
"Kepalamu sakit?" tanya Gieno.
"Hanya sedikit, Kak," balas Mentari. Gadis itu semakin bergerak ke arah tepian ranjang.
"Ingin ke mana?" tanya Gieno.
Pergerakan Mentari terhenti saat mendengar kalimat Gieno. "Aku ingin mengambil air minum," jawab Mentari.
"Kau tidurlah kembali, biar aku ambilkan," titah Gieno.
Mentari semakin dibuat terkejut mendengar perkataan itu. "Tapi …."
"Tidak usah banyak tapi, kau berbaringlah lagi. Aku juga ingin keluar," sela Gieno. Laki-laki itu berdiri dari duduknya berniat keluar dari kamar itu. Namun, pergerakannya terhenti saat tangan Mentari menahan ujung bajunya.
Gieno menoleh dan mengernyit menatap Mentari heran. "Kenapa? Katanya kau ingin minum, akan aku ambilkan," ujar Gieno.
"I-itu, aku … takut sendirian," cicit Mentari.
Gieno terdiam baru mengingat jika Mentari begitu takut berada di dalam kamar itu. Laki-laki itu menghela napas pelan kemudian kembali duduk di samping gadis itu. "Tunggu dulu, aku minta seseorang mengantarkannya," papar Gieno.
Gieno meraih telepon genggamnya dan nampak mengotak-atik benda persegi panjang itu. "Kenapa kau masih duduk, tidurlah," ucap Gieno.
__ADS_1
"Oh, iya," balas Mentari. Gadis itu secara perlahan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil sesekali mencuri pandang ke arah Gieno yang masih sibuk dengan telepon genggamnya.
"Ada sesuatu lagi?" Suara berat Gieno mengejutkan Mentari dari lamunannya. Gadis itu menatap wajah Gieno yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan datar seperti biasa.
"Tidak, Kak," jawab Mentari singkat.
"Apa kau ingin mandi dulu? Luka di kepalamu perlu dibersihkan," cetus Gieno.
Mendengar kalimat Gieno, gadis itu baru menyadari jika kepalanya tadi sempat terluka. "Mungkin langsung dibersihkan saja, Kak. Masalahnya aku takut mandi, kamar mandimu pasti juga menyeramkan," kata Mentari.
"Apa perlu aku temani juga kau mandi?" Gieno berucap sambil tersenyum miring. Sedangkan Mentari yang mendengar itu sudah tersedak air liurnya sendiri.
Melihat Mentari seperti itu, Gieno malah tertawa merasa lucu dengan wajah gadis itu. "Memangnya kau sudah pernah melihat bentuk kamar mandiku? Kau saja tidak pernah masuk ke sana," sambung Gieno.
"Apa kau bisa tidur dengan tubuh berkeringat seperti itu?" tanya Gieno.
Mentari terdiam mendengar pertanyaan Gieno. Gadis itu memang tidak biasa tidur dengan tubuh gerah. Sedangkan Gieno menaikkan sebelah alisnya melihat keterdiaman Mentari. "Tidak bisa kan? Kalau begitu mandi saja," tutur Gieno lagi.
Mentari menggaruk pipi kanannya merasa bingung dan ragu. Setelahnya gadis itu melirik ngeri ke arah pintu kamar mandi di dalam ruangan itu. "Ck, penakut sekali kau," ejek Gieno.
Tok … Tok … Tok …
__ADS_1
"Ketua, saya mengantarkan air minum." Suara seseorang dari balik pintu mengalihkan perhatian sepasang manusia itu. Gieno berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.
Hanya beberapa detik, Gieno kembali ke arah ranjang dengan membawa sebotol air mineral. Laki-laki itu memberikan botol itu kepada Mentari yang nampak sudah kehausan. Mentari meraih botol air mineral itu dan mencoba membuka penutup botol itu. Entah kekuatan gadis itu yang sedang tidak berdaya atau memang penutup botol itu yang enggan berpisah dari sarangnya. Mentari nampak kesulitan membuka penutup botol itu.
Gieno yang melihat itu, menarik pelan botol air mineral itu dari tangan Mentari. Laki-laki itu membuka penutup botol itu dengan begitu santai. Setelahnya Gieno kembali menyodorkan botol itu kepada Mentari. "Terima kasih, Kak," ucap Mentari.
Mentari mengangkat botol itu dan mulai meminumnya secara perlahan. Namun, melihat Gieno yang masih memperhatikannya. Membuat Mentari hilang konsentrasi, sehingga gadis itu tersedak. "Uhuk … uhuk …."
Mentari terus terbatuk sampai membuat mata bulatnya memerah seakan ingin menangis. Gieno yang melihat itu sudah mendengus kecil sambil mendekat dan mengusap tengkuk Mentari. "Ceroboh," tutur Gieno.
'Habisnya kamu terus memperhatikan aku, aku kan jadinya salah tingkah. Ah, dadaku jadi sakit,' batin Mentari.
"Kenapa?" Mentari yang sedang menyentuh dadanya terkejut saat mendengar suara berat Gieno. Gadis itu menoleh dan menggeleng pelan.
"Dadamu sakit karena batuk?" tanya Gieno. Entah sadar atau tidak, sedari tadi Gieno adalah orang paling mendominasi dalam percakapan mereka. Laki-laki irit bicara itu tanpa sadar terus berbicara tanpa henti kepada Mentari.
"Sedikit, Kak. Tapi tidak apa-apa, kok," balas Mentari.
"Ya sudah, kalau begitu kau pergilah mandi. Setelah itu aku bersihkan luka kepalamu itu," kata Gieno.
Mentari kembali melirik pintu kamar mandi yang cukup jauh dari sana. Melihat wajah takut Mentari, Gieno menghela napas berat. "Biar aku temani, aku tunggu di depan pintu. Cepatlah, aku masih ada urusan," ujar Gieno.
__ADS_1
Mentari yang merasa segan karena selalu menghambat pergerakan Gieno, akhirnya gadis itu bergerak. Dengan terpaksa gadis itu harus memberanikan diri kali ini. "Baiklah, kalau setan itu muncul. Kamu tinggal berteriak, kan Kak Gieno iblis gila. Mereka pasti takut," gumam Mentari.
Sedangkan Gieno yang berada di belakang gadis itu sudah mengulum bibir mendengar kalimat bodoh Mentari. 'Gadis ini benar-benar membuat aku gila,' batin Gieno.