
Gieno tersenyum remeh saat melihat laki-laki dihadapannya sudah berdiri dengan kaki bergetar. Yang lebih membuat Gieno menatapnya remeh, adalah tetesan air yang saat ini mengalir bahkan membasahi celana laki-laki itu. "Kau berani sekali buang air kecil di mansionku," cetus Gieno dingin.
Laki-laki itu tersadar dan dengan cepat menutup tubuh bagian bawahnya. Benda yang tanpa sadar sudah mengeluarkan cairan berbau tidak sedap itu. Gieno memutar tubuhnya dan menendang laki-laki itu hingga tersungkur. Setelahnya laki-laki itu melanjutkan langkahnya ke arah pintu yang dimaksud Rangga. Tepat saat laki-laki sampai di sana, ternyata dua anggota yang dimaksud Rangga, saat ini sedang bertempur dengan beberapa musuh.
Dor … puss …
Gieno menghindar cepat saat dengan tiba-tiba seseorang membidik dirinya, lebih tepatnya membidik tubuh Mentari. Kecepatan Gieno dalam menghindar membuat peluru itu berakhir di dinding mansion. Dor …. Suara tembakan itu kembali terdengar. Gieno memacu langkahnya dan menghindar dari serangan peluru itu. Sembari memacu langkah, laki-laki itu meraih benda kecil yang selalu berada di sela-sela saku celananya.
Pats … bruk …
Laki-laki pemegang pistol itu tersungkur di tanah saat sebuah pisau kecil sudah bersarang lehernya. Pisau kecil khas milik sang iblis gila. Selesai dengan laki-laki pemegang pistol, langkah Gieno sekarang dihadang oleh tiga laki-laki. Gieno menatap tiga laki-laki itu dengan pandangan dingin. "Serang!" teriak salah satu dari tiga laki-laki itu.
Pak … buk …
Pertempuran kembali terjadi, Mentari mulai merasa terusik saat merasakan tubuhnya terombang-ambing. "Engh." Gadis itu melenguh kecil saat merasakan hal lain di dalam tidurnya.
"Apa sedang gempa?" gumam Mentari masih belum sadar. Perlahan mata gadis itu mulai terbuka. Beberapa detik terdiam dengan keadaan yang dilihatnya. Namun, menit selanjutnya mata bulat gadis itu melotot menyadari dirinya sedang berada di pertengahan pertempuran panas para gengster.
"Aku mati," celetuk Mentari tanpa sadar karena terlalu terkejut.
__ADS_1
"Belum," ucap Gieno.
Mentari terkejut mendengar suara Geino menyahut kalimatnya. Gadis itu menegakkan kepalanya dan terkejut saat menyadari jika dirinya sedang berada di atas tubuh Gieno yang sedang bertempur dengan beberapa laki-laki yang nampak semakin banyak. "Kak," cicit Mentari.
"Buka kakimu," titah Gieno kepada Mentari.
"Hah?" Mentari tampak bingung tidak mengerti dengan maksud dari kalimat laki-laki itu.
"Buka kaki cepat," ulang Gieno.
Meski bingung, gadis itu akhirnya membuka kedua kakinya sehingga terjuntai. Kedua tangan gadis itu masih melingkar erat di leher Gieno. Sedangkan Gieno yang melihat Mentari sudah terjuntai, mulai menjalankan aksinya. Laki-laki itu memegang sisi pinggang Mentari dan melayangkan tubuh gadis itu ke udara. Jelas saja hal itu membuat Mentari terkejut sampai berteriak ketakutan.
"Tendang mereka," titah Gieno. Entah karena takut atau bagaimana, kaki Mentari bergerak spontan menendang tubuh beberapa laki-laki itu. Dalam satu kali putaran, empat laki-laki sudah tersungkur ke tanah.
Syut … grep …
Tubuh Mentari kembali berada di dalam pelukan Gieno. Merasa lawan mereka sudah tidak berdaya, Gieno melanjutkan langkahnya. "Kenapa tidak membangunkan aku dari tadi, Kak?" tanya Mentari pelan.
"Memangnya kalau aku bangunkan, kau bisa apa?" balas Gieno mengejek.
__ADS_1
Mentari terdiam merasa bingung harus menjawab apa. "Tapi, setidaknya aku tidak merepotkan Kakak," papar Mentari.
"Merepotkan apa?" tanya Gieno.
"Seperti ini, menggendongku," sahut Mentari.
Buk … brak …
Mentari terkejut saat dengan tiba-tiba seorang laki-laki hampir saja menendang punggungnya. Untung saja Gieno dengan sigap memutar tubuh dan menendang balik laki-laki yang sudah berakhir di dinding keras mansion. "Kalau kau berjalan, itu akan semakin merepotkan," celetuk Gieno.
Mentari tersadar dari rasa terkejutnya. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh kekar Gieno. Apa yang dikatakan Gieno ad benarnya. Jika Mentari berjalan, tentu saja itu akan semakin menghambat langkah dan pergerakan Gieno. Mungkin dengan posisi seperti ini, lebih baik. Gadis itu juga merasa lebih aman jika bersama Gieno.
"Ketua." Dua laki-laki menyapa Gieno di dekat sebuah mobil. Gieno yang melihat itu mendekat ke arah mereka. Salah satu dari dua laki-laki itu dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Gieno. Gieno dengan cepat memindahkan tubuh Mentari ke dalam mobil itu. Setelahnya laki-laki itu menutup pintu mobil penumpang itu.
"Jalur?" tanya Gieno kepada dua laki-laki itu.
"Jalur persimpangan utama, Tuan Yezo dan Tuan Rangga sudah membuat tanda, Ketua," sahut salah satu dari mereka.
"Bagus," balas Gieno. Setelahnya laki-laki itu membuka pintu memudi dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1