
Mentari terkejut saat dengan tiba-tiba tubuhnya kembali melayang dan berada di dalam gendongan Gieno. Gadis itu menatap Gieno yang masih terlihat datar. "Aku bisa berjalan sendiri Kak, hanya bajuku yang kotor … kakiku masih bisa digunakan," papar Mentari.
"Kau harus bertanggung jawab dulu dengan semua yang sudah kau lakukan sedari tadi kepadaku."
Kening mentari berkerut tidak mengerti maksud dari perkataan Gieno. "Maksud Kakak apa? Memangnya aku melakukan apa?" tanya Mentari tidak mengerti.
'Sedari tadi kau membuat pikiranku tidak tenang dengan wajah polos yang selalu mampu menghipnotisku. Kau bahkan membuatku ingin segera kamu di tempat. Setidaknya aku masih waras untuk melihat tempat ramai seperti itu. Sekarang aku kurung kau,' tutur Gieno di dalam hati.
Mentari masih menunggu jawaban Geno dengan menatap wajah datar itu yang nampak tidak bereaksi. "Kak," panggil Mentari lagi.
Gieno tersadar saat suara Mentari menarik paksa dirinya yang sedang berada di alam liarnya. Laki-laki itu menunduk menatap mata bulat Mentari yang saat ini selalu menjadi candu baginya. "Intinya kau bersih-bersih dulu dan isi perutmu. Setelah itu aku akan menghukummu karena kau berani keluar dari mansion tanpa mengajakku," kata Gieno datar.
"Jadi kalau aku ingin keluar aku harus mengajak kakak dulu, begitu?" tanya Mentari.
"Hemm" deham Gieno.
Mentari terkejut saat dengan tiba-tiba Gieno menurunkan tubuhnya. Mata gadis itu mengedar dan terkejut saat menyadari ternyata mereka sudah berada di dalam kamar mandi, kamar utama milik Gieno. "Mandi setelah itu makan," titah Gieno.
.
__ADS_1
.
.
"Kau sudah melakukan semuanya yang aku perintahkan?"
"Sudah, aku sudah mengirimkan semuanya ke rumah Kakek terus cintamu itu."
"Bagus, kau membuatnya seperti apa?"
"Seperti yang kau inginkan, bukankah kau ingin aku mengirimkan kepala dan jari-jari tangannya?"
"Terus akan kau apakan wanita itu?"
Gino kembali menyeringai memperlihatkan senyum menyeramkan itu titik senyum khas sang iblis gila yang mampu membuat aura mencekam hadir di sekitarnya. "Dia sudah berada di dalam genggamanku. Sebentar lagi aku akan merenggut hal yang paling berharga bagi dirinya. Setelah itu … akan aku lepaskan dia. Aku yakin, dengan keterpurukan keturunan tunggal Barka, akan lebih menyakitkan dari jatuhnya perusahaan Barka."
Yezo terkejut mendengar perkataan Gieno. "Apa maksudmu … melakukan itu?" tanya Yezo ragu.
Gino tersenyum miring mendengar pertanyaan Yezo. "Menurutmu apa lagi?"
__ADS_1
Mata Yezo membola mendengar jawaban Gieno. "Apa kau sudah gila? Bagaimanapun dia adalah sepupumu," tutur Yezo tidak habis pikir.
Gieno terkekeh mendengar perkataan Yezo. "Sudah aku katakan mereka bukan keluargaku," desis Gieno. Setelah mengucapkan itu Gieno mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Kak." Gieno menoleh ke arah pintu kamar mandi. Kening laki-laki itu berkerut saat melihat kepala Mentari terlihat di balik pintu kamar mandi itu.
"Itu, anu ... aku tidak membawa baju," cicit Mentari.
Geino yang mendengarkan itu tersenyum miring ke arah Mentari. Sedangkan Mentari yang lihat senyum miring yang begitu menyeramkan itu, sudah bergidik ngeri. Mentari melotot saat melihat Gieno berjalan mendekat ke arahnya. Yang semakin membuat gadis itu melotot adalah tubuh polos Gieno yang saat ini sedang tidak memakai baju.
"Eh, em … aku sedang tidak memakai baju, Kak. Mindurlah," cetus Mentari panik.
Sedangkan Gieno sudah terkekeh kecil saat mendengar kalimat panik Mentari. Laki-laki itu malah semakin senang untuk menjahili Mentari yang begitu terlihat gugup. "Terus kalau kau tidak pakai baju memangnya kenapa?" Gieno menaikkan sebelah alisnya menatap Mentari dengan senyum miring.
"Itu, nanti Kakak melihat hal yang tidak seharusnya Kakak lihat."
"Memangnya apa yang tidak boleh aku lihat?" Gieno kembali tersenyum miring saat melihat wajah bingung mentari. Sedangkan mentari saat ini sedang berperang di dalam pikirannya merasa bingung harus menjawab pertanyaan Gieno seperti apa.
"Kakak tidak boleh melihat tubuhku saat aku tidak memakai baju," ucap Mentari polos.
__ADS_1
"Begitukah? Tapi kenapa kau masih melihat tubuhku? Aku kan juga sedang tidak memakai baju."