Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
56. Hiu


__ADS_3

Gieno tersenyum miring melihat sekumpulan laki-laki dihadapannya. Saat ini iblis gila itu sedang berada di atas kapal mewah. Keberangkatannya ke Irlandia memang dirancang melalui jalur laut pada setengah perjalanan. Sesuai dugaannya, beberapa penyusup masuk ke dalam kapal yang ditumpanginya.


Bukan karena kecolongan, tetapi memang ini semua disengaja. Gieno sengaja membiarkan para penyusup masuk perangkap. "Kalian sungguh berani masuk ke kandang lawan, bagus," ucap Gieno singkat.


"Maju!" Salah satu dari laki-laki itu berteriak memberi aba-aba kepada teman-temannya.


Gieno tersenyum melihat itu, lawan mulai menyerang dan Gieno suka itu. Pertempuran pun di mulai, satu lawan sepuluh. Sungguh lawan yang tidak seimbang, tetapi … masih terasa kurang bagi Gieno sang iblis gila itu.


Bugh … plak … krak …


Satu persatu anggota musuh dengan begitu mudah dilumpuhkan oleh Gieno. Laki-laki itu bahkan hanya terlihat sedang bermain-main. "Ck, lemah sekali," ejek Gieno merendahkan.


Bruk …. Dua laki-laki jatuh secara bersamaan saat mendapatkan tendangan maut dari Gieno. Sepuluh tubuh sudah bertebaran di lantai kapal mewah itu. Anggota Zero yang sedari tadi diam melihat pertempuran segera mendekat. Kenapa mereka hanya diam tanpa membantu? Karena itu perintah dari Gieno sendiri. "Akan diapakan mereka, Ketua?" tanya salah satu dari anggota Zero.

__ADS_1


"Kurung, sekitar tiga kilometer lagi dari sini adalah tempat perkumpulan para hiu. Di sana lempar mereka semua ke dalam laut, aku rasa hiu-hiu itu akan suka dengan daging manusia."


Mendengar perkataan Gieno membuat sepuluh laki-laki yang masih sadarkan diri itu ketakutan. Mereka mencoba bergerak untuk melarikan diri. Lebih baik dari sekarang saja mereka melompat ke dalam laut. Itulah isi pikiran sekelompok laki-laki itu.


"Biarkan saja." Gieno melarang anggota Zero yang tampak akan menangkap mereka yang ingin kabur.


"Biarkan mereka berusaha menyelamatkan diri. Kira-kira, sampai mana mereka akan bertahan." Gieno tersenyum miring menatap langkah terseok para musuh.


Gieno mengikuti langkah kaki para musuh itu dengan gerakan santai. Tepat saat mereka sudah berada di luar, pada musuh itu melompat ke dalam air satu per satu. Gieno yang melihat itu tertawa jahat. "Bodoh," hina Gieno.


Perkataan Gieno yang mengatakan bahwa tiga kilometer lagi tempat perkumpulan hiu, itu adalah bohong. Sebenarnya tempat saat ini adalah perkumpulan hiu yang sebenarnya. Gieno tertawa senang melihat hiu-hiu itu melahap daging manusia itu. Sedangkan tiga musuh yang masih tersisa di atas kapal sudah menelan salivanya. Mereka ketakutan melihat para rekannya dimangsa oleh kawanan hiu ganas itu.


Gieno menoleh ke arah tiga laki-laki yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan tiga laki-laki yang menyadari tatapan Gieno mengarah kepada mereka, sudah berkeringat dingin. "Pilih mana? Mati karena hiu ganas … atau mati di tangan iblis?" desis Gieno terlihat begitu menyeramkan.

__ADS_1


"Maafkan kami, kami mohon." Tiga laki-laki itu bersujut memohon ampun kepada Gieno.


"Aku ini iblis gilla, bukan malaikat," papar Gieno santai. "Meminta maaf kepada iblis, aku rasa kalian sedang sakit," sambung Gieno.


"Ambil satu, lempar ke laut," titah Gieno kepada anggota Zero.


"Jangan, aku mohon. Maafkan aku." Seorang laki-laki memberontak ketakutan saat tubuhnya ditarik paksa oleh dua anggota Zero. Sedangkan dua rekannya sudah menggigil ketakutan.


Byur …. "Aak." Dua musuh yang masih tersisa tampak memejamkan matanya tidak berani melihat pemandangan mengerikan di bawah sana.


"Kalian ingin apa? Hiu atau pisau kesayanganku?" Gieno mengangkat pisau kecil di tangannya sambil menatap datar dua musuhnya.


Jleb …. Tanpa menunggu jawaban, Gieno melemparkan pisau itu kepada salah satu leher musuhnya. Sedangkan laki-laki terakhir yang melihat itu terkejut saat darah dari rekannya menyembur mengenai wajahnya. "Lempar," titah Gieno lagi.

__ADS_1


"Kau yang terakhir, bagusnya seperti apa untuk penutup?" tutur Gieno. "Lempar sajalah, aku ingin segera istirahat. Membosankan," sambung Gieno.


Setelah mengucapkan itu, iblis gila itu berjalan meninggalkan laki-laki yang sudah berteriak minta ampun. Gieno hanya tersenyum miring mendengar suara percikan air laut. "Perjalanan sudah tidak terlalu jauh, aku harus menabung energi."


__ADS_2