Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
26. Kekasih


__ADS_3

Gieno berjalan gagah ke arah mansionnya. Baru saja laki-laki itu sampai di ruangan tamu, keningnya berkerut saat melihat Mentari sedang duduk dengan seorang wanita seksi di atas sofa. Laki-laki itu dapat menangkap aura tidak mengenakkan dari dua perempuan itu. Sangat nampak terlihat dari tatapan mata mereka berdua.


Gieno terus berjalan mendekat, sampai wanita seksi itu menyadari kedatangannya. "Tuan De Larga." Wanita seksi itu berdiri sambil tersenyum manis ke arah Gieno.


Gieno mengernyit menatap wanita itu. "Aku adalah wanita yang hari ini akan melayani Anda, Tuan," sambung wanita seksi lembut.


Gieno baru ingat kalau setiap hari akan ada wanita yang berbeda akan datang ke mansionnya. Namun, mungkin karena lumayan sibuk di kantor tadi, Gieno melupakan itu. "Kalau begitu saya permisi." Mentari berdiri dari duduknya dengan muka masam.


Wanita seksi itu menatap sinis ke arah Mentari. "Sudah saya katakan kalau saya adalah wanita yang terpilih hari ini. Lagi pula kau tidak lihat penampilanmu itu? Mana mungkin Tuan De Larga akan tergoda," ejek wanita itu.


Mentari menatap tajam wanita seksi itu. "Astaga, apa masih banyak wanita sepertimu? Kau seharusnya yang berkaca, sok kecantikan. Bangga sekali kau menjual tubuh. Dasar lo**e."


Sebelum pergi dari ruangan tamu, Mentari menyempatkan menginjak kaki wanita itu keras. "Akkh … wanita gila." Wanita seksi itu meringis kesakitan.

__ADS_1


Sedangkan Gieno yang sedari tadi diam sudah menyeringai melihat keberanian Mentari. 'Ternyata dia bukanlah perempuan lemah, bagus. Itu baru gadisku,' batin Gieno bangga.


"Ambil dan pergi." Gieno melemparkan sebuah cek ke arah wanita seksi yang masih meringis.


Wanita itu terkejut sambil menatap bingung ke arah Gieno yang mulai melangkah. "Tapi, Tuan. Kita belum melakukan apa-apa," tutur wanita itu.


"Saya sedang tidak bernafsu," sahut Gieno.


"Pergi sebelum kau tidak bisa kembali," desis Gieno.


Wanita seksi itu terkejut, dengan gerakan ragu wanita itu memungut cek di bawah kakinya dan berjalan ke area luar mansion. 'Sial sekali aku. Kalau boleh memilih, lebih baik aku tidur dengan Tuan De Larga tanpa dibayar. Dari pada tidak dapat menyetuhnya, tapi mendapat cek sebesar ini,' batin wanita seksi itu kesal.


...*****...

__ADS_1


Gieno membuka pintu kamar Mentari dan mengedar melihat keberadaan gadis itu. Namun, Gieno tidak menemukan orang yang dicarinya. Laki-laki itu menebak Mentari mungkin sedang di kamar mandi. Terdengar gemericik air dari ruangan itu. Sambil menunggu Mentari selesai, Gieno memilih berbaring di atas ranjang kamar yang dihuni Mentari.


Tring … tring … tring …


Laki-laki itu menoleh saat mendengar nada dering telepon genggam yang tidak biasa. Itu adalah telepon genggam milik Mentari. Kening Gieno berkerut saat melihat nama seorang laki-laki bertengger di layar ponselnya itu. Dengan lancangnya Gieno mengangkat panggilan telepon itu. "Halo, Men. Aku dengar kamu mendaftar kuliah onlie, kenapa begitu? Apa terjadi sesuatu?" ucap laki-laki di seberang telepon.


"Bukan urusanmu," sahut Gieno dingin.


Jelas saja suara Gieno sukses membuat lawan bicaranya terkejut. "Loh, ini nomor kontak Mentari kan? Benar, aku tidak salah sambung … tapi siapa kamu?" tanya laki-laki itu bingung.


"Jangan ganggu kekasihku lagi, jika kau masih ingin hidup lama." Setelah mengatakan itu, Gieno menutup teleponnya dan memblokir nomor kontak laki-laki itu dari ponsel Mentari.


"Apa dia Kak Eno yang dimaksud gadis itu? Tapi, di sini namanya Johan," gumam Gieno.

__ADS_1


__ADS_2