Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
91. Telur Gulung


__ADS_3

Mentari terus mengikuti langkah kaki dua laki-laki di depannya. Sedangkan dua laki-laki itu nampak berjalan kaku karena Mentari berjalan di belakang mereka. Namun, jika mereka menyuruh Mentari untuk berjalan lebih dulu. Maka mereka juga akan serba salah sebab penampilan Mentari saat ini sangat tidak baik untuk mata.


"Permisi, Tuan." Suara salah satu laki-laki yang bersama Mentari mengalihkan perhatian tiga laki-laki yang nampak sedang fokus melihat layar laptop.


Tiga mata laki-laki itu melotot saat melihat sosok Mentari. Hal yang membuat mereka terkejut adalah penampilan Mentari yang masih seperti pertama kali mereka lihat. "Kalau Gieno tahu, pasti sudah marah dia sekarang," celetuk Petrik.


Sedangkan Mentari nampak menunduk tidak berani menatap wajah tiga laki-laki dihadapannya. "Ekhm … silakan duduk, Mentari," tutur Rangga.


Mentari mendongak menatap Rangga dengan jari tangan saling bertautan merasa gugup. "Apa bisa aku pergi ke tempat Kak Gieno?" tanya Mentari dengan suara pelannya.


Tiga laki-laki itu saling tatap nampak terkejut. "Maaf, kalau untuk itu sepertinya tidak bisa. Gieno tidak mengizinkan itu," jelas Rangga.


Mentari menunduk lesu mendengar jawaban Rangga. "Kau di sini saja, dan pakai ini. Gieno bisa marah kalau dia melihat kau keluar kamar dengan penampilan seperti ini." Petrik bersuara sambil memberikan sebuah jaket kepada Mentari.

__ADS_1


Mentari menyahut jaket itu dengan wajah sedikit ragu. "Duduklah, kau bisa menunggu Gieno di sini. Atau kau ingin kembali tidur?" ucap Rangga.


Mentari menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku di sini saja." Mentari menyahut sambil duduk di ujung sofa.


Tiga laki-laki itu menoleh serentak ke arah Mentari yang sedang duduk di ujung sofa. Setelahnya Rangga dan Petrik tertawa kecil. "Kenapa kau duduk terlalu ke ujung seperti itu? Duduk saja di tengahnya, kami tidak akan menyakitimu. Kau malah bisa terjatuh kalau seperti itu," ujar Rangga.


Mentari menoleh ke arah Rangga dan tersenyum kaku. Setelahnya gadis itu menggeser tubuhnya duduk di tengah sofa luas itu. "Pantas saja Gieno tenang, gadis itu begitu patuh," bisik Petrik kepada Rangga dan Melvin.


Rangga mengangguk sambil menatap Mentari yang nampak diam. "Kau, ambilkan laptop itu dan berikan kepada Mentari."


Mentari meraih laptop yang disodorkan kepadanya dengan gerakan ragu dan bingung. Dia bingung ingin melakukan apa dengan laptop itu. "Kau pakailah laptop itu sambil menunggu Gieno. Aku tahu kau akan merasa bosan, kau bisa melakukan apa saja dengan laptop itu," jelas Rangga.


Mentari mengangguk pelan merasa paham dengan maksud Rangga. "Terima kasih," ucap Mentari.

__ADS_1


Setelahnya gadis itu mulai sibuk dengan laptop itu. Begitu pula dengan tiga inti Zero yang kembali sibuk dengan pertempuran di layar laptop milik Malvin. "Maaf, Kak."


Suara lembut Mentari kembali mengambil alih perhatian tiga laki-laki itu. Mentari meringis kala melihat tiga laki-laki itu menatap ke arahnya. "Itu, apa aku boleh membuka film?" tanya Mentari pelan.


Rangga dan Petrik nampak mengulum bibir merasa sedikit terhibur dengan sifat Mentari. "Silakan, apa pun yang ingin kau lakukan, lakukan saja. Tidak perlu meminta izin," balas Rangga.


"Oh, kalau aku menonton sambil makan boleh?" tanya Mentari lagi.


Rangga dan Petrik tiba-tiba mengalihkan mata mereka saat melihat mata berbinar milik Mentari. Mereka hanya takut ikut jatuh kepada gadis polos itu, bisa bahaya jika itu terjadi. "Iya, kau ingin makan apa? Katakan saja, biar aku pesankan," sahut Rangga.


"Itu, aku ingin makan telur gulung," cetus Mentari.


Kening tiga laki-laki yang berada di sana nampak berkerut bingung. "Ekhm … bukannya itu makanan anak kecil?" tanya Petrik.

__ADS_1


"Hah? Mana ada begitu, aku juga boleh memakannya kok," balas Mentari nampak tidak terima.


"O-oh, baiklah. Aku pesankan," sahut Rangga mengalah.


__ADS_2