laki itu tidak tahu apa benda yang diinginkan gadis itu. "Benda apa itu? Aku hanya tahu bakso," balas Gieno.


"Bakso pentol, memang bakso juga. Tapi pakai kata pentol di belakangnya. Aku … juga tidak tahu." Mentari menyahut sambil menggaruk kepala belakangnya bingung.


Gieno tertawa mendengar jawaban polos dari gadisnya. "Ya sudah, apa kita perlu putar balik?" tanya Gieno.


"Kalau Kakak tidak keberatan, boleh," sahut Mentari pelan.


"Untuk apa keberatan?" Gieno menyahut sambil memutar arah kepala mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2