Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
31. Bengkak


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya, Gieno melangkah ke arah kamar Mentari. Laki-laki itu menatap tubuh mungil yang sedang berbaring di atas ranjang dengan setengah selimut menutupi tubunnya. Gieno mendekat ke arah Mentari dan menatap wajah Mentari yang sedang terlelap.


Perlahan laki-laki itu naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Gieno memeluk tubuh mungil Mentari dengan tubuh telanjangnya. Kebiasaan laki-laki itu saat tidur adalah membuka baju. Secara perlahan Gieno menutup mata tajamnya, memulai merajai alam mimpi.


Siapa sangka, ternyata gadis yang sedang dipeluk oleh Gieno belum terlelap. Mentari yang mengetahui Gieno masuk ke dalam kamarnya memilih memejamkan mata berpura-pura tertidur. 'Hatiku sakit, setelah dia bermain dengan wanita lain. Dia datang kepadaku seperti ini, dia menganggap aku apa?' batin Mentari sendu.


...*****...


"Jadi bagaimana, Ketua?" tanya seorang laki-laki.


"Kita lihat dan pantau dulu, beberapa waktu lagi kita jalankan misi." Januar berucap sambil tersenyum miring.


"Kira-kira apa pendapannya nanti?" tutur seorang laki-laki.


"Kalau wanita itu penting baginya, kemungkinan besar dia akan terpancing," ucap Januar.


"Aku tidak sabar menunggu ini, ingin sekali aku melihatnya kalah dan meminta ampun di bawah kaki kita," balas seorang laki-laki itu.


"Kita lihat saja, orang seperti dia kelemahannya berada di emosi. Jika kita berhasil memancing emosinya, aku yakin dia akan mudah di takhlukkan," papar Januar.


"Aku muak melihat wajah angkuhnya itu," celetuk seorang laki-laki.

__ADS_1


"Jika aku bisa mendapatkan wanita itu, aku ingin segera mencicipinya. Bagaimana kira-kira rasanya, sampai iblis gila itu mengurungnya. Sepertinya begitu nikmat." Januar menyeringai membayangkan kenikmatan yang belum dirasakannya.


"Membayangkannya saja sudah membuat aku menegang. Aku pergi." Setelah mengucapkan itu, Januar berdiri dan pergi begitu saja dari sana.


...*****...


Mentari membuka matanya dan terdiam beberapa saat. Gadis itu menggeliat dan terlonjak kala mata tajam Gieno menatap dirinya. Sedangkan Gieno mengernyit kala melihat mata yang begitu disukainya itu membengkak. "Kenapa dengan matamu?" tanya Gieno.


Mentari terdiam, setelahnya gadis itu memegang matanya ikut bingung. "Kenapa?" ucap Mentari balik bertanya.


"Kenapa jadi bengkak seperti ini? Kamu melakukan apa kemarin?" Gieno menyentuh mata Mentari yang sudah membengkak.


Deg …. Mentari terkesiap mendengar pertanyaan Gieno. Dia bingung ingin menjawab apa. "Ti-tidak," sahut Mentari gugup.


"Aku tahu kau berbohong, kenapa kau menangis? Sampai bengkak seperti ini?" tutur Gieno.


'Ya, karena kamu,' batin Mentari.


"Aku hanya sedang merindukan keluargaku," ucap Mentari tidak sepenuhnya berbohong. Sebab Mentari memang sudah merindukan keluarganya.


Gieno terdiam mendengar jawaban Mentari. "Apa yang kau inginkan, katakan kepadaku. Jangan menangis, aku tidak suka," papar Gieno datar.

__ADS_1


Mentari tertegun, ada perasaan lain di dalam hatinya mendengar ungkapan Gieno kepadanya. 'Bagaimana kalau aku meminta untuk kau berhenti bermain wanita?' batin Mentari sendu.


'Ya ampun, sadarlah Mentari. Memangnya kau siapa sampai meminta hal itu kepadanya.' Mentari kembali membatin sambil tersenyum miris.


"Hei." Suara Gieno menyadarkan lamunan Mentari. Gadis itu mendongak dan menatap wajah datar laki-laki di sampingnya.


"Kau ingin berkunjung ke rumah orang tuamu?" tanya Gieno.


"Memangnya boleh?" tutur Mentari balik bertanya.


"Aku tidak melarang, selagi kau tahu batasan," papar Gieno.


"Terima kasih," balas Mentari.


"Kau pergi nanti siang bersama salah satu anggotaku," ucap Gieno lagi.


Mentari terdiam mendengar perkataan Gieno. Gadis itu kecewa sebab terlalu berharap laki-laki itu yang akan menemaninya. "Kenapa bukan Kakak?" gumam Mentari tanpa sadar.


Gieno menaikkan sebelah alisnya saat mendengar kalimat pelan gadis itu. Setelahnya laki-laki itu tersenyum miring. "Kau ingin pergi denganku?" ujar Gieno.


Mentari terkejut mendengar suara Gieno. Belum lagi dengan kalimat yang terlontar dari mulut laki-laki itu. Mentari mendongak dan melihat Gieno sedang tersenyum miring ke arahnya. "Bu-bukan, aku akan pergi bersama siapa saja," tutur Mentari gugup.

__ADS_1


__ADS_2