
"Nama?" tanya Gieno datar.
"Mentari," cicit wanita itu.
Gieno terdiam sejenak. 'Sesuai dengan matanya yang bercahaya,' batin Gieno.
"Tuan … kau akan membawaku ke mana?" tanya Mentari pelan.
"Mansionku," sahut Gieno.
Mentari melotot terkejut. "Ma-mansion? Untuk apa Anda membawa saya ke sana?" tanya Mentari.
"Mulai sekarang kau tinggal bersamaku," sahut Gieno santai.
Mentari kembali terkejut. "Tapi … kenapa? Aku masih punya rumah," ucap Mentari ragu.
"Karena aku mau, tidak usah membantah," balas Gieno tegas.
Mentari menatap protes ke arah Gieno. "Aku masih punya orang tua Tuan, mereka pasti akan khawatir kalau aku tidak pulang ke rumah," tutur Mentari memberanikan diri.
__ADS_1
"Aku tidak peduli," balas Gieno.
"Anda jangan egois Tuan, turunkan aku," ucap Mentari mulai kesal.
Gieno mengerem mobilnya secara mendadak. Setelahnya laki-laki itu menatap tajam Mentari yang sudah ketakutan. "Kau jangan memancing kemarahanku, jika kau tidak mau menuruti perintahku. Bukan hanya kau yang akan aku bunuh, tetapi seluruh keluargamu tanpa tersisa," desis Gieno.
Mentari menelan salivanya susah payah. Wanita itu mencengkram setbelt kuat mencoba menahan ketakutannya. Melihat Mentari diam tenpa protes, Gieno kembali melajukan mobilnya. 'Bagaimana nasibku sekarang?' batin Mentari takut.
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Gieno mengalihkan perhatian dua manusia penghuni mobil. "Terima dan loudspeaker," ucap Gieno datar.
"Keke sekarat," ucap seseorang diseberang telepon.
"Penggal dan buang ke laut," balas Gieno dingin.
"Baiklah." Setelahnya panggilan telepon itu terputus.
Mentari meletakkan ponsel Gieno dengan tangan bergetar. Kalimat mengerikan yang dilontarkan oleh Gieno tadi sukses membuat rasa takutnya kepada laki-laki di sampingnya itu meningkat pesat. Wanita itu hanya bisa pasrah dengan jalan hidupnya setelah ini.
__ADS_1
...*****...
"Antar dia ke kamar atas," titah Gieno kepada pelayan mansionnya.
"Baik Tuan." Pelayan itu membungkuk hormat, setelahnya mengajak Mentari pergi dari sana.
Gieno melangkahkan kakinya ke arah sofa sambil mengecek ponselnya. "Selanjutnya kau." Gieno tersenyum miring menatap sebuah foto di layar ponselnya.
"Tuan." Suara lembut seseorang mengalihkan perhatian Gieno.
Laki-laki itu tersenyum miring saat melihat seorang wanita seksi berdiri di belakangnya. "Kemarilah." Gieno menepuk pahanya memberi kode kepada wanita itu.
Dengan gerakan cepat wanita itu segera mendekat dan duduk dipangkuan Gieno. Pemimpin Zero itu mulai menggerayangi tubuh wanita dipangkuannya. Begitu pula dengan wanita panggilan itu, tangannya sudah meraja lela disetiap sela tubuh kekar dambaan seluruh wanita itu. Menjadi wanita panggilan untuk Gieno sudah menjadi suatu kehormatan bagi mereka. Bahkan mereka mengaku tidak masalah jika tidak dibayar, yang penting bisa merasakan memeluk, meraba dan menikmati tubuh kekar laki-laki tampan itu.
Setiap hari, Gieno selalu melakukan rutinitas pergelutan panas dengan wanita yang berbeda. Gieno melakukan hubungan se** bebas dengan pantauan dokter ahli kelamin khusus untuk dirinya. Desah dan raungan kenikmatan dunia menggema di ruangan tamu yang luas itu. Langkah kaki seorang wanita terhenti saat mendengar suara laknat itu.
Mentari mengintip dan melotot saat melihat kegiatan panas tanpa penghambat itu. Wanita itu tersenyum miris mengingat nasibnya. "Apakah aku akan berakhir seperti itu nantinya?" gumam Mentari pelan.
"Nona Mentari." Suara seseorang mengejutkan Mentari.
__ADS_1
Wanita itu menoleh dan tersenyum tipis melihat kepala pelayan sedang berada di belakangnya. "Tuan memang begitu, Anda akan segera terbiasa Nona. Mari ikut saya," tutur wanita paruh baya itu.