
"Mana Dokter?" Tiga laki-laki yang sedang berada di ruangan tengah markas itu terkejut, saat mendengar teriakan Gieno.
"Kenapa? Katanya hanya luka sedikit," ucap Rangga.
"Badannya panas, mana Dokternya?" tidur Gieno tidak sabar.
"Sabarlah, dia sedang di jalan. Sekitar sepuluh menit lagi dia sampai," balas Petrik.
"Lama," desis Gieno.
Rangga, Melvin dan Petrik saling tatap mendengar kalimat Gieno yang yang tampak menahan marah. Wajah laki-laki itu nampak memerah, sambil sesekali melihat wajah pucat Mentari. Sekolahnya tiga laki-laki itu tersenyum tipis. "Sebenarnya kenapa badannya bisa sampai panas seperti itu?" tanya Rangga.
"Aku juga tidak tahu, saat aku akan membawanya masuk ke sini. Aku merasakan tubuhnya panas, kira-kira kenapa?" balas Gieno balik bertanya.
Kening Rangga tampak berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu. "Apa mungkin terkejut dan terlalu takut karena aksi tadi?" kata Rangga.
Gieno yang mendengar perkataan Rangga, menoleh menatap wajah pucat Mentari. 'Apa benar begitu?' batin Gieno.
"Permisi." Suara seseorang mengalihkan perhatian tempat laki-laki yang berada di sana.
Kening Gieno berkerut melihat seorang laki-laki muda, sedang berdiri dengan jas putihnya. Gieno jelas tahu siapa laki-laki itu. Dia adalah dokter khusus untuk anggota Zero. "Kau memanggil dia?" tanya Gieno kepada Rangga.
"Iya, kenapa?" sahut Rangga.
__ADS_1
"Kenapa dia?" tanya Gieno lagi.
Mendengar kalimat Gieno, membuat Rangga bingung. "Terus siapa? Biasanya kan emang dia yang selalu ke sini," ujar Rangga.
"Tapi ini Mentari, dia perempuan," papar Gieno.
Mendengar kalimat itu, tentu saja membuat tiga laki-laki yang berada di sana semakin terlihat bingung. "Terus kalau dia perempuan kenapa? Bukankah itu biasa? Mentari kan tidak hamil, jadi tidak harus ditangani Dokter khusus," balas Petrik.
Beberapa detik terdiam, Rangga tersenyum tipis merasa mengerti dengan pikiran Gieno saat ini. "Apa kau tidak ingin jika Dokter ini menyentuh Mentari?" tebak Rangga.
"Ck, sudahlah. Cepat periksa dia, tapi jangan sentuh berlebihan. Sentuh area yang diperlukan saja," tekan Gieno.
"Baik, Tuan," sahut dokter laki-laki itu patuh.
Beberapa menit dokter laki-laki itu memeriksa tubuh Mentari, dengan begitu hati-hati. Dokter laki-laki itu masih merasa sayang dengan nyawanya. Dia tidak ingin mencari gara-gara ataupun masalah dengan sang iblis gila itu. "Bagaimana?" tanya Gieno tidak sabar.
"Nona ini sedang demam, Tuan. Saya rasa kemungkinan dia terlalu terkejut dan panik. Suhu tubuhnya akan segera turun sekitar satu jam lagi," ucap dokter laki-laki itu.
"Terus bagaimana dengan luka kepalanya?" tanya Gieno lagi.
"Lukanya tidak terlalu parah, Tuan. Tapi memang cukup perih, saya akan tinggalkan ini untuk obat pereda nyeri. Mungkin nanti bisa Tuan pasangkan pada lukanya," ungkap dokter itu.
"Terus sekarang dia sebenarnya tidur atau pingsan?" Gieno kembali bertanya.
__ADS_1
"Tuan tenang saja, Nona ini sedang tertidur," balas dokter itu.
"Baiklah." Tanpa aba-aba dan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Gieno mengambil obat yang baru saja diberikan dokter laki-laki itu. Setelahnya iblis gila itu meraih tubuh Mentari, dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Sahabat iblis gila itu, hanya bisa terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala mereka. "Sepertinya dia sudah jadi budak cinta," celetuk Petrik.
"Begitulah," sahut Rangga. "Terima kasih, Dok," sambung Rangga kepada dokter.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri," balas dokter.
Sedangkan Gieno saat ini, sedang membalikkan tubuh Mentari di atas ranjang luas itu. Laki-laki itu nampak begitu hati-hati, tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Mentari. "Ck, kenapa juga aku begitu repot dengan semua ini?" gerutu Gieno tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Kak." Gieno terkejut saat mendengar suara serak Mentari memanggil namanya. Laki-laki itu menoleh dan melihat mata Mentari sudah setengah terbuka.
"Kenapa bangun?" tanya Gieno.
"Haus," ucap Mentari pelan. Gadis itu bergerak berniat untuk duduk. Namun, baru saja kepala gadis itu sedikit menegak. Mentari sudah meringis merasakan kepalanya sedikit pusing.
"Shh." Gieno terkejut mendengar ringisan Mentari.
"Kenapa? Apa begitu sakit?" tanya Gieno nampak panik. Bukannya menyangkut, Mentari malah ternganga merasa terkejut dengan tanggapan laki-laki dihadapannya itu.
"Hei." Mentari terlonjak dan tersadar, saat Gieno memegang kedua pundaknya.
__ADS_1
"O-oh, aku tidak apa-apa, Kak. Tadi kepalaku hanya sedikit pusing," jelas Mentari.