Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
77. Berdarah


__ADS_3

"Mentari," bisik Gieno lagi.


"Enghh …." Mentari melenguh kecil saat merasakan sentuhan tangan kekar Gieno di pipi lembutnya. Secara perlahan wanita itu membuka matanya dan melihat wajah tampan Gieno.


"Ada apa, Kak?" tanya Mentari dengan suara seraknya.


"Kau belum makan," ucap Gieno. Kangen laki-laki itu masih bermain di rambut mentari. Laki-laki itu nampak mulai terbiasa dengan keberadaan Mentari sudah di sampingnya.


Sedangkan Mentari yang mendapat perlakuan manis seperti itu dari Gieno, menjadi bingung sendiri. Jika ditanya masalah senang atau tidak, jelas saja hati gadis itu merasa sangat senang. Mentari akui jika hati dan perasaannya saat ini sudah dipenuhi dengan nama Gieno.


Namun, mengingat bagaimana sifat Gieno. Membuat Mentari dengan cepat menyadarkan dirinya sendiri. Gadis itu tidak ingin semakin jatuh dan larut ke dalam perasaan yang menurutnya salah. Secara perlahan Mentari mendongak menatap wajah tampan Gieno. Mata bulat itu mencoba memberanikan menatap mata tajam iblis gila di dekatnya itu.


Sedangkan Gieno sempat terkejut melihat Mentari berani menatap mata tajamnya. Gerakan tangan laki-laki itu di rambut mentari terhenti merasa dadanya bergemuruh hebat di dalam sana. Tanpa aba-aba laki-laki itu menarik tengkuk Mentari dan mencium bibir gadis itu tidak sabaran.

__ADS_1


Sedangkan Mentari yang terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari Gieno meringis kecil kala bibirnya terasa perih. Mendengar suara ringisan Mentari, membuat Gieno tersadar dari aksinya. Laki-laki itu menatap wajah Mentari dan terkejut saat melihat bibir bawah gadis itu terlihat mengeluarkan darah. 'Astaga, aku menyakitinya,' batin Gieno merasa bersalah.


"Maaf," celetuk Gieno.


Mentari mendengar kalimat maaf itu jelas saja begitu terkejut. Seorang Casanova yang begitu angkuh mengucapkan kalimat maaf kepadanya. Mata bulat itu mengerjap bingung, masih merasa tidak percaya dengan pendengarannya. Sedangkan Gieno yang melihat itu, dengan segera mengalihkan pandangannya tidak ingin kembali lepas kendali.


Gieno bangun dari tidurnya dan secara perlahan mengangkat tubuh Mentari yang masih berbalut handuk. Laki-laki itu membawa tubuh kecil Mentari ke dalam walk in closet. "Cepatlah pakai bajumu, aku tunggu di luar. Kita akan makan malam," tutur Gieno.


Setelah mengucapkan itu Gino pergi dari ruangan walk-in closet meninggalkan mentari yang masih terlihat bingung dan terkejut. 'Kenapa dia semakin manis saja? Kalau seperti ini, aku semakin tidak bisa melupakannya,' batin Mentari.


Brak …. Nayry terkejut saat mendengar suara benda dibanting cukup keras. Wanita paruh baya itu bergegas ke arah ruangan tamu dan terkejut melihat keberadaan Naraya sedang duduk di sofa tamu. Nayry mendekat ke arah sang putri yang terlihat sedang kesal. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nayry.


Naraya menoleh saat mendengar suara wanita paruh baya itu. Sebelum menyahut, Naraya menyempatkan menghela napas panjang. "Aku sedang kesal, Ma," tutur Naraya.

__ADS_1


Kening Nayry berkerut mendengar kalimat Naraya. "Kesal karena apa, Sayang?" tanya Nayry lagi.


"Tadi aku pergi jalan-jalan dengan Kak Gieno. Aku sudah begitu senang tadinya, tapi semua itu hilang saat gadis itu datang dan mengacaukan segalanya," ucap Naraya kesal.


Nayry yang mendengar kalimat putrinya tentu saja merasa terkejut. Mengetahui sang putri ternyata baru saja berjalan dengan musuh utama keluarga Barka. "Jadi tadi kamu berjalan dengan Tuan De Larga?" tanya Nayry memastikan.


"Iya dia sudah begitu jinak kepadaku tadi. Dia bahkan menuruti seluruh keinginanku. Tapi semuanya berubah saat seorang gadis datang dan menghancurkan segalanya. Karena kak Gina sepertinya begitu memanjakannya. Bahkan aku ditinggalkan di mall sendirian oleh kak Gino. Dia pergi bersama gadis itu dan meninggalkan aku sendiri. Akhirnya aku pulang naik taksi tetapi taksi yang aku tumpangi malah mogok di jalan. Benar-benar sial nasibku hari ini."


Naraya menceritakan semua kejadian yang dialaminya hari ini dengan tampang begitu kesal. Sedangkan Nayry yang mendengar itu ada perasaan lega di dalam hatinya. 'Semoga saja dengan ini kamu bisa semakin menjauh dari laki-laki itu,' batin Nayry.


"Mungkin saja dia kekasihnya, Sayang. Lebih baik kamu mundur saja. Tidak baik masuk ke dalam hubungan orang lain," tutur Nayry.


Naraya yang mendengar kalimatnya Nary, tentu saja menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan protes. "Tidak, Ma. Aku tidak akan mundur, lagi pula Kak Gieno juga tidak mengatakan kalau dia itu kekasihnya. Dibandingkan dengan gadis itu, aku jauh lebih cantik. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja di mataku dan gayanya juga sangat biasa-biasa saja," balas Naraya angkuh.

__ADS_1


Nayry yang mendengar itu hanya bisa menghela napas berat. Sifat keras kepala Naraya cukup memusingkan mereka untuk menegur putri tunggal mereka itu. "Mama hanya tidak mau jika nanti kamu semakin sakit hati, Sayang," pungkas Nayry.


"Tidak, Mama tenang saja. Aku pasti bisa mendapatkan Kak Gieno," ucap Naraya percaya diri.


__ADS_2