
"Dia siapa, Pa?" bisik seorang wanita muda kepada ayahnya.
"Tuan De Larga," sahut laki-laki paruh baya.
"Hai Tuan Laksa Jordi," sapa Gieno datar.
'Tampan sekali, aku tidak menyangka pemilik De Larga Company adalah laki-laki setampan dia,' batin wanita yang berada di samping Laksa Jordi.
"Suatu kehormatan bagiku, Anda berkunjung ke sini," tutur Laksa.
Gieno tersenyum miring, laki-laki itu melirik wanita di samping Laksa. Wanita yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan mendamba. "Apa dia putrimu?" tanya Gieno.
Laksa ikut menoleh ke samping dan melihat wajah berbinar milik putrinya. "Ya, perkenalkan dia putri saya, Leina Jordi."
Gieno mengangguk singkat sambil menatap Leina dengan pandangan tidak dapat diartikan. "Mari, Tuan De Larga. Saya sudah menyiapkan jamuan istimewa untuk Anda," sambung Laksa.
"Terima kasih," sahut Gieno.
...*****...
Mentari yang merasakan kesulitan tidur, mencoba menggapai telepon genggamnya. "Di sini sudah malam, aku rasa di sana pasti masih siang," gumam Mentari.
__ADS_1
Mentari mengotak-atik benda pintar itu, kemudian menghubungi Gieno. Dia sangat merasa kesulitan untuk tidur beberapa hari ini. Lama sambungan telepon itu menunggu sebelum diangkat Gieno didetik-detik terakhir. "Halo, Kak," sapa Mentari lembut.
"Yah … ah, ada apah?"
Kening Mentari berkerut saat mendengar suara Gieno yang terdengar aneh. "Kakak kenapa?" tanya Mentari polos.
"Ahh … kenapa kau meneleponku? Ah shh …." Mata Mentari membola saat otaknya mulai bisa menerka apa yang sedang dilakukan oleh Gieno di seberang telepon.
"Ouhh … faster Baby." Mentari menekan dadanya saat mendengar desah suara wanita di seberang telepon.
"Maaf aku mengganggu." Setelah mengucapkan kalimat pelan itu, Mentari mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
Gadis malang, dikurung oleh sang casanova seharusnya tidak membuat Mentari ikut jatuh. Namun, sayangnya gadis itu kini malah jatuh dan begitu terbiasa dengan Gieno. Laki-laki iblis, yang bertindak apa pun tanpa memikirkan perasaan orang lain. "Kenapa aku harus seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?" Mentari bergumam di sela isak tangisnya.
Tangis kesedihan dan perih hati yang begitu pilu di malam hari itu. Mendengar desah kenikmatan laki-laki yang mulai menjadi raja di hatinya. Sayangnya, ******* itu bukan ulahnya melainkan ulah wanita lain. Mentari yang tadinya begitu kesulitan untuk tidur, sekarang sudah tertidur karena kelelahan menangis. Bisa dipastikan, pagi nanti mata gadis itu akan membengkak.
...*****...
"Pergi," usir Gieno.
"Tuan De Larga, apa Anda sudah memiliki kekasih?" tanya Leina.
__ADS_1
"Urusan kita sudah selesai, kau silakan pergi dari sini. Aku sibuk." Gieno menarik resleting celananya dan mulai memasang baju yang tadi sempat terbuka.
"Tidak usah jual mahal seperti itu, Tuan. Aku tahu kamu pasti begitu menikmati permainan kita tadi bukan? Aku bersedia jika kamu menginginkannya lagi," tutur Leina dengan nada menjijikkan.
"Menikmati? Aku memang selalu menikmati permainan tubuh ini. Bahkan aku bisa bermain enam kali di dalam satu hari. Tapi, aku tidak pernah meniduri wanita yang sama untuk kedua kalinya. Jadi pasang bajumu dan segera pergi dari sini," tutur Gieno dingin.
Leina tersenyum manis ke arah Gieno. "Itu kalau wanita ja***g bayaranmu. Tapi aku kan beda," balas Leina.
Gieno tersenyum miring. "Ya, kau memang beda. Kau bahkan lebih rendah dari wanita ja***g bayaranku, kenapa? Karena kau bahkan tidak aku bayar," hina Gieno.
Mata Leina melotot terkejut mendengar kalimat kasar dari mulut Gieno. "Apa maksud kamu?" tanya Leina.
"Cepat pasang baju dan keluar dari sini. Mengadulah kepada ayahmu itu, supaya aku bisa segera memulai permainan." Gieno tersenyum miring.
"Kau?" murka Leina.
"Kau itu hanya umpanku, tapi tubuhmu lumayan juga," hina Gieno.
"Laki-laki brengsek!" teriak Leina.
"Aku bahkan lebih dari itu, panggil aku iblis gila. Itu julukanku." Gieno tersenyum remeh ke arah Leina.
__ADS_1