Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
67. Video


__ADS_3

"Kamu ke mana saja selama satu minggu ini? Kenapa tidak bisa aku hubungi?" tanya Naraya.


"Ada urusan," balas Gieno singkat.


Naraya mengangguk singkat, meski sebenarnya hati kecilnya merasa kurang puas dengan jawaban singkat laki-laki itu. Naraya ingin Gieno menjelaskan kepadanya ke mana saja laki-laki itu pergi. Naraya juga berharap Gieno memberikan sebuah bujukan karena Gieno sudah mengabaikannya selama satu minggu ini.


"Hari ini bagiamana kalau kita main ke Mall. Toko baju langganan aku sedang kedatangan style baru. Kamu bisa menemaniku?" ajak Naraya.


Gieno menatap jam tangannya sekilas, setelahnya laki-laki itu kembali menoleh ke arah Naraya. "Baiklah," balas Gieno.


Naraya menjerit kesenangan, wanita itu dengan cepat meraih lengan kekar Gieno dan memeluk lengan dambaannya itu dengan erat. Gieno hanya diam tidak melarang apa yang dilakukan oleh Naraya. Iblis gila itu malah menyeringai iblis ke arah seorang laki-laki yang sedang memegang kamera.


Bruk …. Laki-laki yang sedang memegang kamera itu terkejut sehingga dia tidak sengaja menjatuhkan kamera di tangannya. Dengan gerakan cepat, laki-laki itu melarikan diri dari jangkauan Gieno. Gieno membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja. Iblis gila itu tahu, jika laki-laki itu adalah suruhan dari keluarga Barka. Gieno jelas saja memanfaafkan itu semua. Biarkan keluarga Barka itu tahu dan semakin was-was dengan kedekatannya dan Naraya.


'Bagus, semakin mereka mencari tahu. Maka semakin akan aku buat mereka hidup dalam ketakutan,' batin Gieno licik.


"Kak, ayo. Aku sudah tidak sabar ingin memilih baju baru," ucap Naraya. 'Lebih tepatnya berjalan-jalan dengan kamu,' sambung Naraya di dalam hati.

__ADS_1


...*****...


Grep …. Heiki memegang erat telepon genggam yang berada di tangannya. Melihat itu membuat Nayry yang sedang berada di samping sang suami mengernyit bingung. "Kenapa, Mas?" tanya Nayry.


Abraham ikut menoleh saat mendengar suara Nayry. Laki-laki tua itu menatap wajah pucat Heiki. "Kenapa kamu?" tanya Abraham.


"Naraya semakin dekat dengan iblis gila itu, apa yang harus kita lakukan?" ucap Heiki cemas.


Nayry yang mendengar perkataan sang suami merasa terkejut. "Apa ada laporan baru?" tanya Abraham.


Tanpa menyahut, Heiki memberikan telepon genggamnya kepada Abraham. Laki-laki tua itu meraih ponsel itu dan mulai memperhatikan layar benda pintar itu. Rahang Abraham mengeras melihat bagaimana berusahanya Naraya untuk mencari perhatian Gieno.


"Kita harus bagaimana, Mas? Ini tidak bisa dibiarkan, Naraya bisa terluka nantinya. Gieno sangat jelas mempermainkan Naraya di sini," papar Nayry cemas.


"Aku juga sedang mencari cara, Naraya keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan perkataan kita. Jadi kita harus mencari cara lain," tutur Heiki.


...*****...

__ADS_1


"Jadi Kak Gieno akan pulang malam?" tanya Mentari.


"Begitulah, Nona," balas seorang laki-laki.


Mentari menghela napas pelan mendengar jawaban laki-laki itu. "Aku kirim pesan saja, aku takut mengganggunya. Sepertinya dia sibuk," gumam Mentari.


Gadis itu mengambil ponselnya dan mulai aktif dengan benda persegi panjang itu. Beberapa menit Mentari menunggu balasan pesan, tetapi tidak didapatkannya. Gadis itu kembali menghela napas melihat pesannya bahkan belum dibaca laki-laki itu. "Sepertinya dia memang sangat sibuk, sampai tidak sempat melihat pesan. Aku pergi saja, lagi pula aku kan sudah izin dan aku juga tidak akan kabur," ucap Mentari.


"Pak, tolong antarkan saya kesuatu tempat, ya," pinta Mentari kepada laki-laki paruh baya dihadapannya.


"Tapi apa Anda sudah meminta izin kepada Tuan De Larga, Nona?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Sudah, aku tidak akan lama," sahut Mentari.


Nampak raut ragu di wajah laki-laki paruh baya itu. Mentari mengerti jika dia tidak ingin mendapat masalah. Berurusan dengan Gieno jelas saja bukan hal biasa bagi manusia biasa seperti mereka. "Ya sudah, saya pergi sendiri saja. Saya mengerti pasti Bapak takut terkena masalah kan?" sambung Mentari.


"Eh, jangan Nona. Itu malah akan semakin membuat saya terkena masalah. Ayo saya antarkan, Nona." Laki-laki paruh baya itu membukakan pintu penumpang untuk Mentari.

__ADS_1


Mentari tersenyum tipis melihat itu semua. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan lama kok," papar Mentari.


__ADS_2