Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
98. Mabuk


__ADS_3

"Ayo pulang," ucap Gieno.


Mendengar kalimat Gieno, Naraya melotot terkejut. "Loh, kenapa Kakak sudah akan pulang? Acaranya masih lama, aku bahkan belum lilin dan memotong kue," protes Naraya.


"Mentari mabuk, jadi aku harus segera membawanya pulang sebelum dia mengacau di sini," balas Gieno.


"Tapi kan dia bisa pulang dengan pengawal Kakak. Lagi pula dia ke sini juga dengan pengawal Kakak kan tadi?" papar Naraya.


'Mana mungkin aku membiarkan gadis polos yang sedang mabuk seperti ini, pulang dengan laki-laki lain,' batin Gieno.


"Tidak, Mentari adalah tanggung jawabku. Aku pulang, yang penting kan aku sudah datang ke sini. Aku juga sudah mengucapkan selamat," sahut Gieno.


Mendengar kalimat Gieno, Naraya berdiri dari duduknya. Wanita itu menatap laki-laki datar itu dengan pandangan protes. "Tidak bisa begini, Kak. Aku dari tadi menunggu kedatangan Kakak. Masa sekarang Kakak harus pergi hanya karena gadis ini?" protes Naraya.


"Salahmu sendiri yang memberikan minuman beralkohol tinggi ini kepada Mentari," balas Gieno datar.


Mendengar kalimat Gieno, Naraya dibuat terkejut. Jadi laki-laki itu tahu jika dirinya yang memberikan minuman beralkohol tinggi itu kepada Mentari. "A-aku, tidak begitu. Aku pikir dia sudah biasa meminum itu … jadi aku memberikan minuman itu kepadanya," kilah Naraya.


Gieno tersenyum miring sambil tetap memeluk tubuh Mentari. 'Perempuan bodoh,' batin Gieno.


"Kak." Gieno terkejut saat dengan tiba-tiba tangan Mentari mulai meraba pada bidangnya. Begitu pula dengan Naraya yang saat ini sudah melotot melihat aksi Mentari.

__ADS_1


'Wanita kurang ajar, dia pasti sedang memanfaatkan keadaannya. Kalau tahu akan begini lebih baik aku tidak melakukan itu tadi, brengsek,' batin Naraya marah.


Merasa Mentari semakin menjadi, Gieno menarik tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Gieno menggendong tubuh Mentari ala bridal style. Kedua tangan Naraya mengepal kuat saat melihat kepergian Gieno membawa tubuh Mentari. Dada wanita itu naik turun mencoba menahan amarahnya.


"Brengsek, untuk apa lagi semua pesta tidak penting ini? Aku membuat pesta besar seperti ini khusus untuk dia. Kenapa malah dia yang pergi dengan cepat seperti ini? Kalau seperti ini aku tidak butuh lagi pesta brengsek ini. Aku hanya ingin Kak Gieno," geram Naraya marah.


"Sayang." Suara Nayry mengalihkan perhatian Naraya.


"Mah," rengek Naraya. Nayry mengusap lengan tangan putrinya yang nampak begitu marah. Namun, jujur saja di dalam hati kecil wanita paruh baya itu. Dia merasa begitu lega melihat kepergian Gieno.


"Dia pergi dengan gadis itu, padahal aku membuat pesta ini khusus untuk dia. Aku sengaja membuat pesta semewah ini dan mengundang banyak orang untuk membanggakan dia kepada khalayak banyak. Ternyata dia malah membawa gadis kurang ajar itu. Dan sekarang karena gadis kurang ajar itu juga dia pergi dari sini. Aku tidak terima Ma, aku tidak butuh lagi pesta ini tanpa dia."


...*****...


"Sh**! Kau benar-benar tidak bisa dibiarkan mabuk. Kau yang mabuk aku yang bisa lepas kendali," desis Gieno frustasi.


"Kak Eno." Kening Gino berkerut saat mendengar suara kecil dari mulut gadis yang tengah mabuk itu. Kembali mendengar kata Kak Eno dari mulut mentari, kali ini hati Gieno merasa tidak senang.


"Siapa sebenarnya Kak Eno yang dimaksud gadis ini?" geram Gieno tidak suka.


"Kak Eno." Mentari yang tengah mabuk, saat ini sedang menatap wajah Gieno dengan mata polosnya. Sedangkan Gieno yang merasa tidak suka mendengar panggilan Kak Eno dari gadis itu, saat ini sudah menatap tajam ke arah Mentari.

__ADS_1


"Siapa Kak Eno?" tanya Gieno nampak kesal.


"Kak Eno? Ya Kak Eno," sahut Mentari dengan suara tidak jelas khas orang mabuk.


"Ck, siapa? Teman kampusmu itu?" Tanpa laki-laki itu sadari, saat ini dia nampak seperti orang bodoh yang membawa gadis mabuk berbicara.


Sedangkan Mentari yang mendengar pertanyaan Gieno saat ini sudah menggelengkan kepalanya seperti anak kecil. Merasa gemas melihat kepala Mentari yang menggeleng-geleng seperti itu, Gieno mencubit kedua pipi gadis itu gemas. "Kak Eno, ini. Ini Kak Eno, tampan … tapi menyeramkan."


Kening Gieno kembali berkerut saat mendengar celotehan dari mulut mentari. Laki-laki itu nampaknya sedang mencerna kalimat mentari. "Maksudnya Kak Eno itu, aku?" tanya Gieno ragu.


Kali ini kepala mentari mengangguk-angguk pelan layaknya anak kecil. "Iya, ini Kak Eno."


Mentari berucap sambil menunjuk pipi Gieno yang saat ini nampak terdiam. "Jadi, Kak Eno yang dia maksud selama ini adalah aku?" gumam Gieno terkejut.


"Kak, aku panas. Ingin mandi." Mata Gieno melotot sempurna saat melihat Mentari sedang mencoba melepaskan gaun indahnya itu.


"Hei, apa yang kau lakukan! Jangan!" Gieno nampak kehilangan akal dan panik saat melihat Mentari masih berusaha membuka gaunnya.


"Sh**! Jangan gila, kau bisa aku terkam!" celoteh Gieno.


"Panas, Kak. Aku ingin mandi dan tidur, kepala aku juga pusing. Ah, aku ingin tidur," celoteh Mentari.

__ADS_1


"Ya sudah tidur saja, tidak usah kau buka bajumu ini. Apa kau tidak tahu kalau di sini ada iblis gila?" gerutu Gieno frustasi. Tanpa aba-aba, Mentari malah menaiki tubuh Geino dan tidur di atas pangkuan laki-laki itu.


Sedangkan Gieno saat ini hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Mentari. 'Tenang, dia sedang mabuk. Jangan sampai kau yang lepas kendali,' batin Gieno.


__ADS_2